WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (7)

Cerbung Agusni AH
PENGANTAR REDAKSI:
Cerbung “Wajah Abah, Tangan Emak” (7) kembali membawa pembaca menyusuri lorong masa kanak-kanak Alone dan Akong, ketika pendidikan, persahabatan, dan kerasnya kehidupan pesisir berkelindan dalam satu ruang. EBTANAS menjadi penanda berakhirnya masa sekolah dasar, tetapi sekaligus membuka kenyataan bahwa tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan. Bagi Alone, sekolah tetap menjadi jalan yang ingin ditempuh, meski harus berbagi waktu dengan pekerjaan untuk membantu Emak.
Episode ini juga menghadirkan sisi lain dari kepolosan masa kanak-kanak. Adegan ketika beberapa siswa diminta mengisi lembar jawaban peserta lain memperlihatkan bagaimana batas antara kepatuhan kepada orang dewasa dan pemahaman tentang benar dan salah belum sepenuhnya mereka pahami. Penulis tidak tergesa-gesa menghakimi tokoh-tokohnya, tetapi membiarkan peristiwa itu menjadi serpihan kenangan yang kelak dapat dibaca dengan kesadaran yang berbeda ketika mereka telah dewasa.
Perjalanan Alone dan Akong kemudian bergerak ke persimpangan. Alone memilih tetap bersekolah sambil bekerja, sedangkan Akong meninggalkan bangku sekolah setelah kepergian Abu. Tambak dan laut berubah menjadi ruang belajar bagi Akong, sementara Alone harus membagi hidupnya antara pagi yang diisi pekerjaan, siang dengan sekolah, dan malam bersama laut. Dua sahabat itu menempuh jalan berbeda, tetapi laut tetap menjadi titik temu—sebuah simbol bahwa kehidupan pesisir telah membentuk keduanya dengan caranya masing-masing.
Pada bagian akhir, cerita melebar dari ruang keluarga menuju lanskap sosial kampung pesisir yang berhadapan dengan gemerlap industri minyak dan gas. Cahaya PT Arun yang menerangi langit dikontraskan dengan kehidupan warga yang masih menggantungkan penghasilan kepada laut. Di sinilah episode ketujuh menemukan lapisan reflektifnya: kemajuan yang tampak dari kejauhan belum tentu menghadirkan kesejahteraan bagi mereka yang hidup paling dekat dengannya. Laut, dalam cerbung ini, bukan sekadar latar cerita, melainkan saksi perjalanan hidup—tempat anak-anak belajar tentang kerja, kehilangan, harapan, dan arti bertahan. Selengkapnya, pembaca setia dapat menyimak berikut ini.(red).
WAJAH ABAH, TANGAN EMAK (7)
UJIAN Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS) kelas enam akhirnya berlangsung. Alone dan Akong mengikutinya tanpa banyak kecemasan. Mereka telah melewati hari-hari panjang belajar, bermain, mengaji, sekaligus bergelut dengan kehidupan pesisir yang tak pernah benar-benar mengenal kata mudah.
Akong mendapat tempat duduk tepat di belakang Alone. Dengan wajah penuh semangat, ia menatap lembar soal di hadapannya. Di sebelahnya duduk Mariani, sang juara kelas yang hampir selalu bertengger di tiga besar setiap kali pembagian rapor.
Bagi Akong, duduk di samping Mariani seperti berada di bawah bentangan sayap burung Garuda—tenang, terlindungi, dan seolah-olah ada sedikit keberanian yang ikut menaunginya.
Sesekali Akong melirik ke arah Alone. Bukan untuk mencari jawaban, tetapi sekadar memastikan sahabatnya itu masih baik-baik saja. Mereka tahu, ujian hari itu bukan sekadar tentang angka-angka di atas kertas. Ada harapan yang ikut dipertaruhkan: harapan Emak, harapan guru-guru, dan mungkin juga harapan kecil yang diam-diam mereka simpan sendiri.
Di luar ruang ujian, angin pesisir terus berembus. Laut tetap bergulung seperti biasa, seakan tak peduli bahwa dua anak kampung sedang mempertaruhkan masa depan mereka di balik lembar-lembar soal.
Mariani keluar lebih dahulu dari ruang ujian. Tak lama kemudian, Akong dan Saiful Bahri menyusul. Berikutnya Ridwan, si jago kesenian, melangkah keluar dengan wajah yang tampak lebih ringan.
Hanya Alone dan siswa lainnya yang masih bertahan di dalam ruang kelas.
Ia tidak ingin terburu-buru. Lembar jawaban diperiksanya kembali, satu demi satu. Ia memastikan tidak ada soal yang terlewat, tidak ada jawaban yang tertinggal. Baginya, ujian itu bukan sekadar akhir dari masa sekolah dasar. Ada harapan yang hendak dibawanya pulang kepada Emak.
Setelah merasa semuanya terjawab, Alone pun meninggalkan ruang kelas.
Di sudut paling ujung sebelah barat pekarangan sekolah, ia melihat beberapa teman yang lebih dahulu keluar sedang berdiri di hadapan Pak Syamsuddin Hamzah, kepala sekolah yang akrab mereka panggil Pak Syam. Kepala sekolah itu tampak berbicara dengan suara rendah, seperti menyampaikan sesuatu yang tidak boleh terdengar oleh orang lain.
Melihat Alone, Pak Syam memberi isyarat.
“Alone, kemari.”
Alone mendekat.
Pak Syam kemudian membagi tugas. Alone, Mariani, Yusniar, Saiful Bahri, dan Akong diminta masuk ke ruang guru. Masing-masing mendapat nama yang harus mereka tangani. Beberapa teman lainnya diperintahkan berjaga-jaga di pekarangan sekolah.
Sementara itu, Ridwan mendapat tugas yang berbeda.
Ia berdiri di dekat tiang listrik sambil menggenggam sebuah batu.
“Kalau pengawas datang, ketuk tiang itu,” pesan Pak Syam.
Ridwan mengangguk.
Siang itu sekolah terasa lebih lengang. Para peserta ujian telah meninggalkan ruangan. Hanya suara angin dan bunyi-bunyi kecil dari kejauhan yang sesekali memecah kesunyian.
Semua menunggu.
Ridwan berdiri di tempatnya, memandang ke arah jalan.
Lalu, ketika ia merasa waktunya telah tiba, batu di tangannya diangkat.
Tok! Tok! Tok!
Itulah tanda bahwa jalan telah dianggap aman.
Lima anak yang mendapat tugas segera merangsek ke ruang guru. Di atas meja telah tersedia lembar-lembar jawaban yang harus mereka isi kembali untuk beberapa nama sebagaimana arahan Pak Syam.
Alone duduk di salah satu sisi meja.
Tangannya bergerak.
Namun kali ini, bukan lembar jawabannya sendiri yang sedang ia kerjakan.
Di luar, angin siang masih mengusap halaman sekolah. Tak seorang pun dari mereka tahu, bahwa kemudian, kenangan tentang siang itu akan tinggal sebagai serpihan masa kanak-kanak—sebuah masa ketika kepolosan, perintah orang dewasa, dan batas antara benar dan salah pernah menghiasi di kehidupan mereka.
***
Setelah EBTANAS usai, masa sekolah dasar pun perlahan menjadi kenangan. Masing-masing mulai memilih jalan pendidikan berikutnya.
Akong, Mariani, Yusniar, Ridwan, dan Saiful Bahri melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri Kruenggeukueh. Sekolah itu masuk pagi. Mereka akan kembali duduk di bangku kelas, mengenakan seragam, membawa buku, dan menapaki hari-hari baru sebagai anak-anak yang mulai meninggalkan dunia sekolah dasar.
Berbeda dengan Alone.
Ia memilih melanjutkan sekolah di sebuah SMP swasta di Kecamatan Gandapura. Sekolahnya masuk siang.
Bukan karena Alone tak ingin bersekolah di pagi hari bersama teman-temannya. Bukan pula karena ia ingin menjauh dari mereka.
Ada kehidupan lain yang harus ia jalani sebelum duduk di bangku sekolah.
Pagi hari adalah waktunya bekerja di tambak. Malam hari ia turun ke laut, mencari benur dan nener, mengikuti pasang-surut air, serta membantu pekerjaan yang bisa mendatangkan sedikit uang untuk kebutuhan hidup dan biaya SPP.
Karena itu, sekolah siang menjadi pilihan yang paling mungkin baginya.
Alone seperti sedang membagi tubuhnya kepada dua dunia.
Pagi untuk bekerja.
Siang untuk belajar.
Malam kembali kepada laut.
Begitulah hari-harinya kelak berjalan.
Di usia ketika sebagian anak seusianya masih sibuk dengan permainan dan buku pelajaran, Alone mulai belajar bahwa sekolah bukan satu-satunya ruang untuk menimba ilmu. Tambak mengajarinya tentang kesabaran. Laut mengajarinya membaca arah angin dan pasang. Dan kehidupan mengajarinya tentang arti bertahan.
Ia tetap ingin sekolah.
Tetapi ia juga tahu, ada tangan Emak yang harus dibantu.
Ada dapur yang harus tetap mengepul. Ada hidup yang tidak bisa menunggu sampai ia dewasa.
Akong ternyata tak sempat naik ke kelas dua. Kepergian Abu, kakeknya, membuat langkahnya di dunia sekolah semakin menjauh. Tak lama setelah itu, ia memilih berhenti sekolah. Seragam dan buku-buku pelajaran perlahan ditinggalkannya. Bangku kelas yang pernah mempertemukan dirinya dengan Alone pun tinggal kenangan.
Hari-harinya kemudian lebih banyak dihabiskan di tambak.
Ia belajar mengenali air, membaca gerak ikan, menunggu waktu panen, dan memahami pekerjaan yang sebelumnya hanya dilakukannya sesekali. Terkadang, ia juga ikut turun ke laut bersama para nelayan, seperti Alone menangguk benur dan nener bandeng.
Anehnya, Akong tidak merasa kehilangan. Ia justru seperti menemukan dunianya sendiri.
Tambak menjadi halaman sekolahnya.
Laut menjadi ruang belajarnya.
Angin dan pasang-surut menjadi guru yang mengajarinya membaca kehidupan.
Akong menikmati hari-harinya dengan sederhana. Ia tak lagi memikirkan buku-buku, angka-angka, atau bel sekolah yang memanggil masuk kelas.
Di tambak dan di laut, ia menemukan kegembiraan yang mungkin tidak pernah ia temukan di bangku sekolah.
Seperti halnya anak-anak pesisir di kampungnya, Akong lebih memilih rupiah yang mudah didapat dari alam di sekitarnya. Laut, tambak, dan tepian pantai menjadi tempat mereka mencari penghidupan. Bagi mereka, uang terasa lebih nyata ketika bisa diperoleh dengan tangan sendiri—dari benur yang ditangguk, ikan yang dijaring, atau hasil tambak yang dipanen. Sekolah memang pernah menjadi jalan, tetapi alam di sekitar mereka seolah menawarkan jalan lain yang lebih cepat untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan.
Sementara Alone terus melangkah dengan sekolah siangnya, Akong memilih jalan yang berbeda.
Dua sahabat yang pernah duduk berdekatan di ruang kelas sekolah dasar, dan pengajian di balai Teungku Dolah itu akhirnya dipisahkan oleh pilihan hidup.
Namun laut tetap menjadi titik temu mereka.
Dan masa kecil, seperti buih yang pecah di bibir pantai, perlahan-lahan meninggalkan jejaknya.
***
Seiring waktu bergulir, rutinitas Alone dan Cut Kak terus berjalan seperti biasa. Sementara Bang Ni, yang sejak setahun terakhir berjualan kopi di Kota Krueng Geukueh, hanya sesekali pulang ke rumah. Namun, setiap kepulangannya tetap berarti bagi Emak—ikut menopang biduk kecil kehidupan keluarga mereka.
Hingga akhirnya, Cut Kak dipersunting seorang lelaki dari Ujung Blang, Kota Petro Dollar. Cut Kak pun dibawa ke tempat suaminya, sebuah kampung yang menghadap langsung ke garis pantai Selat Malaka. Tak jauh di seberang muara laut, terpacak megah sebuah perusahaan raksasa: PT Arun, perusahaan pengolahan minyak dan gas bumi yang saban malam memancarkan cahaya hingga ke langit.
Namun, cahaya itu seakan berhenti di sana. Ia menerangi langit, tetapi tak cukup menerangi penghidupan warga yang tinggal di sekitarnya.
Tak terkecuali Bang M. Nur, suami Cut Kak. Hari-harinya tetap bergantung kepada laut. Menunggu pasang, membaca arah angin, menebar jaring, lalu berharap laut berbaik hati mengembalikan sebagian rezekinya.
Kampung pesisir Teupin–Lancang Barat, yang berjarak sekitar tiga kilometer, pun mengalami keadaan serupa. Padahal, desa itu termasuk dalam wilayah binaan sejumlah perusahaan besar—PT KKA, PT PIM, dan ASEAN. Namun, bagi sebagian warga pesisir, kedekatan dengan kawasan industri belum serta-merta berarti dekat dengan kesejahteraan.
Yang mereka rasakan justru sering kali hanyalah udara yang membawa aroma amonia, sementara asap dan cahaya industri menandai malam dari kejauhan.
Sumbu-sumbu api dari sumur-sumur gas alam menyala di kejauhan. Terang benderang seperti obor raksasa yang tak pernah padam. Tetapi bagi warga pesisir, cahaya itu terasa seperti cahaya dari dunia lain—terlihat jelas, tetapi tak selalu dapat disentuh.
Di antara kilau industri dan gelapnya kehidupan, laut tetap menjadi tempat mereka menggantungkan harapan.
Di sanalah perahu-perahu kecil berangkat membawa doa, lalu pulang membawa rezeki yang tak pernah pasti.
Barangkali begitulah ironi kampung pesisir: hidup berdampingan dengan sumber kekayaan bumi, tetapi tetap harus menyandarkan kehidupan kepada kemurahan laut.(***).
(Bersambung...)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda