34 Alumni Pesantren Raudhah Hasanah Medan Dipeusijuk IKRH Banda Aceh

BANDA ACEH (Waspada.id): Ikatan Keluarga Raudhah Hasanah (IKRH) Cabang Banda Aceh menggelar peusijuk 34 alumni baru yang meneruskan studi mereka ke berbagai Perguruan Tinggi di ibukota Provinsi Aceh.
Agenda tahunan tersebut digelar di pantai Babah Kuala Leupung, Aceh Besar pada Selasa (22/9/2026) dari pagi hingga petang.
Rangkaian agenda peusijuk diawali dengan persembahan tarian khas masyarakat dataran tinggi Gayo, terutama Gayo Lues. Yaitu, Saman, yang ditampilkan oleh 7 alumni ke 34 dan 35.
Ketua Panitia peusijuk 2026 IKRH Banda Aceh, Wahda Raihan, menuturkan bahwa kegiatan itu dibuka oleh Sekretaris IKRH Banda Aceh, Ahmad Arif beserta beberapa pengurus lainnya dan dihadiri oleh seratusan alumni.
"Ke 34 anggota baru yang kita peusijuk kali ini merupakan bagian dari alumni ke 35 pesantren Raudhah Hasanah Medan yang lulus pada Mei 2026. Mereka melanjutkan studi ke berbagai kampus di Banda Aceh. Termasuk beberapa yang sedang mengikuti bimbel kedinasan', ujar Wahda.
Melalui peusijuk ini, ungkap Wahda , para alumni baru tersebut diperkenalkan kepada berbagai leting alumni di Banda Aceh dan Aceh Besar. Baik yang telah berdomisili maupun masih studi.

Tarian Saman Gayo Lues dipentaskan oleh anggota IKRH Banda Aceh dalam pembuka agenda peusijuk 34 alumni pesantren Raudhah Hasanah Medan di pantai Babah Kuala Leupung, Aceh Besar, Selasa (22/9/2026).(Waspada.id/Ist)
"Adik-adik kami tersebut tidak hanya dari beragam daerah tingkat dua di provinsi Aceh, namun juga dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Karenanya urgen kita kenalkan mereka kearifan lokal masyarakat Aceh secara umum", imbuh Wahda, alumni ke 34 tahun 2025.
Sementara itu, Ahmad Arif, Sekretaris IKRH Banda Aceh, dalam sambutannya mengatakan bahwa persaudaraan atau ukhwah islamiyah merupakan salah satu dari panca jiwa yang dituntunkan selama enam tahun menimba ilmu di pesantren Raudhah Hasanah Medan.
"Butir keempat dari panca jiwa tersebut mengajarkan ketulusan dalam bersaudara. Karenanya tidak ada istilah senioritas yang salah kaprah seperti yang sering kita saksikan dalam kekinian hidup maupun kedisinian kehidupan. Kita terbiasa membersamai alumni tanpa melihat tentang waktu di antaranya", ujar Arif, alumni ke 8 tahun 1999 silam.
Arif yang berdomisili di Banda Aceh sejak hari ke 3 pasca tsunami 2004 silam mengingatkan anggota baru IKRH Banda Aceh bahwa tujuan utama mereka ke daerah ujung Barat Nusantara adalah menempa diri dengan keilmuan dan skil yang telah dipilih.
"Selama rangkaian panjang studi itu, diharapkan setiap alumni memaksimalkan ikhtiar dalam berjejaring. Jangan sampai hanya datang, duduk, dengar dan pulang dari kampus, lalu habiskan waktu scroll gawai yang tidak hadirkan kebaikan dan atau kebermanfaatan", imbuh Arif 13 tahun lalu mendirikan RUMAN Aceh bersama istrinya, Rizky Sopya.
Usai dilakukan peusijuk kepada dua perwakilan alumni ke 35, ada motivasi dari M. Hatta Bulkaini Sekedang, alumni ke 12 yang sejak 2024 lalu diamanahkan sebagai anggota DPR Aceh dari daerah pemilihan Aceh Tenggara dan Gayo Lues.
"Apa yang dituntunkan kepada kita selama nyantri dahulu menjadi modal dasar fundamental dalam mengisi hidup dan kehidupan di mana pun berada. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi alumni untuk tidak memaksimalkan ikhtiarnya. Berdiri di atas dan untuk semua golongan", ujar Hatta.
Sebagai informasi, di antara pengurus IKRH Banda Aceh yang hadir ada Mahlia Sofa Altas, alumni ke 6 tahun 1997, yang berkhidmah di Dinas Kesehatan provinsi Aceh. Ada pula Diliga Mahardika yang seangkatan dengan Hatta Bulkaini dan bergerak dalam bidang swasta.(id66)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda