WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (5)

Cerbung Agusni AH
PENGANTAR REDAKSI:
Cerbung “Wajah Abah, Tangan Emak (5)” karya Agusni AH kembali menghadirkan kisah kehidupan anak-anak pesisir dengan warna yang lirih, sederhana, dan penuh makna. Episode ini mempertemukan dua sisi kehidupan Alone dan Akong: antara menepati janji, membantu keluarga, persahabatan, dan cinta yang masih polos.
Kisah surat-menyurat antara Akong dan Nurlaili menjadi ruang tumbuhnya rasa yang belum sepenuhnya mereka pahami. Penolakan Nurlaili menghadirkan kekecewaan, tetapi suasana kemudian mencair melalui adegan guyuran air limbah yang jenaka. Humor sederhana tersebut justru menjadi penyeimbang bagi kisah patah hati sekaligus memperkuat keakraban kedua sahabat.
Di balik kelucuan itu, Agusni AH tetap menyisipkan realitas sosial: kemiskinan, perjuangan pendidikan, tanggung jawab, dan keteguhan seorang anak untuk menjaga kepercayaan. Alone digambarkan bukan sekadar bocah pesisir, melainkan anak yang mulai memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.
Episode ini menunjukkan bahwa kehidupan tidak selalu hadir dalam kesedihan yang panjang. Kadang, air mata, kekecewaan, dan tawa dapat mengalir dalam satu malam yang sama. Di situlah kekuatan cerbung ini: menghadirkan kehidupan anak-anak kampung dengan kesederhanaan, keluguan, dan kehangatan yang terasa dekat dengan pembaca, silahkan menyimaknya.(red).
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (5)
“SEPULANG mengaji nanti malam, kita ke tambak Abu panen udang, Lon.”
“Tapi, aku sudah terlanjur janji dengan Bang Ma’e Lekmen. Mau nangguk nener, Kong.”
“Batalkan saja,” desak Akong.
Alone terdiam. Ia tahu, membatalkan janji bukan perkara ringan. Apalagi Bang Ma’e Lekmen sudah memercayainya untuk ikut mencari nener malam itu. Namun, ajakan Akong membuat pikirannya terbelah antara janji dan kesempatan mendapatkan sedikit penghasilan untuk membantu Emak.
“Kenapa harus malam ini, Kong?” tanya Alone akhirnya.
Akong tersenyum tipis.
“Karena panen udang cuma datang sesekali. Kesempatan jangan dibiarkan lewat begitu saja.”
Namun, Alone menolak halus ajakan Akong. Baginya, janji adalah kepercayaan yang tak boleh dikhianati, sebab sekali retak, kebersamaan pun bisa ikut renggang. Biarpun menangguk benur di laut belum tentu mendapatkan hasil, tetapi ia tak ingin mengecewakan Bang Ma’e Lekmen yang telah memberinya kepercayaan. Baginya, sedikit hasil tak sebanding dengan harga sebuah janji yang harus ditepati.
“Maaf, Kong, ya. Biar saja aku ke laut nanti malam. Kalau besok malam Abu masih panen, aku akan ikut,” tegas Alone.
Akong hanya mengangguk kecil. Sebenarnya, ia sangat menginginkan Alone ikut bersamanya. Akan lebih seru jika mereka bisa membakar udang tiger hasil panen, atau siapa tahu menemukan beberapa ekor kepiting untuk dimasak bersama mi instan. Di sela asap pembakaran dan aroma udang yang menguar, mereka bisa duduk berdua, berceloteh tentang banyak hal—terutama tentang Nurlaili.
Ada cerita yang memang terasa lebih nikmat jika dibagi bersama sahabat.
Begitu pula yang terlintas dalam pikiran Akong. Jika Alone ikut, mungkin Abu akan memberinya uang lebih. Setidaknya, uang itu bisa disisihkan untuk biaya sekolahnya. Tak lama lagi Alone akan menamatkan sekolah dasar. Untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, tentu diperlukan biaya yang tidak sedikit.
Akong sendiri telah menjadi yatim. Ia tinggal bersama ibunya dan dua adik laki-lakinya, Ilyas dan Idris. Namun, dibandingkan Alone, nasib mereka masih jauh lebih beruntung. Mereka masih memiliki tempat bersandar: Abu, kakek mereka.
Abu memiliki beberapa kebun kelapa, hamparan sawah, dan sejumlah tambak. Dari hasil itulah kebutuhan keluarga mereka banyak terbantu. Karena itu, Akong sering membayangkan betapa beratnya jalan yang harus dilalui Alone. Tidak ada Abah yang bisa menjadi tempat bergantung. Hanya ada Emak, dengan tangan yang tak pernah benar-benar berhenti bekerja.
Mungkin karena itulah Akong selalu ingin mengajak Alone dalam setiap kesempatan. Bukan semata-mata untuk bermain atau berbagi cerita, tetapi juga agar sahabatnya itu punya sedikit tambahan untuk menyambung sekolahnya.
Petang mulai turun. Cahaya senja mengapung di atas kampung pesisir itu, menyisakan semburat jingga di antara atap-atap rumah. Bang Ni dan Cut Kak sudah bersiap menuju tempat mengaji. Keduanya menunggu Alone yang masih berada di rumah Abu.
“Cepat, Kong. Cut Kak dan Bang Ni sudah menunggu kita.”
“Sebentar. Kita tunggu Abu berwudu dulu. Setelah itu aku masuk ke kamar Abu lewat jendela. Kau tunggu di luar, jaga-jaga kalau Abu datang. Jangan sampai ketahuan.”
Akong kemudian meminta Alone segera mengetuk-ngetuk dinding sebagai isyarat apabila Abu sudah selesai berwudu. Dengan begitu, ia bisa segera meloncat keluar melalui jendela.
Namun, sebelum Abu selesai berwudu, Akong ternyata sudah lebih dulu menjalankan aksinya.
Celengan Abu yang sejak lama tersimpan di dalam kaleng Khong Guan berhasil dibidiknya. Keping-keping uang pecahan seratus rupiah berpindah ke saku celana Akong. Tangannya cekatan, seolah sudah hafal betul tempat dan cara mengambilnya.
Itulah kebiasaan yang diam-diam telah berulang kali dilakukan Akong. Uang hasil “jarahannya” membuat ia selalu punya uang jajan lebih. Sebagian bahkan digunakan untuk membayar jasa Alone—bukan sekadar sebagai penulis surat cinta, tetapi juga sebagai kurir rahasia yang mengantarkan suratnya kepada Nurlaili.
Bagi Akong, uang receh itu mungkin hanya kepingan kecil. Tetapi bagi Alone, setiap rupiah selalu punya cerita lain: tentang sekolah, tentang kebutuhan Emak, dan tentang masa depan yang belum tentu mudah diraih.
Alone menyadari ada tugas yang harus ditunaikannya. Sebuah tanggung jawab yang sudah disepakati dan berbayar, karenanya wajib diselesaikan. Ia pun kembali mencuri pandang kepada Nurlaili, mencari kesempatan untuk mengambil balasan surat cinta Akong.
Sesaat kemudian, mereka kembali bertemu di tempat yang sama seperti malam sebelumnya, ketika Alone menyerahkan surat itu kepada Nurlaili.
Nurlaili menyerahkan dua amplop. Satu berwarna putih, satu lagi berwarna biru.
“Ini balasan surat Suhardi. Yang warna biru ini untuk Alone. Tolong, jangan sampai siapa pun tahu. Kalau Alone tak berkenan membalasnya, amplop ini dibuang saja, ya,” pesan Nurlaili.
Pesan itu terasa sedikit aneh di telinga Alone. Namun, ia tak terlalu memikirkannya. Yang terpenting, surat Akong sudah mendapat balasan dan sebentar lagi akan sampai ke tangan sahabatnya.
Saat hendak menyimpan kedua amplop itu, sekilas mata Alone tertumbuk pada tulisan di atas amplop biru:
“Ini surat buat Alone. Bila berkenan, baca dan balaslah. Jika tidak, jadikan ini sebuah rahasia dan buang saja.”
Alone terdiam sesaat.
Ada sesuatu yang tiba-tiba terasa asing dalam benak Alone. Mengapa Nurlaili ikut mengirimkan surat kepadanya? Bukankah kemarin malam hanya surat Akong yang ia antarkan?
Alone memandangi amplop biru itu sejenak. Ada rasa penasaran yang perlahan tumbuh, tetapi ia memilih menyimpannya rapat-rapat. Ia tak ingin berprasangka. Barangkali Nurlaili hanya ingin menyampaikan sesuatu yang penting.
Namun, entah mengapa, amplop biru itu terasa berbeda. Seolah-olah ada sebuah cerita yang sengaja dititipkan kepadanya—cerita yang belum berani dibuka.
Alone dan Akong bergeser ke belakang dapur rumah Teungku Dolah yang berhadapan dengan balai pengajian. Lewat celah-celah dinding dapur yang terbuat dari anyaman bambu, cahaya lampu teplok menyusup samar, cukup untuk menerangi amplop surat balasan yang baru saja diterima Akong.
Di bawah cahaya yang remang-remang itu, mereka mengeja kalimat demi kalimat dengan suara hampir tak terdengar.
“Maafkan saya, Suhardi. Jika kita bersahabat saja.”
Wassalam,
Nurlaili.
Akong terdiam. Lama. Seolah kalimat pendek itu tiba-tiba menjadi begitu panjang dan berat untuk diterima. Ia menatap surat di tangannya, sementara cahaya lampu teplok bergetar di sela anyaman bambu.
Alone melirik sahabatnya. Tak ada kata yang keluar. Malam di balai pengajian tetap berjalan seperti biasa, tetapi bagi Akong, sesuatu di dalam dirinya seperti baru saja padam.
“Sabar saja. Mungkin kita memang belum cukup usia untuk mencintai Nurlaili,” ujar Alone sambil menepuk-nepuk bahu sahabatnya, mencoba menguatkan hati Akong yang sedang patah.
Memang, usia mereka masih dua tahun di bawah Nurlaili. Gadis itu sudah duduk di kelas dua Tsanawiyah, sementara Alone dan Akong masih menjadi bocah ingusan di kelas enam SD.
Malam itu, mereka mungkin belum benar-benar mengerti apa arti cinta. Yang mereka tahu, ada rasa yang tiba-tiba tumbuh, lalu harus belajar menerima ketika rasa itu tidak menemukan jalan pulang.
Dalam keterpakuan itu, Akong masih dirundung galau. Sementara Alone berusaha membujuknya kembali ke balai pengajian. Ia khawatir keberadaan mereka yang terlalu lama di sudut rumah berkontruksi kayu dan bambu itu akan mengundang kecurigaan anak-anak lainnya.
“Sudahlah, Kong. Kita kembali. Nanti anak-anak curiga,” bisik Alone.
Akong belum sempat menjawab. Tiba-tiba—
Byuuur!
Air limbah dari dalam rumah Teungku Dolah meluncur deras melalui jendela kecil dan mengguyur tubuh mereka berdua.
Alone terperanjat. Akong pun membeku.
Mereka saling pandang. Bau tak sedap segera menyeruak, membuat keduanya menahan napas.
Rupanya, Macut, istri Teungku Dolah, tanpa mengetahui ada dua anak sedang berdiri di bawah jendela, tengah membuang air limbah rumah tangga.
“Aduh!” pekik Akong sambil mengusap wajahnya.
Alone menahan tawa. Dalam situasi seperti itu, ia sendiri tak tahu harus kasihan kepada Akong atau menertawakannya.
“Makanya, Kong… jangan terlalu lama mencuri waktu,” godanya lirih.
Akong melotot. Namun, di balik wajahnya yang masam, ada sesuatu yang perlahan mencair. Untuk sesaat, galau yang sejak tadi membebani dadanya seperti ikut hanyut bersama air limbah yang mengalir ke tanah.
Keduanya pun saling pandang, lalu cengengesan, tertawa geli dalam diam. Bau air limbah yang masih melekat di tubuh seolah tak lagi mereka pedulikan. Untuk sesaat, kegelisahan Akong pun mencair, tergantikan tawa kecil yang tak tertahankan.(***).
(Bersambung...)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda