Breaking News
Memuat breaking news...

Yang Tersisa dari Rumah Rosida Ramli Hanyalah Arah

Redaksi
Redaksi
Kamis, 14 Mei 2026 - 8.56 PM WIB
Yang Tersisa dari Rumah Rosida Ramli Hanyalah Arah
Rosida Ramli, bersama seorang putranya memakai peci di depan tenda pengungsian, pedalaman Bireuen, Salah Sirong, Kecamatan Jeumpa, April 2026.Waspada.id/Fauzan
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Ia masih bisa menunjuknya di tepi Krueng Peusangan, Desa Salah Sirong, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen. Di sana dulu dapurnya berdiri. Di sana ia biasa menanak nasi, menunggu air mendidih sambil mendengar suara sungai yang mengalir tenang. Kini yang tampak hanya aliran air yang lebih lebar, memakan bagian darat yang dulu mereka pijak.

“Di situ dulu rumah kami,” kata Rosida, suatu siang awal April lalu. Tangannya terangkat pelan, menunjuk ke satu titik yang tak lagi menyisakan tanda.

Ia berhenti sejenak, seolah memastikan ingatannya tidak keliru.

Ingatan itu selalu kembali ke satu pagi 26 November. Hujan turun sejak malam dan tidak benar-benar berhenti. Rosida bangun untuk salat Subuh. Seusai berdoa, ia mengikuti suaminya, Amin, ke belakang rumah.

Mereka membawa senter, berjalan di tanah yang mulai lembek. Di bawah cahaya tipis itu, tebing sungai tampak berubah.

Tanahnya tergerus, sebagian sudah hilang. Jarak antara sungai dan rumah tinggal beberapa meter. Air di bawahnya penuh, arusnya deras, seperti mendorong dari dalam.

“Hari masih gelap kami keluar melihat sungai. Kami benar-benar terkejut,” kata Rosida.

Tak lama, suara orang-orang mulai terdengar. Panggilan nama, langkah tergesa, pintu-pintu yang dibuka cepat. Warga keluar rumah, sebagian masih dengan sarung dan mukena. Pagi yang biasanya berjalan lambat mendadak padat oleh kecemasan.

Sekitar pukul enam, bunyi patahan itu datang.

Sebuah rumah di tepi sungai miring perlahan. Tidak langsung jatuh. Ia seperti bertahan sejenak, lalu kehilangan pijakan. Tanah di bawahnya runtuh, dan bangunan itu ikut turun, pecah, lalu hilang dalam arus.

Setelah itu, kejadian yang sama berulang. Satu per satu. Rosida masuk ke dalam rumahnya. Ia tidak sepenuhnya tahu apa yang harus diselamatkan. Waktu terasa sempit. Ia mengambil pakaian yang sempat dijangkau dan beberapa surat penting. Di luar, suara orang berteriak semakin dekat.

“Yang lain tidak sempat,” kata Rosida.

Ketika ia kembali ke pintu, tanah di bawah rumahnya mulai retak. Ia mundur beberapa langkah. Dalam waktu singkat, rumah itu ikut bergerak, miring, lalu jatuh ke arah sungai. Ia melihatnya sendiri.

“Kami cuma bisa melihat rumah kami dibawa air,” ujar Rosida.

Peristiwa itu tidak berhenti dalam hitungan menit. Dari pukul enam hingga sekitar pukul sepuluh pagi, rumah rumah di bantaran terus berjatuhan. Hujan masih turun. Langit tertutup awan kelabu yang tidak berubah sepanjang hari.

Menjelang malam, desa itu gelap. Listrik padam. Jalan keluar tertutup. Tidak ada sinyal telepon.

Pada dua hari pertama, Pulo Sirong benar-benar terputus dari luar.Warga mencoba bertahan dengan cara masing masing. Sebagian naik ke bukit, khawatir gerusan sungai akan meluas. Sebagian lain bertahan di rumah warga yang lebih tinggi di ujung dusun.

Rosida tak pergi jauh. Ia memilih tetap dekat dengan lokasi rumahnya. Ia dan keluarganya bermalam di bawah pohon sawit. Terpal dibentangkan seadanya. Malam itu panjang. Tidak ada yang benar-benar tidur.

Suara air terdengar tanpa jeda, diselingi bunyi longsoran dari arah sungai. Warga yang sempat naik ke bukit kembali turun. Mereka tidak menemukan rasa aman di mana pun.

“Malam itu menjadi malam terberat,” kata Rosida. “Kami makan seadanya, gelap-gelapan.”

Dua malam ia lalui di bawah pohon sawit. Ia tidak berbaring. Hanya duduk, menunggu pagi, sambil mendengar suara air yang tidak pernah benar-benar pergi.

Hari kedua, air mulai surut. Tapi bantuan belum juga datang. Warga bertahan dengan apa yang tersisa. Beras yang sempat diselamatkan dimasak bersama. Dari sungai, mereka menangkap ikan ikan besar yang muncul di arus yang mulai tenang.

“Ikan kerling besar-besar muncul,” kata Rosida.

Hari ketiga, warga berkumpul di meunasah. Mereka bermusyawarah. Dana desa sekitar Rp8 juta digunakan untuk membeli beras bagi hampir seribu orang.

Hari keempat, para pemuda membuka jalan setapak secara swadaya. Dengan parang, mereka membelah kebun sawit agar sepeda motor bisa keluar menuju Bireuen.

Dua orang bocah sedang makan di dalam tenda pemgungsian, Salah Sirong, Jeumpa, Bireuen, April 2026. Waspada.id/Fauzan

“Kami buka jalan supaya bisa cari pertolongan,” kata Amin Aparatur Desa Salah Sirong.

Bantuan pertama yang datang bukan dari jalur resmi. Melainkan dari relasi pribadi warga dan pengusaha yang mereka hubungi sendiri.

Selebihnya, mereka bertahan. Bagi Rosida, yang berubah bukan hanya bentang desa, melainkan hidupnya.

Hampir lima bulan setelah banjir, ia masih tinggal di tenda bantuan. Tenda kecil itu berdiri di atas tanah seadanya, menampung empat keluarga.

Siang hari, panas menekan dari atas terpal. Udara di dalam tenda terasa pengap. Malam hari, udara lembap masuk dari sela-sela. Saat hujan turun, air merembes ke dalam.

“Kami sudah tidak sanggup lagi duduk di bawah tenda,” kata Rosida.

Di dalam tenda itu, tidak ada ruang yang benar benar milik sendiri. Rosida tinggal bersama suami dan anak anaknya, berbagi tempat dengan keluarga lain.

Ia tidak lagi memiliki perabot rumah tangga. Semua hilang bersama rumahnya.

“Jangankan kulkas, piring saja kami tak punya lagi,” kata Rosida.

Bulan puasa lalu, ia jalani di tempat yang sama. Dalam ruang sempit, tanpa sekat. Ia tetap berusaha menjalani ibadah seperti biasa, meski tidak lagi dalam suasana yang ia kenal.

Sesekali Rosida tersenyum saat bercerita. Tapi matanya cepat basah.

Ia tidak berbicara panjang. Permintaannya sederhana.

Rumah

“Kami sangat butuh rumah layak huni,” tambah Rosida.

Sejumlah rumah rusak dihantam banjir, di pinggir Krueng Peusangan, Gampong Salah Sirong, kecamatan Jeumpa, Bireuen, April 2026. Waspada.id/Fauzan

Kalimat itu ia ulang, pelan, seperti memastikan ia didengar.Ia tidak lagi punya tanah. Tidak punya tabungan. Tidak punya cukup tenaga untuk memulai dari awal tanpa bantuan.

“Kami hidup dari nol lagi,” ujar Rosida.

Di bawah terpal itu, hari hari berjalan lambat. Pagi datang, siang lewat, malam kembali. Tidak banyak yang berubah. Yang tersisa hanyalah menunggu.

"Kami terus menunggu. Tapi kami tak tau harus menunggu sampai kapan," kata Rosida.

Sementara itu, Charul Hasni, seorang pemerhati perempuan dan anak, juga memberikan pandangan terkait derita yang dialami korban bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Bireuen.

“Ruang gerak mereka dibatasi oleh minimnya fasilitas gender-responsive (ibu menyusui), tidak ada ruang khusus, yang nyaman bagi perempuan. Akses Mandi Cuci Kakus (MCK) terbuka umum meningkatkan risiko pelecehan atau KBG (kekerasan berbasis gender),” sebut Charul Hasni.

Charul Hasni menambahkan, kondisi perempuan memasak untuk kebutuhan rumah tangga pasca bencana di tenda pengungsian umumnya sangat menantang dan penuh beban ganda.

“Di lingkungan tenda yang padat, akses terbatas terhadap air bersih sering menjadi hambatan utama, sumber air yang tidak higienis digunakan untuk kebutuhan memasak dan air minum,” tutur Charul.

Charul menambahkan, perempuan, sebagai garda terdepan, bertanggung jawab penuh untuk memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga, dan bahkan bekerja harus bekerja sampingan untuk mendukung ketahanan pangan rumah tangga.

“Ada ketimpangan akses dan memperburuk situasi, dimana perempuan rentan mengalami defisiensi gizi, karena prioritas mereka memberi makan keluarga,” tambah Charul.

Pemerhati Perempuan (Dosen) Chairul Hasni, Kamis (14/5).Waspada.id/Fauzan

Charul mengatakan, masalah utama seorang istri yang tinggal di camp sambil tetap berusaha memenuhi kebutuhan lazim rumah tangga meliputi keterbatasan fasilitas dasar, seperti dapur, air bersih, ruang privasi, dan sanitasi yang layak, mencuci, dan merawat anak menjadi sangat sulit dan melelahkan.

“Selain itu, tantangan emosional seperti rasa kesepian, kurangnya dukungan sosial, tekanan peran ganda (mengurus rumah tangga sendirian). Persoalan lain, timbul risiko stres, merasa tidak punya tempat yang aman dan stabil, serta tekanan sosial karena dianggap belum memenuhi peran istri dengan baik, padahal struktur rumah tangganya sendiri belum terpenuhi misalnya, tempat tinggal yang tetap suntuk perempuan bisa bekerja dengan bebas dan nyaman karena beban praktis justru banyak ditanggung istri atau perempuan,” tambah Charul.

Kata Charul, ruang gerak perempuan di tenda mencerminkan ketahanan tinggi di tengah kerentanan struktural, menekankan kebutuhan camp yang seimbang dengan kebutuhan dan fasilitas ramah gender untuk pemulihan berkelanjutan. (id73)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement