Yusril Ingatkan Wisudawan UT untuk Terus Belajar di Tengah Perubahan Zaman dan Perkembangan AIYusril Ingatkan Wisudawan UT untuk Terus Belajar di Tengah Perubahan Zaman dan Perkembangan AI

TANGERANG SELATAN (Waspada.id): Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra mengingatkan para wisudawan Universitas Terbuka (UT) agar tidak menjadikan gelar sarjana sebagai akhir dari perjalanan pendidikan.
Menurut Yusril, perubahan zaman dan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menuntut setiap orang untuk terus belajar, berpikir, beradaptasi, dan mengembangkan pengetahuan.
“Gelar sarjana yang saudara peroleh hari ini bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan memberikan kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan,” pesan Yusril sebagai pembicara kunci dalam seminar wisuda UT di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, Senin (27/7/2026).
Yusril mengatakan, pendidikan tinggi merupakan bagian dari pemenuhan hak asasi manusia yang menjadi kewajiban pemerintah. Karena itu, pemerintah harus berada di garda terdepan dalam memastikan masyarakat memperoleh akses pendidikan.
Dalam konteks tersebut, Yusril menilai kehadiran UT merupakan inovasi penting dalam memperluas akses pendidikan tinggi. Menurutnya, tidak banyak negara yang memiliki institusi pendidikan tinggi dengan sistem pembelajaran seperti UT.
“Inggris memiliki Open University. Tetapi di Malaysia, misalnya, tidak ada lembaga seperti ini,” ujarnya.
Menurut Yusril, kehadiran UT menunjukkan kesadaran pemerintah bahwa masyarakat membutuhkan sistem pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan mereka, termasuk bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil.
“Ini semua tidak terlepas dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi. Pemerintah memiliki kewajiban untuk memenuhi hak masyarakat atas pendidikan,” katanya.
Yusril kemudian membagikan pengalaman perjalanan pendidikannya sebagai gambaran bahwa proses belajar tidak mengenal batas usia maupun latar belakang. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah kejuruan, ia melanjutkan pendidikan di sebuah pesantren sebelum memberanikan diri mendaftar ke Universitas Indonesia (UI).
Datang dari kampung ke ibu kota untuk mengikuti ujian masuk UI, Yusril mengaku tidak menyangka dirinya dapat diterima di perguruan tinggi tersebut.
“Saya tidak pernah menyangka bahwa setelah tamat dari sana, saya memberanikan diri mendaftar di Universitas Indonesia. Saya datang dari kampung ke ibu kota dan mengikuti ujian. Hasilnya, saya sendiri tidak percaya bahwa saya dapat masuk Universitas Indonesia,” tuturnya.
Pengalaman tersebut, kata Yusril, semakin menguatkan keyakinannya bahwa belajar merupakan proses sepanjang hayat.
“Pengalaman belajar dari kecil terus sampai dewasa. Dan sampai hari ini, saya tidak pernah berhenti belajar,” ujarnya.
Dalam perjalanan akademiknya, Yusril mempelajari berbagai tradisi pemikiran, mulai dari hukum Barat, hukum Islam, hingga hukum adat. Pengalaman tersebut membentuk pandangannya bahwa seorang intelektual tidak seharusnya hanya memahami satu sumber pengetahuan.
Menurutnya, pemahaman terhadap berbagai tradisi pemikiran, baik Barat, Timur, Islam, maupun tradisi lainnya, penting untuk membangun cara pandang yang luas dan kontekstual.
“Kita harus menjadi orang Indonesia, menjadi orang Islam, yang memahami pemikiran Timur, pemikiran Barat, pemikiran Islam, dan pemikiran dari berbagai belahan dunia lainnya,” katanya.
Yusril juga menyoroti perkembangan AI yang menjadi salah satu tantangan besar dunia saat ini. Namun, ia menilai perkembangan teknologi tersebut pada dasarnya berakar dari kemampuan alamiah manusia untuk berpikir dan mengembangkan pengetahuan. Karena itu, ia menekankan bahwa kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi akan tetap menjadi bekal penting bagi para lulusan perguruan tinggi.
“Teks-teks lama tidak pernah benar-benar sia-sia. Kita dapat membaca teks yang sama, tetapi dari waktu ke waktu akan selalu muncul tafsir-tafsir baru karena teks tersebut terus dihadapkan pada zaman yang selalu berubah dan mengalami pembaruan,” tuturnya.
Sementara itu, Rektor UT Prof. Dr. Ali Muktiyanto, mengatakan, UT merasa terhormat karena mendapat kesempatan menghadirkan Yusril Ihza Mahendra sebagai pembicara kunci dalam seminar wisuda kali ini.
“Kami merasa terhormat karena Universitas Terbuka kedatangan Bapak Yusril Ihza Mahendra sebagai pembicara kunci. Kehadiran beliau menjadi penyemangat bagi para wisudawan,” ujar Ali.
Menurut Ali, pengalaman dan pemikiran Yusril memberikan inspirasi bagi para lulusan UT untuk terus belajar, mengembangkan kapasitas diri, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Selain menghadirkan para tokoh nasional, Seminar Wisuda UT juga menyuguhkan kisah-kisah inspiratif dari lingkungan calon wisudawan. Melalui sesi motivasi, Prof. Gorky M. Sembiring mengajak para calon wisudawan untuk berani melangkah, terus belajar, dan siap menghadapi tantangan setelah meninggalkan bangku kuliah.
Semangat tersebut juga tercermin dari kisah para calon wisudawan yang hadir, mulai dari Titik Sumarlin sebagai calon wisudawan tertua, saudara kembar Muhammad Rafly Syafarudin Yusuf dan Muhammad Refly Syafarudin Yusuf yang menempuh pendidikan bersama, hingga pasangan suami istri Iqbal Allie Bayhaqy dan Galuh Tika Pratiwi yang sama-sama akan meraih gelar dari UT.
Kisah mereka menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan menuju wisuda memiliki cerita dan perjuangannya masing-masing.
Berbagai rangkaian Seminar Wisuda UT tersebut menegaskan bahwa perjalanan seorang calon wisudawan tidak berhenti pada pencapaian akademik semata. Melalui inspirasi dari para tokoh nasional, penguatan kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, serta kisah perjuangan para calon wisudawan, UT ingin memastikan setiap peserta memasuki prosesi wisuda dengan bekal pengetahuan, jejaring, dan semangat untuk terus berkarya.
"Bagi UT, seminar tersebut bukan sekadar agenda pendamping wisuda, melainkan momentum untuk meneguhkan komitmen bahwa pendidikan tinggi harus melahirkan manusia yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat," pungkas Ali. (id11)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda