Breaking News
Memuat breaking news...

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (4)

Redaksi
Redaksi
Kamis, 17 September 2026 - 12.08 PM WIB
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (4)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Cerbung Agusni AH

PENGANTAR REDAKSI:

Cerbung “Wajah Abah, Tangan Emak (4)” karya Agusni AH menghadirkan sisi lain kehidupan dua sahabat kecil, Alone dan Akong, yang mulai mengenal gejolak cinta di tengah kesederhanaan kehidupan mereka. Surat cinta kepada Nurlaili menjadi pemantik cerita yang dibangun melalui dialog ringan, gurauan, rasa penasaran, dan kegelisahan khas masa kanak-kanak.

Di balik kelucuan percakapan keduanya, terselip pesan tentang kesabaran, ketulusan, dan menerima takdir. Cinta tidak digambarkan sebagai sesuatu yang harus segera memiliki jawaban, melainkan sebagai proses belajar menunggu dan menjaga hati. Dengan bahasa yang sederhana, lirih, dan mengalir, Agusni AH berhasil menjadikan perjalanan kecil menuju sekolah sebagai ruang perenungan tentang rasa yang sedang tumbuh. Dan gejolak cintanya dapat Anda simak berikut ini.(red).

WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (4)

PAGI-PAGI Akong sudah terpacak di depan pintu rumah Alone, lengkap dengan seragam sekolahnya. Ia sengaja datang lebih awal agar bisa berangkat bersama sahabat kecilnya itu. Rumah mereka hanya dipisahkan pagar, sehingga hampir setiap pagi keduanya berjalan beriringan menuju sekolah.

Namun, pagi itu Akong datang bukan semata-mata untuk berangkat sekolah. Ada sebuah cerita yang ingin didengarnya. Cerita tentang surat cinta yang semalam diam-diam diserahkan Alone kepada Nurlaili.

Nyaris semalaman Akong tak bisa tidur. Rasa penasaran mengaduk-aduk pikirannya. Ia ingin tahu apakah surat itu akan dibalas, dan apakah Nurlaili bersedia menerima cintanya.

Walaupun seusai menyerahkan surat itu Alone sudah sempat menceritakannya, Akong merasa ceritanya masih kurang lengkap dan belum detail. Apalagi saat itu Cut Kak dan Bang Ni seperti ikut menguping percakapan mereka, sehingga Alone pun tak leluasa memberikan laporan utuh.

Cinta kecil itu seolah telah menjadi urusan besar bagi Akong.

Semalaman ia mondar-mandir di dalam kamar. Berbaring, bangun lagi, lalu kembali memandang langit-langit rumah. Setiap kali matanya terpejam, wajah dan senyum Nurlaili terus melintas dalam ingatannya.

Resah dan gelisah merasuki jiwa raganya.

Bahkan, Akong merasa pagi terlalu lama datang.

Begitu ayam jantan berkokok dan cahaya matahari mulai menyelinap di sela-sela atap rumah, ia segera mandi dan mengenakan seragam sekolah. Tas disandang, sepatu dipakai, rambut dirapikan seadanya. Tak lama kemudian, ia sudah terpacak di depan pintu rumah Alone.

Beberapa menit berlalu.

Pintu belum juga terbuka.

Akong tetap berdiri. Sesekali ia melirik ke arah jendela kamar Alone. Dalam hatinya, ia berharap sahabatnya itu segera keluar untuk memberikan laporan utuh.

Tiba-tiba daun pintu bergerak.

Emak muncul dari baliknya.

“Pagi benar ke sekolah hari ini. Apa ada tugas menjadi piket?” suara Emak menyapa.

Akong yang sejak beberapa menit mematung di depan rumah itu tergagap.

“Eh... iya, Mak.”

Emak memandangnya sejenak. Ada senyum tipis di wajah perempuan itu.

“Alone belum siap pun,” tambah Emak.

Akong mengangguk. Ia kemudian melirik ke dalam rumah.

“Kalau begitu, saya tunggu saja, Mak.”

“Tunggu di sini. Sebentar lagi Alone keluar.”

“Iya, Mak.”

Akong kembali berdiri di depan pintu. Kali ini ia tersenyum kecil. Baginya, menunggu Alone bukan persoalan. Yang penting, hari ini ia harus mendapatkan cerita yang sempurna.

Apakah Nurlaili akan menerima atau menolak cintanya?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.

Tak lama kemudian, Alone keluar dengan tas sekolah tersandang di bahunya.

“Kong... Akong...” sapa Alone sambil menahan senyum.

“Apa?” Akong langsung menyambut.

“Surat saja belum dibalas, apa pula berharap cinta diterima?” celoteh Alone setengah menggoda.

Akong terdiam sesaat. Celotehan itu terasa seperti sengaja dilemparkan ke dalam bara kecil yang sedang menyala di dadanya.

“Makanya kita cepat-cepat bertemu, agar bisa mendiskusikannya,” sergah Akong membela diri.

Keduanya pun berjalan beriringan menuju sekolah. Jaraknya sekitar satu kilometer. Jalan kaki sudah menjadi kebiasaan mereka. Di sepanjang perjalanan, Akong terus memburu cerita yang belum selesai.

“Jadi, waktu kau kasih surat itu, Nurlaili bilang apa?”

“Sudah kubilang, tunggu saja balasannya.”

“Terus, senyumnya bagaimana?”

Alone tertawa kecil.

“Jadi orang harus bersabar, apalagi mengenai cinta. Urusannya panjang dan butuh waktu,” kata Alone, kali ini dengan wajah dibuat serius, seolah-olah sedang memberikan nasihat kepada orang yang sedang dilanda masalah besar.

Akong terdiam. Langkahnya yang semula cepat mendadak melambat. Khotbah singkat itu membuatnya tak bisa berkutik. Ia ingin membantah, tetapi tak menemukan alasan yang tepat.

“Memangnya kau sudah paham betul soal cinta?” tanya Akong akhirnya.

Alone terkekeh.

“Tidak juga. Tapi setidaknya aku tahu, surat yang baru semalam diberikan tidak mungkin pagi ini langsung menghasilkan jawaban.”

“Kalau begitu, kapan?”

“Nah, itu dia. Cinta bukan seperti membeli gorengan. Pesan sekarang, sebentar kemudian sudah bisa dimakan.”

Akong tertawa kecil, meski hatinya masih diliputi penasaran.

“Tapi kalau terlalu lama, bagaimana?”

“Ya, tetap sabar.”

“Sabar sampai kapan?”

Alone mengangkat bahu.

“Sampai ada jawaban.”

Akong menghela napas panjang. Ia menatap jalan di depan mereka yang masih basah oleh embun pagi.

“Kalau jawabannya iya?”

“Alhamdulillah.”

“Kalau jawabannya tidak?”

Alone menoleh sambil tersenyum tipis.

“Ya, Alhamdulillah juga. Berarti Tuhan sedang mengajarkanmu sesuatu.”

Akong kembali terdiam.

Kali ini bukan karena kehabisan kata-kata, tetapi karena kalimat sederhana itu seperti mengetuk sesuatu di dalam dadanya. Barangkali benar, cinta bukan perkara siapa yang lebih cepat mendapatkan jawaban. Ada waktu yang harus ditunggu, ada hati yang harus dijaga, dan ada takdir yang tak boleh dipaksa.

Mereka kembali berjalan. Alone kembali tertawa. Akong tersipu-sipu. Diskusi dua sahabat kecil itu sepanjang jalan menuju sekolah terasa lumayan alot. Masing-masing seperti sedang berjuang mempertahankan pendapat, meski sesungguhnya yang mereka perdebatkan hanyalah soal cinta yang belum tentu mereka pahami sepenuhnya.

Alone sadar, di balik kecerewetan Akong tersimpan rasa penasaran yang begitu besar. Ia pun sengaja menggodanya, sekadar ingin melihat sejauh mana sahabatnya itu mampu menyembunyikan kegelisahan.

“Jangan terlalu dipikirkan, Kong. Cinta itu bukan perlombaan,” kata Alone.

“Bukan perlombaan, tapi kalau terlalu lama menunggu, bisa-bisa orang lain duluan yang sampai,” jawab Akong cepat.

Alone kembali tertawa.

“Lihatlah, baru bicara cinta sedikit, kau sudah mulai takut kalah.”

Akong tersipu. Ia menundukkan kepala sambil menendang kerikil kecil di jalan.

“Bukan begitu. Aku cuma...”

“Cuma apa?”

Akong tak menjawab.

Alone tersenyum. Ia tahu, ada sesuatu yang sedang disembunyikan sahabatnya. Namun, ia memilih tidak mendesak. Bukankah setiap hati punya waktunya sendiri untuk mengungkapkan rahasia?

Mereka terus berjalan. Matahari pagi mulai meninggi, sementara suara kendaraan dan anak-anak sekolah perlahan memenuhi jalan. Sesekali percakapan mereka terputus, tetapi tak lama kemudian kembali berlanjut dengan pertanyaan-pertanyaan kecil tentang surat, Nurlaili, dan kemungkinan sebuah jawaban. Di antara tawa dan gurauan itu, tanpa mereka sadari, keduanya sedang belajar tentang satu hal yang sama: menunggu.

***

Tak begitu lama, mereka pun tiba di sekolah. Lonceng tanda masuk segera berbunyi. Suaranya memecah percakapan yang sejak tadi mengiringi langkah mereka.

Alone dan Akong yang belum sempat sarapan hanya saling berpandangan. Di tangan mereka masih ada sebungkus mi caluk, makanan sederhana yang biasa menjadi pengganjal perut sebelum memulai pelajaran.

“Cepat, Kong! Habisin dulu,” ujar Alone.

Akong mengangguk. Keduanya pun buru-buru menyantap mi caluk itu. Tak ada lagi waktu untuk menikmati kuah dan bumbunya. Beberapa suapan terakhir bahkan ditelan tergesa-gesa sambil sesekali melirik ke arah ruang kelas.

“Sudah?” tanya Alone.

“Sudah. Lari!”

Mereka bergegas menuju ruang kelas. Tas yang tersandang di bahu bergoyang mengikuti langkah mereka. Begitu sampai di depan pintu, keduanya menarik napas sejenak, lalu masuk sebelum guru benar-benar memulai pelajaran.

Urusan surat cinta dan Nurlaili terpaksa mereka simpan sementara.

Namun, bagi Akong, pertanyaan itu belum selesai.

Jawaban Nurlaili masih menunggu.(***).

(Bersambung...)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement