Breaking News
Memuat breaking news...

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (2)

Redaksi
Redaksi
Selasa, 15 September 2026 - 1.31 PM WIB
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (2)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Cerbung Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

“Wajah Abah, Tangan Emak (2)” Cerbung karya Agusni AH melanjutkan perjalanan Alone, anak pesisir yang tumbuh di antara kerasnya laut dan kasih sayang Emak. Laut yang semula menjadi sumber rezeki perlahan berubah menjadi ruang kenangan tentang Abah yang belum sepenuhnya ia pahami.

Melalui tugas mengarang di sekolah, pengalaman Alone melaut menjelma menjadi pencarian batin. Titik-titik panjang dalam tulisannya menjadi simbol cerita hidup yang belum selesai—tentang kehilangan, kasih seorang ibu, dan rahasia masa lalu yang menunggu waktu untuk terungkap.

Cerbung ini hadir dengan nuansa lirih dan kontemplatif, mengajak pembaca menyelami bahwa tidak semua cerita berakhir ketika kata-kata berhenti; sebagian justru baru dimulai dari titik-titik yang menggantung. Berikut dapat pembaca menyimaknya. (red)

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (2)

SETELAH semalaman Alone ikut bertarung dengan hujan badai dan gelombang besar di tengah air laut pasang, tubuhnya nyaris tak lagi mengenal rasa letih. Malam itu ia ikut Bang Ma’e Lekmen menantang laut. Dengan alat tangguk besar, mereka berdiri berjam-jam di antara hempasan ombak, mengamati gerak air dan menunggu rezeki kecil yang dibawa pasang: benur-benur udang yang berkilauan di bawah cahaya lampu.

Laut sedang tidak ramah. Angin datang dari arah yang entah, membawa bau asin bercampur lumpur dan dingin. Hujan kadang turun rapat seperti tirai, kadang berhenti sejenak, memberi kesempatan kepada mata untuk kembali mencari garis antara laut dan langit. Namun Bang Ma’e Lekmen seolah telah lama mengenal bahasa malam. Ia tahu kapan tangguk harus diturunkan, kapan harus ditarik, dan kapan seseorang mesti diam agar tidak kalah oleh suara gelombang.

“Pegang kuat-kuat, Lon!”

Alone mengangguk memberi isyarat.

Tangannya kecil, tetapi malam telah memaksanya belajar menjadi lebih kuat daripada usianya sendiri.

Ketika tangguk itu diangkat, benur-benur kecil memutar di dalam wadah drum plastik seperti serpihan cahaya. Alone bersorak dalam hati. Tidak banyak kegembiraan yang bisa dibawa pulang seorang anak dari laut selain rezeki yang dapat dihitung dengan rupiah. Tetapi malam itu, tangguk mereka beberapa kali dipenuhi benur.

Alone membayangkan uang.

Ia membayangkan jajanan di sekolah. Membayangkan wajah kawan-kawannya ketika ia berkata, “Hari ini aku yang bayar.” Dalam usia yang masih belia, rupiah kadang-kadang mampu membuat seorang anak merasa telah menjadi orang dewasa.

Menjelang fajar, ketika langit mulai memucat dan gelombang perlahan kehilangan warna hitamnya, Alone berpamitan kepada Bang Ma’e Lekmen. Tubuhnya basah, rambutnya masih meneteskan air asin, dan kakinya dipenuhi pasir.

“Pulanglah. Jangan sampai terlambat sekolah,” kata Bang Ma’e Lekmen.

Alone segera berlari pulang.

Sebelum matahari benar-benar menampakkan diri, ia telah tiba di rumah. Ia membersihkan tubuh sekadarnya, berganti pakaian seragam, lalu memasukkan beberapa lembar uang ke dalam saku. Pagi itu, Alone merasa menjadi anak paling kaya di kelas.

Di warung dekat sekolah, ia membeli jajanan lebih banyak daripada biasanya. Kawan-kawannya datang mengerumuni.

“Dari mana kau dapat uang sebanyak ini, Lon?”

Alone hanya tersenyum.

“Rezeki laut,” jawabnya singkat.

Ia membelikan beberapa temannya makanan. Ada yang meminta minuman, ada pula yang memilih kue. Bahkan ada yang meminta mie caluk. Alone melayani semuanya dengan wajah gembira. Uang di sakunya berkurang, tetapi hatinya justru terasa bertambah besar. Barangkali begitulah masa kanak-kanak memahami kekayaan.

Bukan dari berapa banyak yang disimpan, melainkan dari berapa banyak yang bisa dibagi.

Menyusul lonceng berbunyi, Alone bersama teman-temannya bergegas masuk ke ruang kelas dan belajar dengan penuh semangat. Mata pelajaran Bahasa Indonesia yang menjadi kesukaannya membuat waktu dua jam terasa begitu singkat.

Apalagi pagi itu Ibu Raimah memberi tugas mengarang bebas.

“Anak-anak,” kata Ibu Raimah setelah menuliskan beberapa kalimat di papan tulis, “hari ini kalian menulis sebuah cerita. Tentang apa saja. Tentang rumah, tentang sekolah, tentang teman, tentang pengalaman, atau tentang sesuatu yang paling kalian ingat.”

Alone segera menundukkan wajah.

Tangannya meraih buku tulis.

Tentang apa saja. Kalimat itu berputar-putar di dalam kepalanya.

Ia memandang lembaran kosong di hadapannya. Beberapa kawannya sudah mulai menulis. Ada yang mengangkat kepala sambil menggigit ujung pensil. Ada pula yang langsung menggoreskan kata demi kata, seolah sejak semalam cerita itu telah menunggu untuk dilahirkan.

Alone belum menulis apa-apa.

Lalu, entah dari mana datangnya, bau asin laut kembali menyusup ke dalam ingatannya.

Ia teringat malam. Hujan. Angin.

Gelombang. Tangguk besar di tangan Bang Ma’e Lekmen.

Benur-benur kecil yang berputar-putar di dalam drum plastik seperti serpihan cahaya.

Dan tiba-tiba, tanpa disadarinya, tangan Alone mulai bergerak.

Ia menulis tentang laut.

Tentang seorang anak yang mencuri waktu dari malam. Tentang seorang anak yang diam-diam lebih memilih suara ombak daripada tidur. Tentang laut yang memberinya rezeki. Namun, ketika sampai pada kalimat berikutnya, tangan Alone mendadak berhenti. Pensil itu menggantung di atas kertas.

Tentang laut yang memberi, tetapi laut tak menjanjikan.

Entah mengapa kalimat itu muncul begitu saja. Alone menatap tulisan tersebut cukup lama.

Ia belum mengerti sepenuhnya mengapa hatinya tiba-tiba terasa sesak.

Barangkali karena ia teringat Emak.

Atau mungkin karena pagi tadi, sebelum berangkat ke sekolah, Emak sempat memandangnya dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.

Tatapan yang seolah menyimpan laut.

Tatapan yang seolah menyimpan masa depan tanpa seorang Abah. Nama itu tiba-tiba melintas di kepalanya.

Alone jarang berbicara tentang Abah. Bukan karena ia tidak ingin tahu, melainkan karena ada saat-saat tertentu ketika nama itu seperti menjadi pintu yang tidak mudah dibuka. Alone belum benar-benar mengerti mengapa Abah pergi. Walau sesekali Abah juga pulang. Namun tak pernah lama, itu pun saat hari-hari besar saja, membawa uang seadanya.

Kemudian ia melanjutkan tulisannya.

Namun kali ini, cerita yang ditulisnya bukan lagi sekadar tentang benur dan nener. Bukan pula tentang uang dan jajanan. Di atas lembaran buku tulis itu, tanpa benar-benar disadarinya, Alone mulai mencari wajah Abah melalui kata-kata.

Dan di antara baris-baris yang ditulisnya, perlahan meuncul gejolak di jiwanya yang tak mampu diterjemahkannya. Kemudian tulisan itu terhenti...titik-titik panjang.

Lonceng pergantian jam belum berbunyi ketika Ibu Raimah berjalan perlahan di antara bangku-bangku muridnya. Sesekali ia berhenti, membaca beberapa tulisan, lalu tersenyum.

Ketika sampai di dekat meja Alone, langkahnya terhenti.

“Sudah sampai mana, Alone?”

Alone sedikit gugup.

“Sedikit lagi, Bu.”

“Boleh Ibu baca?”

Alone terdiam sembari menyerahkan buku kepada Ibu Raimah.

Ibu Raimah kembali menundukkan pandangannya ke buku tulis Alone. Di antara kalimat-kalimat tentang laut, benur, malam, dan seorang anak yang mencuri waktu, pandangannya berhenti pada satu baris terakhir. Tentang laut yang memberi, tetapi laut tak pernah menjanjikan....

Titik-titik itu memanjang.

Terlalu panjang untuk sebuah kalimat yang belum selesai.

Ibu Raimah mengangkat wajah.

“Lalu, titik-titik berikutnya kenapa berhenti?”

Alone memandangi buku tulisnya. Sejenak ia seperti mencari jawaban di antara huruf-huruf yang baru saja dilahirkannya sendiri.

“Mungkin itu penutup cerita yang tersembunyi, Bu,” jawab Alone sekenanya.

Ibu Raimah tersenyum tipis.

“Cerita yang tersembunyi?”

Alone mengangguk.

“Ya, Bu. Kadang-kadang kita tidak tahu bagaimana harus mengakhiri sebuah cerita.”

Jawaban itu membuat Ibu Raimah terdiam.

Barangkali Alone belum memahami sepenuhnya apa yang baru saja dikatakannya. Namun, bagi seorang guru yang telah lama membaca tulisan anak-anak, kalimat itu terasa lebih tua daripada usia murid yang mengucapkannya.

Ibu Raimah mengembalikan buku tulis tersebut.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “biarkan dulu titik-titik itu tinggal di sana. Siapa tahu, suatu hari nanti kau sendiri yang menemukan kelanjutannya.”

Alone menerima bukunya.

Ia menatap kembali titik-titik panjang itu.

Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin hidup memang seperti sebuah karangan yang tidak selalu selesai ketika kita menginginkannya. Ada kalimat yang terputus. Ada cerita yang ditinggalkan tanpa penutup. Ada nama yang hanya berani dipanggil di dalam hati.

Abah.

Nama itu kembali melintas.

Dan entah mengapa, pagi itu laut yang semalam memberinya benur, uang, dan kegembiraan, tiba-tiba terasa menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada semua yang pernah diperolehnya dari air pasang.

Di luar jendela kelas, angin dari arah Selat Malaka masih bergerak.

Angin itu datang dari laut, menyusup di antara halaman sekolah, menggoyangkan daun-daun, lalu pergi entah ke mana. Alone memandangnya cukup lama.

Dan di rumah, entah mengapa, ia merasa Emak sedang menunggu.

Bukan sekadar menunggu kepulangannya dari sekolah.

Bukan pula hanya menunggu seorang anak pulang membawa buku dan cerita tentang pelajaran hari itu. Barangkali Emak sedang menunggu waktu.

Waktu ketika Alone telah cukup besar untuk memahami bahwa laut tidak hanya pernah memberinya benur dan nener.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika malam kembali turun di atas Selat Malaka, Emak akan membuka pintu cerita itu.

Pelan-pelan.

Seperti seseorang yang selama bertahun-tahun menyimpan sebuah luka di dalam rumah.

Sebab ada cerita yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu seorang anak tumbuh dewasa untuk sanggup mendengarnya.(***).

(Bersambung...)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement