WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (6)

Cerbung Agusni AH
PENGANTAR REDAKSI:
“Wajah Abah, Tangan Emak (6)” menghadirkan fragmen kehidupan Alone dalam suasana pesisir dan pedalaman Aceh Utara yang sarat dengan keterbatasan, kerja keras, dan kasih sayang keluarga. Cerita bergerak melalui keseharian seorang anak yang sejak dini harus mengenal tanggung jawab: membantu nelayan, bekerja di tambak, hingga ikut menopang kehidupan keluarga. Di tengah kehidupan yang keras itu, sosok Emak tampil sebagai pusat keteguhan—perempuan yang tangannya kasar oleh pekerjaan, tetapi justru menjadi tempat bertumbuhnya harapan anak-anaknya.
Bagian ini juga memperluas latar belakang kehidupan Alone melalui kilas balik tiga tahun di Alue Dua, Nisam Antara. Kemiskinan, sekolah dengan kaki telanjang, pekerjaan di kebun, dinginnya pegunungan, serta kewajiban mengaji membentuk pengalaman masa kecil yang kelak memengaruhi cara Alone memandang kehidupan. Konflik antara ketegasan Emak dan keinginan Alone bermain menjadi gambaran kompleks tentang kasih sayang orang tua yang tidak selalu hadir dalam bentuk kelembutan.
Pada lapisan yang lebih dalam, Cerbung ini mulai membuka luka utama dalam diri Alone: absennya sosok Abah. Jika laut sebelumnya menjadi ruang kehidupan dan kebebasan, maka kenangan tentang Abah menjadi ruang kosong yang terus menyisakan pertanyaan. Kontras antara “wajah Abah” yang samar dalam ingatan dan “tangan Emak” yang nyata dalam perjuangan sehari-hari menjadi kekuatan simbolik cerita ini.
Secara keseluruhan, bagian keenam ini berfungsi penting sebagai jembatan antara masa kini Alone dan masa lalunya, sekaligus memperdalam fondasi emosional tokoh. Dengan bahasa yang lirih dan kontemplatif, Agusni AH tidak sekadar menceritakan kemiskinan masa kecil, tetapi mengajak pembaca melihat bagaimana keterbatasan, kehilangan, pendidikan, agama, dan kasih seorang ibu perlahan membentuk watak seorang anak.
Catatan redaksi: kekuatan utama episode ini terletak pada simbol tangan Emak sebagai representasi kasih, pengorbanan, dan keteguhan, sementara Abah hadir sebagai sosok yang justru semakin kuat melalui ketidakhadirannya. Di sinilah judul Wajah Abah, Tangan Emak memperoleh makna yang semakin utuh.(red).
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (6)
ALONE masih menjalani hari-hari seperti biasa. Terkadang ia ke pantai, menangguk benur dan nener, menunggu waktu ketika air laut pasang atau surut. Sesekali ia ikut menarik pukat jaring bersama nelayan, berharap ada beberapa ekor ikan yang bisa dibawa pulang.
Pada hari-hari libur sekolah, bersama anak-anak pesisir lainnya, Alone menjadi aneuk iteek¹—anak-anak yang biasa membantu membersihkan perahu sampan milik nelayan yang menjadi langganan mereka. Dari membersihkan sisa-sisa ikan hingga menguras air di dalam perahu, pekerjaan kecil itu mereka lakukan dengan riang. Upahnya mungkin tak seberapa, tetapi bagi Alone, setiap rupiah memiliki arti.
Tak jarang pula ia menghabiskan sebagian waktunya bekerja di tambak. Dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya, Alone belajar bahwa hidup tak selalu memberi ruang untuk bermain dan bermimpi.
Semua dilakoninya demi mendulang rupiah. Uang yang diperolehnya bukan untuk ditabung dalam jumlah banyak, apalagi membeli sesuatu yang mewah. Cukup untuk membeli beras, memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar keperluan sekolah, dan sedikit meringankan beban Emak.
Begitu pun Cut Kak. Ia kerap membantu Emak, sesekali ikut menganyam tikar pandan yang kemudian mereka jual pada hari pekan, setiap Minggu, di Krueng Geukueh, ibu kota Kecamatan Dewantara. Sementara itu, Bang Ni mulai menetap di tempatnya bekerja, menjadi penjual kopi di salah satu warung di sana.
Ada tanggung jawab yang perlahan tumbuh di dalam diri mereka masing-masing—tanggung jawab seorang anak yang tahu bahwa di rumah ada seorang perempuan yang setiap hari menunggunya pulang.
Emak.
Perempuan yang tangannya tak pernah benar-benar berhenti bekerja. Tangan yang mengusap kepalanya ketika demam, menyiapkan makanan ketika lapar, dan diam-diam menyeka air mata ketika rindu kepada Abah datang tanpa permisi.
Alone sering memandangi tangan itu.
Tangan Emak yang mulai kasar. Garis-garis kehidupan semakin jelas di sana. Seolah setiap kerutan menyimpan cerita tentang hari-hari panjang yang telah mereka lewati bersama.
Dan setiap kali melihatnya, Alone teringat pada satu hal: ia tidak boleh menyerah.
Sebab, di balik tubuh kecilnya, ada cita-cita yang sedang ia perjuangkan. Dan di balik setiap langkahnya yang terkadang tertatih, ada tangan Emak yang selalu menjadi alasan untuk terus berjalan.
Tangan yang tak pernah meminta apa-apa, selain hanya ingin melihat anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang berguna.
***
BAGI Alone, keberadaannya di kampung pesisir Lancang Barat, Dewantara, terasa jauh lebih indah dan ringan. Laut, pasir, angin, dan suara ombak seakan memberi ruang bagi masa kecilnya untuk bernapas. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan kehidupannya tiga tahun lalu. Selama tiga tahun di pedalaman Aceh Utara, Alue Dua, Nisam Antara, terasa sangat lama.
Selama tiga tahun itu, Alone bersama Cut Kak dan Bang Ni ikut Emak berkebun. Mereka membuka lahan pertanian di kawasan pegunungan, mengolah tanah dengan tangan-tangan kecil yang belum sepenuhnya mengerti mengapa hidup harus sedemikian keras.
Alue Dua, Nisam Antara, Aceh Utara bukan hanya tempat mereka berkebun dan bertahan hidup. Di sanalah Alone bersekolah. SD Negeri di pedalaman itu menjadi sekolah pertamanya, dari kelas satu hingga kelas tiga.
Setiap hari, Alone berangkat ke sekolah dengan kaki telanjang. Ia harus menempuh jalan tanah sepanjang kurang lebih tiga kilometer pergi-pulang. Jika hujan turun, jalan itu berubah menjadi lumpur. Kaki kecilnya berkali-kali terbenam, lalu diangkat lagi dengan susah payah. Sepatu belum menjadi bagian dari kehidupan mereka. Barangkali, saat itu, sepatu adalah kemewahan yang bahkan tidak sempat mereka impikan.
Pada hari Minggu dan hari-hari libur sekolah, Alone kecil bersama Cut Kak dan Bang Ni kembali mencangkul lahan. Mereka menanam singkong dan ubi rambat. Tubuh-tubuh kecil itu bekerja di bawah matahari, menyatu dengan tanah dan keringat.
Pada kesempatan lain, Alone ikut Emak memetik kopi di kebun orang. Mereka sering menjadi pekerja langganan di kebun Teuku Rayeuk.
Dingin pun kerap menyusup ke tubuhnya yang masih kecil. Terlebih ketika musim penghujan tiba. Apalagi saat memasuki bulan-bulan yang mereka kenal sebagai bulan “ber-ber”: September, Oktober, November hingga Desember.
Dingin tidak hanya datang pada malam hari. Siang dan petang pun kadang terasa menggigit. Kabut turun dari perbukitan, gerimis menggantung di antara pepohonan, sementara tubuh kecil Alone harus tetap menjalani hari yang penuh gigil.
Menjelang senja, sebelum azan Magrib terdengar, mereka sudah harus tiba di balai pengajian Teungku Daud. Tidak ada alasan untuk terlambat. Sekolah harus dijalani, pekerjaan harus ditunaikan, dan mengaji tidak boleh ditinggalkan.
Pernah suatu senja, pada bulan Desember, gerimis sisa hujan lebat sejak pagi masih membasahi halaman rumah. Udara dingin membuat Alone enggan berangkat mengaji.
Ia berpura-pura sakit.
Namun Emak yang sangat memahami kondisi dan watak anaknya segera tahu bahwa sakit itu hanya alasan.
Murkalah Emak.
Dalam kemarahannya yang meluap karena takut anaknya tumbuh tanpa ilmu agama, Alone sempat dicekik dan dijerat lehernya dengan kain sarung dan digantung pada kayu melintang di pintu rumah.
Alone menangis.
Bukan karena takut kepada kemarahan Emak semata, tetapi karena tubuh kecilnya belum mampu memahami bahwa di balik kemarahan itu ada kecemasan seorang ibu.
Emak bukan sedang membenci anaknya.
Ia sedang takut.
Takut Alone menjadi bodoh dalam agama. Takut anaknya tumbuh tanpa pegangan. Takut kehidupan yang keras membuat mereka kehilangan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar makanan dan pakaian: iman.
Cut Kak yang baru berjalan beberapa langkah menuju tempat pengajian, mendengar kegaduhan dari rumah. Ia segera berbalik arah.
Langkah kecilnya dipercepat.
Ia pulang dan meleraikan Alone yang saat itu sudah berada dalam sergapan Emak yang kehilangan kendali.
Barangkali, sejak saat itulah Alone mulai mengenal satu hal yang kelak baru benar-benar dipahaminya setelah dewasa:
tangan seorang ibu kadang terasa keras bukan karena kehilangan kasih sayang, melainkan karena terlalu takut kehilangan masa depan anaknya.
***
Sebenarnya, Emak sudah mulai merasa nyaman hidup di pedalaman pegunungan Aceh Utara itu. Beberapa rante lahan untuk bercocok tanam telah dibelikan Abah dari hasil menjual tanah mereka di kampung pesisir Lancang Barat.
Bagi Emak, lahan itu bukan sekadar tanah. Di atasnya ada harapan. Ada tempat untuk menanam singkong, ubi rambat, dan kopi. Ada ruang bagi anak-anaknya untuk tumbuh dan kehidupan untuk dimulai kembali.
Namun, setelah tanah itu dibeli, Abah kembali pergi. Ia kembali kepada kehidupannya yang lain.
Sejak saat itu, kehadiran Abah dalam kehidupan Alone hanya sempat dirasakan sesaat.
Sesungguhnya, sejak dalam kandungan pun Alone sudah menjalani hidup tanpa seorang ayah. Ketika Emak mengandungnya tiga bulan, Abah telah pergi. Maka, bagi Alone kecil, sosok Abah lebih banyak hadir sebagai ruang kosong dalam ingatan daripada sebagai seseorang yang setiap hari bisa dipeluk dan dipanggil.
Hanya beberapa saat dalam hidupnya Alone sempat merasakan kehadiran Abah.
Selebihnya, ia tumbuh bersama Emak, Cut Kak, dan Bang Ni—di antara tanah pegunungan, kebun kopi, jalan berlumpur, dingin yang menggigilkan tubuh, dan suara azan yang selalu memanggil mereka pulang kepada Tuhan.
Barangkali itulah sebabnya kenangan tentang Abah selalu datang dengan cara yang berbeda. Tidak utuh, tetapi meninggalkan bekas. Tidak banyak kata, tetapi terasa panjang dalam perjalanan hidup Alone.
Abah pergi membawa kehidupannya yang lain. Emak tinggal membawa tiga anak dan sebidang tanah yang harus dihidupi. Sedangkan Alone tumbuh dengan pertanyaan yang bahkan sejak kecil belum mampu ia ucapkan: mengapa seorang ayah bisa begitu dekat dalam darah, tetapi begitu jauh dalam kehidupan?(***).
(Bersambung...).
¹(Aceh: anak bebek, dimaknai anak pembersih sampan nelayan)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda