WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (24)

Cerbung Agusni AH
PENGANTAR REDAKSI:
Episode 24 "Wajah Abah, Tangan Emak" membawa Alone pada persimpangan yang semakin tajam antara perjalanan hidup, dunia pendidikan, dan panggilan jurnalistik. Setelah mengurus kepindahannya dari USU ke Universitas Samudra, ia melanjutkan perjalanan ke Lhokseumawe dan bertemu kembali dengan Masykur Tom Randista, sahabat SMA yang dahulu sama-sama menghidupkan majalah dinding sekolah. Dari pertemuan itu, Alone kembali menekuni dunia jurnalistik dengan menulis berita melalui cara pandang seorang penyair—mengamati peristiwa, menangkap detail, lalu merangkainya menjadi tulisan yang tidak semata menyampaikan fakta, tetapi juga menghadirkan suasana dan rasa. Di sinilah jejak wartawan sastrawi mulai menemukan bentuknya dalam perjalanan kepenulisan Alone.
Namun, perjalanan menuju rumah dan kerinduan kepada Emak kembali harus ditangguhkan. Ketika ia baru saja membayangkan pertemuan dengan perempuan yang setahun lamanya tak ditemuinya, kabar tentang situasi keamanan di Idi datang dari meja redaksi. Tugas jurnalistik memanggilnya turun ke wilayah konflik yang baru saja dilanda baku tembak. Alone pun berdiri di antara dua panggilan: rindu seorang anak yang ingin pulang dan tanggung jawab seorang wartawan yang harus bergerak menuju medan peristiwa. Episode ini memperlihatkan bahwa jalan hidup Alone tidak selalu dapat dipilih dengan kehendak sendiri; terkadang, ketika seseorang hendak menapaki jalan pulang, takdir justru membentangkan jalan lain yang harus dilalui terlebih dahulu.(red).
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (24)
ALONE tak punya banyak waktu untuk berlama-lama bercengkerama dengan Haji Hasan dan istrinya. Setelah berpamitan, ia segera berangkat menuju kampus Universitas Samudra (Unsam) dengan menumpangi BMW.
“Unsam, Universitas Samping Melati atau Unsam di Meurandeh?” tanya abang becak, menyebut dua lokasi kampus dengan istilah yang sudah akrab di telinga masyarakat Langsa.
Ia sengaja memelesetkan nama Unsam menjadi Universitas Samping Melati, merujuk pada gedung kampus pusat yang berada di samping gedung bekas Bioskop Melati, di tengah kota. Di kawasan itu, selain biro rektorat, terdapat Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum yang menempati gedung yang sama.
Sementara itu, kampus Unsam di Meurandeh, sekitar satu kilometer ke arah selatan, menjadi tempat Fakultas Pertanian. Adapun Fakultas Teknik dan FKIP berada di kawasan Ampera, masih di dalam wilayah kota.
“Unsam pusat, Bang.”
“Berarti lebih dekat. Tak sampai lima menitlah,” jawab abang becak itu, sembari kembali mengayuh BMW-nya membelah jalanan kota.
“Sudah tiba,” ujar abang becak itu memberi tahu.
Alone segera membayar ongkos becak, lalu meminta abang becak tersebut menunggunya. Setelah urusannya selesai, ia ingin diantarkan kembali ke terminal.
“Bisa Abang tunggu sebentar? Saya hanya mau menyerahkan berkas. Setelah itu, tolong antarkan saya ke terminal.”
“Ya, siap. Saya tunggu di sini saja,” jawabnya.
Alone kemudian melangkah menuju pintu gerbang kampus. Setelah meminta petunjuk kepada sekuriti yang berjaga, ia diarahkan naik ke lantai dua gedung tua peninggalan Belanda, yang konon dulunya merupakan tempat perkumpulan saudagar Aceh.
Hanya sesaat, Alone berhenti di depan pintu ruangan yang ditujunya. Ia menarik napas pelan, lalu mengetuk pintu sebelum masuk.
“Saya mahasiswa pindahan dari USU, Pak. Ini berkasnya,” ujar Alone sembari mengeluarkan sebuah map dari dalam ranselnya. Map itu terselip di antara pakaian yang tersusun di dalam tas.
“Ooo... baik, baik,” sahut seorang pegawai Biro Rektorat itu seraya menerima berkas tersebut.
Belakangan, Alone mengetahui bahwa pegawai itu bernama Pak Aziz. Mendengar nama itu, ingatannya seketika melayang kepada sosok kepala sekolah SMA-nya dahulu, Bapak Abdul Aziz. Nama yang sama itu menghadirkan kembali kenangan tentang seseorang yang pernah membuka jalan baginya untuk melangkah lebih jauh dalam dunia pendidikan.
Setelah berbasa-basi dengan Pak Aziz dan dua pegawai perempuan di ruangan itu, Alone berpamitan. Ia segera menuruni tangga yang tadi dilewatinya, lalu kembali menaiki BMW yang telah menunggunya di depan kampus.
“Mau melanjutkan perjalanan ke mana lagi?” tanya abang becak, memecah lamunan Alone ketika BMW itu mulai bergerak menyusuri jalanan kota.
Alone tak segera menjawab. Pikirannya melayang entah ke mana, sibuk merangkai berita yang akan ditulisnya untuk dikirim ke kantor redaksi. Di antara deru kendaraan dan kayuhan abang becak, benaknya terus mencari-cari peristiwa yang layak diangkat menjadi berita.
“Ini sudah sampai terminal, Mas.”
“O... ya, ya. Maaf, Bang,” sahut Alone, tergagap.
Ia buru-buru turun dari becak, seolah baru tersadar bahwa perjalanan singkat itu telah berakhir. Pikirannya masih tertinggal pada berita yang belum ditulis, sementara langkahnya mulai menyusuri kawasan terminal.
Alone segera menaiki bus antarkota dalam provinsi (AKDP) yang melayani rute menuju Banda Aceh. Namun, ia hanya akan turun di Lhokseumawe dengan perjalanan selama tiga jam dari Kota Langsa. Sebelum melanjutkan perjalanan, ia ingin singgah terlebih dahulu ke Biro Waspada di kota itu, mencoba menulis beberapa berita ringan untuk dikirim ke kantor redaksi.
Baginya, menulis berita bukan sekadar memenuhi tugas jurnalistik, melainkan juga cara untuk terus mengasah naluri dan kepekaannya terhadap peristiwa di sekeliling. Ia harus belajar menangkap hal-hal sederhana yang kerap luput dari perhatian orang lain, lalu merangkainya menjadi tulisan yang layak dibaca.
Setelah urusannya di Biro Waspada selesai, pikir Alone, barulah ia berencana mengunjungi rumah Cut Kak di Ujong Blang, yang jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari pusat Kota Lhokseumawe.
Setiba di Kantor Biro Waspada Lhokseumawe, yang menempati sebuah bangunan ruko, Alone langsung masuk ke ruangan di lantai satu. Tak seorang pun ditemuinya di sana. Ia kemudian menaiki tangga menuju lantai dua.
Begitu kakinya menginjak lantai dua, tepat di depan pintu ruangan, ia melihat beberapa orang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ruangan itu ternyata cukup ramai.
Betapa terkejutnya Alone ketika matanya menangkap sosok yang begitu dikenalnya. Salah seorang di antara mereka adalah Masykur Tom Randista, teman SMA yang dahulu sama-sama mengelola majalah dinding sekolah.
“Hei, Alone! Anak USU Medan? Apa sengaja kamu kemari mencari aku, ya?” seru Tom dengan nada kocak.
Keduanya langsung berangkulan, melepas rindu yang lama tersimpan.
Sesaat kemudian, Alone menyebutkan maksud kedatangannya.
“Saya mau menghadap Pak Bustami,” terang Alone.
“Ya, itu dia bosku,” sergah Tom sambil mengarahkan wajahnya ke sudut ruangan.
Pak Bustami, Kepala Biro Waspada Lhokseumawe, tengah sibuk mengedit sebuah berita sebelum dikirim ke redaksi pusat Waspada di Medan.
“Oo, ya. Ada apa, anak muda?” sapa Pak Bustami dengan ramah, seolah sudah mengenal Alone sebelumnya.
“Saya Alone, wartawan baru Waspada yang ditugaskan di kawasan timur Aceh, meliputi Aceh Tamiang, Langsa dan Aceh Timur. Sambil pulang kampung saya menghadap Bapak,” jelas Alone.
“Heiiii... pujangga pesisir! Rupanya kamu wartawan Waspada juga, ya?” Tom kembali nyerocos. “Lantas, kuliah di USU bagaimana?”
Alone hanya tersenyum. Ia tak langsung menjawab. Rasanya terlalu panjang jika harus menjelaskan perjalanan hidupnya sejak meninggalkan kampung, kuliah di USU, hingga akhirnya memutuskan kembali ke Aceh.
“Ooo, ya. Bos Edo sudah mengabari kemarin,” tukas Pak Bustami.
Tom terheran-heran. Baru kali itu ia mengetahui bahwa sahabatnya yang dahulu sama-sama mengurus majalah dinding di SMA itu telah menjadi wartawan Waspada. Begitu pula Alone. Ia tak pernah menyangka Tom telah lebih dahulu menjadi bagian dari dunia jurnalistik yang selama ini mereka impikan dari balik lembaran majalah dinding sekolah.
“Sekarang izinkan dan tuntun saya menulis berita, ya,” pinta Alone kepada sahabatnya.
Tom mengangguk.
Alone kemudian duduk di hadapan mesin ketik. Ia mulai menulis berita ringan tentang perjalanan yang baru saja dilaluinya—dari Medan, menyeberangi jalan panjang menuju Langsa, singgah sebentar, lalu melanjutkan perjalanan hingga tiba di Kota Lhokseumawe, kota yang dikenal sebagai Kota Petro Dollar.
Namun, yang ditulis Alone bukan sekadar laporan perjalanan. Ia merangkai peristiwa dengan mata seorang penyair: menangkap suasana, mencatat detail-detail kecil, dan menyelipkan rasa di antara fakta.
Dari sanalah, tanpa disadarinya, gaya penulisannya mulai menemukan tempatnya di dunia jurnalistik.
Wartawan yang menulis dengan naluri seorang penyair—wartawan sastrawi.
Suhu Kota Lhokseumawe yang dipagari Selat Malaka terasa semakin gerah. Bukan hanya karena panas yang menggantung di udara, tetapi juga karena hawa politik dan konflik bersenjata yang kian terasa di kota gas itu. Nyaris seluruh wilayah Aceh ikut terseret dalam ketegangan. Tak terkecuali Kota Langsa, apalagi Aceh Timur. Hanya Aceh Tamiang yang suasananya masih terasa sedikit lebih landai.
Tiba-tiba dering telepon di Kantor Biro Waspada Lhokseumawe memecah kesibukan.
Pak Bustami segera mengangkatnya.
"Ya, saya sendiri."
Ia menyebutkan namanya sekaligus memastikan bahwa dirinya Kepala Biro Waspada Lhokseumawe.
Setelah itu, Pak Bustami lebih banyak mengangguk. Sesekali ia menjawab pendek, "Ya..." atau "Baik." Namun, beberapa saat kemudian, raut wajahnya berubah. Percakapan di ujung telepon rupanya membawa kabar yang tidak biasa.
Orang-orang di ruangan itu mulai memperhatikan. Di tengah kesibukan masing-masing, beberapa di antara mereka memasang telinga, berusaha menangkap isi pembicaraan Pak Bus.
Begitu pula Alone dan Tom yang duduk bersisian. Keduanya masih tekun mengetik naskah berita dan tulisan feature di hadapan komputer masing-masing.
Pak Bustami akhirnya meletakkan gagang telepon.
"Barusan dari redaktur senior di Medan," katanya membuka pembicaraan. "Bos Edo meminta Alone segera turun ke Idi."
Alone menghentikan ketikan.
"Idi, Pak?"
"Ya. Redaksi meminta kamu melakukan liputan langsung di sana. Situasinya sedang memanas. Idi sekarang dikuasai GAM setelah sebelumnya terjadi baku tembak selama tigam jam."
Ruangan yang semula dipenuhi bunyi ketikan mendadak terasa lebih sunyi.
"Redaksi ingin laporan langsung dari lapangan," lanjut Pak Bustami. "Kamu berangkat secepatnya."
Alone terdiam. Namun, kepalanya menghitung-hitung, berarti satu jam setelah melewati Kota Idi tadi ketika ia dari Langsa menuju Lhokseumawe perang pun berlangsung.
Dalam benaknya, rencana yang telah disusun sejak tadi kembali terbayang. Setelah menyelesaikan dan mengirim naskah laporan, ia sebenarnya hendak menuju rumah Cut Kak. Besok pagi, ia berencana melanjutkan perjalanan pulang sebentar ke kampung pesisir.
Sudah setahun ia tidak bertemu Emak.
Ada rindu yang selama ini disimpannya sendiri. Rindu kepada perempuan yang wajahnya selalu hadir dalam ingatan, meski tubuhnya berada jauh di antara kesibukan kuliah dan dunia jurnalistik yang mulai ditekuninya.
Ia ingin pulang.
Sekadar duduk di hadapan Emak. Mendengar suaranya. Mungkin mencium tangannya. Atau hanya memandang wajah tua itu beberapa saat, sebelum kembali menempuh jalan panjang kehidupannya.
Namun, sore itu, jalan yang hendak ditempuhnya berubah arah.
Di satu sisi ada Emak yang telah lama menunggu.
Di sisi lain ada tugas jurnalistik yang datang bersama dentuman senjata.
Alone menarik napas panjang.
Barangkali begitulah hidup. Ketika seseorang hendak memilih jalan pulang, takdir kadang membentangkan jalan lain di hadapannya.(***).
(Bersambung...).


















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda