Breaking News
Memuat breaking news...

305 Ribu Peserta Ikuti KBC, Menag: Jawaban atas Krisis Moral dan Kekeringan Batin Pendidikan

Redaksi
Redaksi
Kamis, 23 April 2026 - 10.22 AM WIB
305 Ribu Peserta Ikuti KBC, Menag: Jawaban atas Krisis Moral dan Kekeringan Batin Pendidikan
Menag Nasaruddin Umar
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA(Waspada.id): Sebanyak 305.344 peserta mengikuti program Belajar Mandiri Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang diluncurkan Kementerian Agama sebagai upaya menjawab berbagai tantangan dunia pendidikan, mulai dari kekeringan batin hingga meningkatnya kasus perundungan, kekerasan, dan kebencian.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, Kurikulum Berbasis Cinta hadir sebagai paradigma baru yang menekankan pendidikan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.

“Kita tidak ingin melahirkan anak didik yang kering batinnya, hanya tajam pikirannya. Yang kita harapkan adalah pikirannya tajam tapi hatinya juga subur,” ujar Nasaruddin di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Menurutnya, fenomena kekeringan batin dalam dunia pendidikan perlu segera direspons melalui pendekatan yang lebih humanis. Karena itu, Kementerian Agama mendorong guru, penyuluh, dan ASN menjadi agen utama dalam menyebarkan nilai-nilai cinta, empati, dan kepedulian sosial, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas.

Ia menambahkan, Kurikulum Berbasis Cinta juga diarahkan untuk melahirkan generasi yang tidak hanya produktif, tetapi juga membawa keberkahan dalam setiap aktivitasnya. “Tidak semua produktif itu berkah, dan tidak mungkin ada berkah tanpa produktif,” tegasnya.

Belajar Mandiri KBC

Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM Muhammad Ali Ramdhani menjelaskan bahwa program Belajar Mandiri KBC bertujuan meningkatkan kompetensi pedagogik dan kepribadian guru serta penyuluh.

“Tujuan dari pelatihan ini pada dasarnya adalah ingin memberikan pengetahuan, pengalaman, serta kemampuan untuk menginternalisasi pemaknaan Kurikulum Berbasis Cinta,” ujarnya.

Menag menjelaskan, sasaran utama program ini adalah terwujudnya ekosistem pendidikan dan kehidupan beragama yang harmonis, inklusif, dan berkeadaban. Dalam ekosistem tersebut, peserta didik dan masyarakat diharapkan tumbuh dengan karakter saling menghargai, toleran, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

“Para peserta diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai cinta dalam proses pembelajaran, pembinaan umat, dan pelayanan publik secara konkret dan berkelanjutan,” kata Nasaruddin.

Ia juga menekankan pentingnya membangun relasi yang penuh kasih, tidak hanya antar sesama manusia tetapi juga terhadap makhluk hidup dan lingkungan.

“Sehingga mereka akan bertoleransi satu sama lain, mereka akan mencintai sesamanya bahkan sesama makhluknya, lingkungan hidupnya,” imbuhnya.

Pelaksanaan program secara daring dinilai menjadi strategi efektif dalam pemerataan akses pelatihan. Dengan metode ini, guru dan penyuluh di seluruh pelosok Indonesia dapat memperoleh kesempatan yang sama untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas diri.

“Belajar Mandiri KBC diharapkan menjadi gerakan nasional yang membumikan nilai cinta dalam pendidikan, dengan dukungan sinergis antara pemerintah, guru, dan masyarakat,” tandasnya.(id11)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement