WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (3)

Cerbung Agusni AH
PENGANTAR REDAKSI:
Dalam bagian ketiga “Wajah Abah, Tangan Emak”, Agusni AH melanjutkan perjalanan Alone yang tumbuh di tengah keterbatasan, tetapi tidak kehilangan semangat untuk meraih masa depan. Prestasi sebagai ranking satu menjadi kebanggaan keluarga, sekaligus bukti bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu mampu membatasi tekad seorang anak.
Di sisi lain, harapan Emak agar Alone terus bersekolah memperlihatkan kasih sayang yang sederhana, tetapi sangat dalam. Emak tidak ingin anak-anaknya sekadar mewarisi kerasnya kehidupan sebagai anak pesisir. Ia ingin mereka memiliki pilihan hidup yang lebih luas.
Cerita kemudian bergerak ke ruang yang lebih ringan: persahabatan, keluguan masa kanak-kanak, dan cinta pertama yang masih sederhana. Alone kembali menjadi “pencuri”—mencuri waktu, mencuri pandang, sekaligus menjadi penulis dan kurir surat cinta bagi sahabatnya.
Melalui kisah kecil itu, Agusni AH menyelipkan pesan bahwa masa kanak-kanak bukan hanya tentang sekolah dan mengaji, tetapi juga tentang persahabatan, rahasia, tawa, dan pengalaman-pengalaman sederhana yang kelak menjelma kenangan. Di balik semuanya, sosok Emak tetap menjadi pusat keteguhan yang diam-diam menopang perjalanan Alone.(red).
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (3)
ALONE baru saja menerima rapor kenaikan kelas. Namanya berada di urutan pertama. Ranking satu.
Bagi Alone, itu bukan sesuatu yang perlu dibanggakan berlebihan. Yang terpenting baginya adalah ia masih bisa bersekolah di tengah segala keterbatasan. Waktunya begitu sempit, harus dibagi antara sekolah, mengaji, pantai, dan berbagai pekerjaan yang menjadi kewajibannya di rumah. Bahkan untuk mengaji setiap malam pun, ia kerap harus mencuri kesempatan dari kelengahan Teungku Dolah.
Emak, Cut Kak, dan Bang Ni mengaku bangga. Wajah mereka menyimpan kebahagiaan yang sulit disembunyikan. Namun, Alone memilih biasa saja. Ia tidak ingin terlalu larut dalam angka-angka yang tercetak di atas kertas.
Baginya, nilai bukanlah tujuan akhir. Ia hanya penanda bahwa setiap perjuangan tidak pernah benar-benar sia-sia.
Pelan-pelan Alone mulai memahami sesuatu yang mungkin belum dipahaminya oleh anak-anak seusianya: hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang mampu bertahan dalam perjalanan.
Pantai mengajarinya tentang kesabaran. Sekolah mengajarinya tentang pengetahuan. Mengaji mengajarinya tentang ketundukan. Sedangkan Emak, tanpa banyak kata, mengajarinya tentang keteguhan.
Dan di antara semua itu, ada satu ruang kosong yang tak pernah benar-benar terisi—ruang yang ditinggalkan Abah.
Alone belum tahu, suatu hari nanti ia akan mengerti bahwa ranking satu bukanlah pencapaian terbesar dalam hidupnya. Ada pelajaran yang jauh lebih dalam, yang tidak pernah tercatat di rapor mana pun: tentang kehilangan, tentang pengorbanan, dan tentang tangan seorang Emak yang diam-diam selalu menopang langkahnya.
Alhamdulillah, setiap kali naik kelas, Alone tak perlu membeli buku maupun perlengkapan sekolah lainnya. Semua kebutuhan itu diperolehnya dari hadiah atas prestasinya sebagai ranking satu. Bagi Alone, hadiah itu bukan sekadar penghargaan, tetapi juga menjadi jalan kecil yang meringankan beban Emak.
Tanpa terasa, waktu terus berjalan. Alone kini telah duduk di kelas enam. Tinggal menunggu setahun lagi untuk menyelesaikan EBTANAS—ujian yang akan menjadi penanda berakhirnya masa sekolah dasarnya. Namun, sebelum sampai ke sana, masih ada banyak hari yang harus dilaluinya; antara buku-buku pelajaran, lantunan ayat-ayat suci, dan pantai yang seakan selalu memanggil namanya.
“Nak, belajarlah... sebentar lagi sudah ujian akhir. Jangan sampai Alone tidak lulus!” suara Emak terdengar lirih, tetapi menyimpan kecemasan yang dalam.
Alone terdiam. Kalimat sederhana itu terasa seperti tangan yang menyentuh bahunya—lembut, tetapi mengingatkan. Ia tahu, Emak bukan sekadar takut ia gagal dalam ujian. Lebih dari itu, Emak sedang menitipkan harapan agar anaknya kelak memiliki jalan hidup yang lebih luas daripada apa yang pernah dilalui mereka.
Lebih dari itu, Emak tak ingin Alone menanggung nasib yang diwariskan turun-temurun sebagai anak pantai, yang kelak hanya akan disebut sebagai pelaut ulung. Sebab, di balik tabalan “ulung” itu, Emak tahu ada kehidupan yang keras, penuh gelombang, dan tak selalu menjanjikan masa depan.
Baginya, sebutan “pelaut ulung” hanyalah sebuah fatamorgana—terlihat indah dari kejauhan, tetapi bisa lenyap ketika didekati. Emak ingin Alone memiliki pilihan hidup yang lebih luas; bukan sekadar mewarisi jalan yang sama dengan orang-orang sebelum mereka di kampung pesisir itu.
Sesungguhnya, harapan yang sama juga disimpan Emak untuk dua anak lainnya, Cut Kak dan Bang Ni. Namun, Emak tak memiliki kuasa atas jalan yang telah ditempuh keduanya. Cut Kak dan Bang Ni, yang hanya berselisih satu tingkat di madrasah tsanawiyah, beberapa tahun sebelumnya terpaksa berhenti sekolah karena tunggakan SPP. Cut Kak bahkan tidak sempat mengikuti ujian akhir kelas tiga, sedangkan Bang Ni terhenti ketika masih duduk di kelas dua di sekolah yang sama.
Meski tak lagi bersekolah, keduanya tetap tekun mengaji. Bacaan Al-Qur’an mereka baik, suaranya merdu dan nyaring. Mereka memang tak pernah mengikuti MTQ, tetapi nama keduanya cukup dikenal di kalangan pengajian. Berbeda dengan Alone. Ia membaca Al-Qur’an sekadar mampu mengenali makhraj, tajwid, dan fashahah. Suaranya pun tidak merdu. Namun, Alone memiliki kelebihan lain: ia tekun menghafal hukum-hukum tata baca Al-Qur’an.
Barangkali, begitulah cara Tuhan membagi kelebihan kepada setiap anak. Ada yang diberi suara untuk melantunkan ayat-ayat-Nya, ada yang diberi ingatan untuk memahami hukumnya. Dan Emak, dengan segala keterbatasannya, hanya ingin semua anaknya menemukan jalan terbaik yang telah ditakdirkan Allah untuk mereka.
“Jaga ketat adik kalian, jangan sampai menghilang di gelap malam di tempat pengajian, ya!” seru Emak sedikit bercanda ketika ketiga anaknya bersiap berangkat mengaji di satu senja.
“Siap... akan kami jaga ketat!” timpal Bang Ni spontan.
Cut Kak hanya tersenyum menyeringai seadanya. Sementara Alone, yang pembawaannya lebih serius, memilih acuh. Ia melangkah gontai menuju pintu, lalu sempat mengerling Emak sekilas.
Emak tersenyum kecil melihat tingkah ketiga anaknya. Ia tahu, gurauan itu bukan tanpa alasan. Sebab, Alone memang kerap mencuri waktu dari pengajian—menyelinap menuju pantai, mengejar benur dan nener di antara gelap malam, sebelum kembali seolah tak pernah meninggalkan tempat mengaji.
Namun, malam itu ada sesuatu yang berbeda. Gurauan Emak yang sederhana kelak akan tinggal sebagai salah satu kenangan yang sulit dilupakan: tentang tiga anak, sebuah rumah sederhana, dan seorang ibu yang selalu mengawasi langkah mereka dengan doa.
Malam itu Alone tidak mencuri waktu. Ia justru sibuk melayani Suhardi yang sedang berbunga-bunga jatuh cinta kepada Nurlaili, anak Ampon Baka yang mengaji di balai yang sama.
“Lon, buatlah surat untuk Laili,” pinta Akong, begitu Suhardi biasa dipanggil, dengan wajah memelas.
“Segala persyaratan akan kupenuhi,” tambah Akong lagi, seolah sedang membuat kesepakatan penting.
“Mana?” tanya Alone sembari menjulurkan tangan.
Akong segera menyerahkan beberapa keping pecahan rupiah beserta selembar kertas surat beraroma wangi. Rupanya, kertas itu sudah dibelinya sepulang sekolah siang tadi di kios Bang Ali Cina.
Alone memandangi kertas itu sejenak. Ia tahu, malam ini bukan dirinya yang akan berhadapan dengan ombak dan gelap pantai. Ada ombak lain yang sedang menghempas dada sahabatnya—ombak cinta yang belum tentu menemukan tepian.
Seperti biasa, sepulang dari tempat mengaji, Alone jarang langsung tidur di rumah. Ia lebih sering bermalam di meunasah, dan tak jarang memilih rangkang sebagai tempat merebahkan tubuhnya. Di sanalah, di bawah cahaya lampu yang temaram dan sunyi malam yang perlahan mengendap, ia mengeksekusi sebuah tugas rahasia: merangkai surat cinta Akong untuk Nurlaili.
Dengan kertas wangi yang dibeli dari kios Bang Ali Cina, Alone mulai menulis. Tangannya bergerak tenang, tetapi sesekali ia tersenyum sendiri. Bukan karena ia sedang jatuh cinta, melainkan karena ia sedang menjadi penyambung rasa dua hati yang belum berani bicara.
Alone kecil mencoba mengarang surat cinta sahabatnya yang sama-sama masih ingusan. Sembari tersenyum-senyum, ia mulai menulis. Sesekali tangannya berhenti, lalu ia menggaruk kepala, mencari kata-kata yang pantas untuk sebuah cinta yang bahkan mungkin belum mereka mengerti.
Di bawah cahaya lilin-lilin yang temaram di rangkang¹ pertambakan, Alone menuliskan:
Assalamu’alaikum...
Sebelumnya maafkan dan izinkan aku menulis surat cinta untuk pertama kalinya kepada Nurlaili, sebagai Hawa pertama yang mengenali siapa diriku.
Terus terang, aku tak punya banyak kata, tak memiliki bahasa cinta. Namun, hanya ada rasa yang entah apa namanya. Tetapi aku memastikan, itu adalah cinta. Ya, aku cinta padamu, Nurlaili. Untuk itu, kuharap segera engkau membalasnya.
Wassalam...
Penunggu Cintamu,
SUHARDI.
Keesokan harinya, setelah Akong membaca kembali dan menyetujui segenap isi surat cinta yang dirasakannya sudah mewakili isi hatinya, Alone kembali diminta menyerahkan surat beramplop biru itu kepada Nurlaili seusai Magrib, sebelum pengajian dimulai.
Lagi-lagi Alone memberlakukan syarat.
“Mana kepingan rupiahnya?”
Akong pun, tanpa banyak negosiasi, langsung memenuhi permintaan itu.
“Nih, cukup kan?” Akong menyodorkan beberapa keping rupiah ke telapak tangan Alone.
Alone menghitungnya sekilas. Ia kemudian menerima kembali amplop biru itu. Malam itu, tugasnya bukan lagi sekadar menjadi penulis surat. Ia harus menjadi kurir cinta—membawa pesan seorang sahabat kepada seorang gadis yang mungkin belum tahu bahwa namanya sedang bersemayam di hati seseorang.
Dan begitulah, di usia yang masih belia, Alone mulai mengenal satu lagi pekerjaan manusia: menjaga rahasia hati orang lain.
Kali ini Alone kembali menjadi “pencuri”. Bukan mencuri waktu seperti biasanya, melainkan diam-diam mencuri pandang ke arah Nurlaili. Dari kejauhan, ia memberi isyarat agar gadis itu menemuinya di sudut balai pengajian.
Cahaya lampu seurungkeng² yang samar-samar membuat suasana terasa cukup aman untuk menyerahkan “barang rahasia” itu. Nurlaili datang dengan langkah pelan. Senyum kecil mengembang di wajahnya ketika melihat amplop biru di tangan Alone.
Alone menyerahkannya dengan hati-hati.
“Ini untukmu. Tolong dibalas besok malam, ya.”
Nurlaili menerima amplop itu sambil tersenyum. Alone segera berbalik, seolah tak terjadi apa-apa.
Malam itu, ia kembali menjadi pencuri—mencuri pandang, mencuri kesempatan, dan diam-diam ikut membawa sebuah rahasia cinta yang bukan miliknya.(***).
(Bersambung...).
¹Dangau
²Petromaks














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda