13 Desa di Nias Barat Terendam Banjir


NIAS BARAT (Waspada.id): Sebanyak 13 desa di Kabupaten Nias Barat terendam banjir akibat diguyur hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung sepanjang malam pada Minggu (6/9). Hujan yang mengguyur wilayah Nias Barat mengakibatkan Sungai Lahomi dan Sungai Moro'o meluap.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nias Barat, banjir melanda wilayah 13 desa pada empat kecamatan dengan total 595 Kepala Keluarga (KK) terdampak.
Empat kecamatan terdampak tersebut meliputi Kecamatan Lahomi, Sirombu, Mandrehe Barat, dan Mandrehe.
Di Kecamatan Lahomi, banjir berdampak terhadap 331 KK yang tersebar di Bawadasi Desa Sitolubanua, Desa Lologundre, Iraonogaila, Onowaembo, Tiga Serangkai, dan Onolimbu.
Di Kecamatan Sirombu tercatat sementara 110 KK terdampak yang berada di Desa Gunung Cahaya, Orahili, dan Sisobandrao.
Sementara itu, di Kecamatan Mandrehe Barat terdapat 54 KK terdampak yang tersebar di Desa Ononamolo III, Sisobaoho, dan Desa Lolohia. Sedangkan di Kecamatan Mandrehe, sebanyak 100 KK terdampak di Desa Sisobambowo.

Dari pantauan, banjir yang terjadi pada beberapa lokasi merendam rumah masyarakat dengan ketinggian mencapai sekitar pinggang orang dewasa.
Bencana ini juga mengakibatkan kerusakan jalan dan jembatan, kematian ternak, serta kerusakan perabot rumah tangga, barang elektronik, dan barang dagangan masyarakat.
Hasil pendataan sementara juga mencatat 36 unit rumah mengalami kerusakan akibat banjir. Jumlah dan tingkat kerusakan tersebut masih terus diverifikasi oleh tim di lapangan. Hingga laporan ini disampaikan, tidak terdapat korban jiwa.
Bupati Nias Barat, Eliyunus Waruwu, yang dikonfirmasi melalui telepon seluler, Senin (7/9), menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam seluruh proses penanganan.
“Yang paling utama adalah memastikan masyarakat dalam keadaan aman. Seluruh perangkat daerah terkait harus bergerak cepat, memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, pelayanan kesehatan tersedia, bantuan tersalurkan dengan baik, serta akses yang terganggu segera ditangani,” ujar Eliyunus Waruwu.
Eliyunus memastikan bahwa Pemkab Nias Barat melalui BPBD bersama Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas PUTR, Dinas PKPLH, pemerintah kecamatan, dan pemerintah desa terus melakukan asesmen, pendataan, pelayanan kesehatan, penyiapan logistik, penanganan awal di wilayah terdampak, serta menyiapkan posko pelayanan dan dapur umum sesuai kebutuhan masyarakat di lapangan.
Selain menangani kebutuhan masyarakat, pemerintah daerah melakukan pemeriksaan terhadap jalan, jembatan, dan infrastruktur yang rusak serta melakukan pendataan secara menyeluruh sebagai dasar penanganan lebih lanjut.
Eliyunus Waruwu meminta agar seluruh data masyarakat terdampak, rumah rusak, infrastruktur, ternak, dan kerugian lainnya disusun secara akurat dan dilengkapi dokumentasi lapangan.
“Data harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Kita ingin memastikan bahwa setiap masyarakat yang terdampak mendapatkan perhatian dan penanganan sesuai kebutuhannya,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan jika bencana banjir ini juga dipengaruhi oleh luapan Sungai Lahomi dan Sungai Moroo. Oleh karena itu, Pemkab Nias Barat telah menyiapkan langkah koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk mendorong pemeriksaan teknis dan penanganan kedua sungai tersebut.
Menurutnya, penanganan tidak boleh hanya dilakukan pada saat banjir terjadi, tetapi harus dilanjutkan dengan upaya mengurangi risiko banjir berulang.
“Kita akan mendorong kajian dan penanganan Sungai Lahomi dan Sungai Moroo secara lebih menyeluruh. Apabila terdapat sedimentasi, penyempitan alur, kerusakan tebing, atau kebutuhan bangunan pengendali banjir, kita akan koordinasikan dengan pemerintah provinsi sesuai kewenangannya,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa Pemkab Nias Barat juga terus berkoordinasi dengan Pemprov Sumut dan pemerintah pusat dalam rangka mendapatkan dukungan penanganan apabila kebutuhan di lapangan melebihi kemampuan daerah.
Ia menginstruksikan seluruh perangkat daerah, camat, dan pemerintah desa untuk tetap berada di lapangan dan memantau perkembangan kondisi, terutama apabila kembali terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
“Masyarakat jangan dibiarkan menghadapi kondisi ini sendiri. Pemerintah harus hadir, bergerak cepat dan bekerja bersama sampai kondisi benar-benar pulih,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Eliyunus mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai dan wilayah rawan banjir agar tetap waspada terhadap kemungkinan hujan susulan serta segera melaporkan setiap perkembangan kondisi kepada pemerintah desa, kecamatan, atau BPBD Kabupaten Nias Barat. (id60)












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda