WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (1)

Cerbung Agusni AH
PENGANTAR REDAKSI:
Sejak edisi ini Agusni AH menghadirkan Cerbung “Wajah Abah, Tangan Emak." Kisah yang bermula masa kanak-kanak di sebuah kampung pesisir dengan latar kehidupan sederhana yang sarat pergulatan sosial dan kemanusiaan. Melalui tokoh Alone, pembaca diajak menyelami masa kecil seorang anak yang “mencuri waktu” dari sekolah dan balai pengajian, bukan semata-mata karena kenakalan, melainkan karena kehidupan terlalu dini mempertemukannya dengan lapar, kehilangan, dan tanggung jawab.
Cerita ini mempertemukan dua dunia yang saling bertaut: laut sebagai bayangan wajah Abah yang hilang, dan tangan Emak sebagai simbol ketabahan, kasih sayang, serta perjuangan hidup di daratan. Dengan gaya bertutur lirih, puitis, dan kontemplatif, Agusni AH tidak hanya menghadirkan realitas keluarga pesisir, tetapi juga menyelipkan pertanyaan mendasar tentang masa kanak-kanak, kemiskinan, kehilangan, dan harapan.
“Wajah Abah, Tangan Emak” pada akhirnya adalah cerita tentang seorang anak yang mencari arti kehadiran seorang ayah, sembari perlahan memahami bahwa di balik tangan kasar seorang ibu, tersimpan seluruh kekuatan yang menjaga sebuah keluarga tetap bertahan. Dan laut—sebagaimana kehidupan—dapat memberi, tetapi juga sewaktu-waktu mengambil kembali apa yang dicintai manusia.(red).
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (1)
SEJAK usia dini, Alone mulai belajar mencuri. Diam-diam ia mencari celah ketika waktu belajar mengaji mulai lengah dalam pengawasan, ketika malam perlahan menurunkan gelapnya di kampung pesisir. Ia tidak mencuri uang, tidak pula mengambil barang milik siapa pun. Yang dicurinya adalah waktu—waktu yang seharusnya dipakai untuk mengeja huruf-huruf hijaiyah di balai pengajian, bersila takzim di hadapan teungku,¹ atau duduk menatap buku pelajaran. Namun, bagi Alone kecil, desiran angin laut dan suara ombak yang memanggil dari kejauhan selalu terdengar lebih nyaring daripada nasihat siapa pun. Tak terkecuali Teungku Dolah yang sabar membimbing anak-anak kampung mengenal kalam Tuhan. Tak ayal, ini pun menjadi keniscayaan buat Alone.
Malam-malam tertentu, ketika angin dari Selat Malaka berembus lebih dingin dan suara ombak seperti memanggil-manggil dari kejauhan, Alone tidak pernah benar-benar merasa tenang duduk di antara anak-anak lainnya.
“Alif…”
Suara anak-anak mengalun bersahut-sahutan.
“Ba…”
Namun, pikiran Alone telah lebih dahulu berjalan ke pantai. Di matanya, huruf-huruf hijaiyah yang tertera di papan kayu itu perlahan berubah menjadi kilauan air laut. Huruf-huruf itu seperti ombak yang datang dan pergi, mengapung di laut tak bertepi. Sementara di luar balai, malam terasa begitu luas. Selat Malaka membentang dalam gelap, menyimpan benur udang dan nener bandeng yang, bagi Alone, kadang lebih nyata daripada pelajaran yang sedang dibacakan. Takkala Teungku Dolah lengah menyimak bacaan anak-anak lain, Alone perlahan menggeser tubuhnya. Ia menunggu suara anak-anak lain meninggi. Menunggu perhatian Teungku Dolah fokus kepada seorang anak yang terbata-bata membaca. Lalu Alone menghilang.
Tak ada yang benar-benar mengetahui kapan kaki kecil itu meninggalkan balai pengajian. Tak terkecuali Cut Kak, kakak tertuanya setelah abangnya, Bang Ni sibuk memainkan lidi penunjuk huruf-huruf Qur'an.
Yang terdengar hanya lantai balai yang terbuat dari bambu berderit pelan, lalu sunyi. Ia berlari menembus jalan kampung.
Malam adalah kawannya. Angin laut adalah sahabatnya.
Dan pantai, entah sejak kapan, telah menjadi tempat yang lebih sering memanggilnya daripada halaman rumah sendiri. Di antara hempasan gelombang yang datang berulang-ulang, Alone mencari benur udang dan nener bandeng dengan menggunakan penangguk tradisional. Dengan tangan kecil, ia menyusuri tepian air. Kadang-kadang tubuhnya basah hingga ke dada. Kadang pasir melekat pada kaki dan celananya.
Namun ia tidak peduli.
Baginya, laut tidak pernah bertanya mengapa ia datang.
Laut hanya memberi kemungkinan.
Kadang kemungkinan itu berupa benur yang terjebak di genangan air surut atau mengapung mengikuti air pasang. Kadang berupa nener yang berenang kecil-kecil dalam cahaya lampu. Kadang pula tidak ada apa-apa selain dingin, gelap, dan tubuh yang menggigil. Tetapi Alone tetap datang. Ia seolah sedang belajar kepada laut bahwa tidak semua usaha segera berbuah. Bahwa seseorang terkadang harus pulang dengan tangan kosong, tanpa boleh kehilangan harapan. Barangkali, sejak kecil, tanpa seorang pun mengajarinya, Alone telah memahami bahwa harapan sering kali hanya dapat dipelihara oleh orang-orang yang tidak memiliki banyak pilihan. Alone hanya menjaga-jaga, kapan air laut pasang dan surut. Sementara itu, jauh di rumah kecil mereka, Emak menunggu. Lampu minyak menyala redup. Nasi yang disisakan di bawah tudung saji mulai dingin. Cut Kak dan Bang Ni ikut mencari, namun mereka telah memahami setiap Alone menghilang kemana harus mencari. Emak duduk seorang diri. Kadang ia memandang pintu. Kadang ia mendengarkan suara langkah di jalan. Kadang ia keluar ke halaman hanya untuk memastikan bahwa anak bungsunya belum juga pulang.
Ia tahu Alone seharusnya sedang mengaji.
Namun, seorang ibu sering kali memiliki pengetahuan yang tidak diajarkan oleh siapa pun. Hatinya kerap berbisik bahwa anak itu tidak berada di tempat yang semestinya.
“Ke mana lagi anak ini?” gumam Emak lirih.
Tetapi ia tidak segera marah.
Ia terlalu mengenal keadaan. Sejak Abah tidak lagi berada di rumah itu, banyak hal berubah. Rumah mereka masih berdiri, tetapi seolah ada sesuatu yang turut hilang dari dinding-dindingnya. Ada suara yang tidak lagi terdengar. Ada langkah yang tidak lagi pulang. Ada wajah yang tinggal dalam ingatan, tetapi tangan yang pernah mengangkat dan memeluk Alone tidak lagi dapat diraihnya. Sejak itu pula, Emak menjadi dua orang dalam satu tubuh. Ia menjadi Emak, sekaligus menjadi Abah. Tangannya memasak. Tangannya mencuci.
Tangannya mencari nafkah.
Tangannya mengusap kepala Alone ketika demam. Dan tangan yang sama pula yang kadang harus menahan air mata agar anak-anaknya tidak melihat betapa letihnya kehidupan. Namun, Emak tidak selalu berhasil menyembunyikan kelelahan. Ada malam-malam ketika Alone pulang dan mendapati ibunya tertidur sambil duduk. Ada wajah yang tampak lebih tua daripada usianya. Dan pada malam-malam seperti itu, Alone mulai memahami sesuatu yang belum mampu ia namai. Bahwa tangan Emak tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.
Mungkin karena itulah ia mulai mencuri waktu. Waktu sekolah.
Waktu mengaji.
Waktu bermain. Waktu tidur. Apa saja yang bisa dicurinya dari kehidupan, akan dicurinya untuk mencari sesuatu.
Bukan karena ia ingin menjadi nakal.
Bukan pula karena ia tidak mencintai pelajaran, apalagi mengaji. Itu adalah bekal hidup dan mati.
Walau ia terlalu kecil untuk memahami kemiskinan, tetapi cukup dewasa untuk merasakan lapar. Ia belum mengerti kata tanggung jawab, tetapi telah mengenal wajah Emak yang murung ketika tidak ada cukup uang di rumah. Ia belum memahami arti menjadi kepala keluarga, tetapi ia tahu rumah mereka seperti perahu kecil yang kehilangan seorang pendayung.
Dan barangkali, tanpa disadarinya, Alone ingin menjadi tubuh dan tangan tambahan bagi Emak. Hari Minggu dan hari-hari libur sekolah adalah hari yang paling dinantikan Alone.
Pagi-pagi sekali, sebelum matahari meninggi, ia telah berada di pantai.
Kadang ia ikut menarik jaring pukat bersama anak-anak seusianya.
Tangan-tangan kecil itu menarik tali. Pelan. Berat. Berkali-kali. Jaring dari laut selalu membawa sesuatu harapan. Kadang ikan. Kadang udang.
Kadang sampah yang hanyut dari tempat jauh. Kadang hanya harapan yang tersangkut di antara mata jaring. Anak-anak tertawa ketika tangkapan banyak. Mereka saling menggoda ketika jaring hanya membawa sedikit hasil. Namun, Alone lebih sering diam.
Ia memperhatikan laut. Laut baginya bukan sekadar hamparan air. Di sana ada sesuatu yang membentang, tak jarang pikirannya melayang mengingatkannya kepada Abah. Sesuatu yang tidak dapat ia jelaskan. Setiap kali angin bertiup dari arah laut, Alone merasa seperti sedang mendengar suara yang sangat jauh. Seolah seseorang sedang memanggil namanya dari balik cakrawala.
“Alone…”
Ia menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Hanya burung-burung camar yang terbang rendah. Hanya ombak. Hanya langit yang seakan tidak pernah selesai menyimpan rahasia.
“Kenapa kau diam saja?” tanya seorang kawannya.
Alone tidak segera menjawab.
Matanya masih menatap laut.
“Tidak apa-apa.”
Padahal ada banyak hal yang sebenarnya menggelayut di pikirannya, bertengger di benak otak kepalanya yang usianya masih sepuluh tahun. Tetapi juga tidak sanggup diceritakan kepada siapa pun.
Di rumah, Emak berulang kali mencoba menahannya.
“Belajarlah yang benar, Nak. Mengajimu jangan ditinggalkan.”
Alone menunduk.
“Alone mengaji, Mak.”
“Mengaji, tapi menghilang.”
Anak itu terdiam.
Emak tahu.
Teungku Dolah pernah datang memberi tahu. Tidak dengan kemarahan, melainkan dengan senyum yang menyimpan kekhawatiran.
“Anakmu itu cepat sekali kakinya, Teeh,²” kata Teungku Dolah suatu hari.
Emak menghela napas.
“Cepat ke mana, Teungku?”
“Ke laut, sepertinya.”
Sejenak mereka terdiam.
Emak memahami apa yang dimaksud.
Namun ia juga memahami sesuatu yang lebih menyakitkan: ia tidak sepenuhnya mampu menyalahkan anaknya.
Bagaimana ia dapat menahan Alone sepenuhnya di rumah, sementara kehidupan sendiri tidak pernah memberi mereka cukup ruang untuk memilih?
Setiap waktu yang dicuri Alone dari sekolah atau mengaji, pada akhirnya selalu kembali ke rumah dalam bentuk yang sederhana.
Sejumlah benur, beberapa nener. Seekor ikan kecil. Atau uang yang tidak seberapa.
Namun, bagi Emak, semua itu adalah pertanyaan yang lebih besar daripada nilainya.
Dari mana anak sekecil itu belajar memikirkan kebutuhan? Dari mana ia belajar bahwa kehidupan kadang tidak memberi pilihan kepada orang-orang kecil Suatu malam, Alone pulang ketika jarum waktu telah melewati tengah malam. Tubuhnya basah. Kakinya penuh pasir. Di tangannya tergenggam sebuah wadah kecil. Emak masih terjaga. Ia berdiri di ambang pintu. Cut Kak dan Bang Ni sudah tertidur karena kelelahan, dan sudah larut malam. Alone berhenti. Sejenak, keduanya hanya saling memandang. “Dari mengaji?” tanya Emak.
Alone menunduk.
Tidak ada jawaban. Dari wadah kecil itu terdengar gerakan-gerakan halus. Benur. Emak memejamkan mata. Entah marah. Entah sedih. Entah ingin memeluknya terlalu erat. Akhirnya ia mendekati anaknya. Tangannya yang kasar menyentuh kepala Alone.
“Kenapa kau selalu ke laut, Nak?”
Alone mengangkat wajah.
Mata kecil itu tampak letih.
“Supaya Emak tidak terlalu capek.”
Kalimat itu sederhana.
Terlalu sederhana untuk membuat Emak tak mampu menjawabnya.
Tangannya terhenti di kepala Alone. Untuk beberapa saat, Emak hanya memandang wajah anaknya.
Di dalam wajah itu, entah mengapa, ia kembali melihat wajah yang lain. Wajah seorang lelaki. Wajah yang pernah memenuhi rumah mereka dengan suara. Wajah yang kini tinggal sebagai kenangan. Wajah Abah. Emak menahan napas.
Kemudian, tanpa berkata apa-apa, ia menarik Alone ke dalam pelukannya. Di antara tubuh anak yang basah dan tangan ibu yang kasar, malam terasa semakin panjang. Alone tidak tahu bahwa sejak saat itu Emak mulai ketakutan. Bukan takut karena anaknya nakal.
Bukan pula takut karena Alone suka mencuri waktu. Emak takut suatu hari nanti laut akan meminta kembali semua yang telah diberikan kepada mereka. Sebab Emak tahu, laut bisa memberi.
Tetapi laut juga bisa mengambil. Emak tak ingin anaknya menjadi lelaki yang berketergantungan laut. Emak tak mau anaknya mewarisi kehidupan pesisir yang getir.
Dan setiap kali memandang Alone yang semakin sering pergi ke pantai, sebuah bayangan lama kembali hidup di dalam dirinya. Sekiranya Abah tak meninggalkan pergi, Alone takkan mungkin harus selalu mengais rezeki. Nasib Alone sedikit berbeda dengan Cut Kak dan Bang Ni. Alone sudah ditinggalkan Abah sejak tiga bulannEmak mengandungnya Emak mulai bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah seorang anak yang terlalu lama mencari wajah Abah di laut, pada akhirnya akan melupakan tangan Emaknya yang selama ini memeluknya di darat?
Malam itu, pertanyaan tersebut tidak memeroleh jawaban.
Yang terdengar hanya angin dari Selat Malaka.
Dan jauh dari rumah kecil mereka, ombak terus datang ke pantai—seperti waktu yang tidak pernah berhenti membawa pulang kenangan.(***).
(Bersambung...).
¹Guru ngaji
²Mak Cik













Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda