340 Siswa dan Guru di Agam Diduga Keracunan MBG, di Sidoarjo Korban Tembus 566 Orang


AGAM, Sumatera Barat (Waspada.id): Sebanyak 334 orang penerima manfaat makanan MBG di Kecamatan Palupuh Kabupaten Agam Sumatera Barat, mengalami keracunan dan menjalani perawatan medis.
Camat Palupuh, Nong Rianto Dt Maruhum mengatakan, korban keracunan setelah santap siang MBG, berasal dari tiga nagari yang ada di Kecamatan Palupuh.
"Korban tidak hanya dari satu daerah, tapi tiga nagari. Nagari yang terdampak di Palupuh, Nagari Nan Limo, Pasia Laweh, dan Koto Rantang. Totalnya (sementara) 334 orang," katanya kepada wartawan.
Para penerima manfaat diduga keracunan pada Selasa (1/9) sekira pukul 10.00 WIB. Murid sekolah mengalami gejala demam, pusing, mual, muntah hingga diare dan langsung dilarikan ke Puskesmas Palupuh.
"Anak-anak ini mengonsumsi MBG pada Senin (31/8) lalu dan tidak ada kendala. Namun pada Selasa (1/9) sekira pukul 10.00 WIB lebih, mulai merasakan gejala keracunan, tapi saya tidak bisa memastikan apakah itu akibat mengonsumsi MBG," sebut Jonnedi, Kepala SD Negeri 08 Nan Limo, salah satu lokasi yang murid sekolah mengalami keracunan.
Di sekolah tersebut awalnya ada 21 anak yang merasakan gejala keracunan. Namun, jumlahnya bertambah pada hari ini, menjadi 54 siswa. Hingga kini, para siswa masih berobat di Puskesmas.
"Kalau yang dirawat tidak ada, cuma berobat saja ke puskesmas. Kalau kemarin ada 21 siswa, hari ini menjadi 54 orang," tambahnya.
Sesuai data sementara yang ada di kecamatan, 334 orang yang mengalami keracunan tersebut terdiri dari 274 dari siswa SD se Kecamatan Palupuh dan 19 orang guru SD. Lalu ada 40 siswa dari SMPN 1 Palupuh, dan dua orang guru sekolah tersebut.
Saat ini, seluruh korban terdampak dilarikan ke Puskesmas Palupuh dan rumah sakit di Bukittinggi.
Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal membenarkan adanya kasus dugaan keracunan MBG tersebut. Menurutnya, saat ini Dinas Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tengah melakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait MBG yang dikonsumsi tersebut.
"Benar adanya terkait dugaan keracunan, kita menduga setelah mengkonsumsi makanan dari dapur MBG yang ada di Palupuh," ucap Iqbal kepada wartawan.
"Saat ini antara Dinas Kesehatan dan BPOM sudah kordinasi untuk investigasi memastikan penyebabnya," jelasnya.
Wali Nagari Koto Rantang, Novri Agus Parta Wijaya, mengatakan bahwa MBG tersebut berasal dari satu dapur di Palupuh.
Nama dapur tersebut yakni Yayasan Affa Adicitta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam
Pemerintahan Kabupaten Agam meminta dapur SPPG di Palupuh berhenti beroperasi sementara waktu. Penghentian beroperasi sementara ini, diminta selama proses investigasi penyebab dugaan keracunan berlangsung.
"Untuk sementara, kita meminta agar dapur MBG tidak beroperasi dulu sampai hasil investigasi keluar," kata Wabup Iqbal.
Ia menyebut, hasil investigasi yang dilakukan oleh dua instansi tersebut diperkirakan akan keluar dalam seminggu ke depan.
"Perkiraan hasil keluar dalam satu minggu," tegas Wabup Agam.
Sementara saat ditanya, apakah Pemkab Agam memberlakukan dugaan keracunan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), Iqbal menyebut belum bisa memastikan.
Sebab, pihak Pemkab Agam akan memastikan hasil investigasi penyebab dugaan keracunan usai menyantap MBG di Palupuh terlebih dahulu.
"Kita menunggu hasil investigasi dari BPOM dan dinas terkait terlebih dahulu," tambahnya.
Tembus 566 Orang
Sementara jumlah korban keracunan diduga akibat program MBG di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, terus bertambah hingga mencapai 566 orang, per Rabu (2/9).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina mengungkapkan, jumlah tersebut merupakan gabungan dari data pasien sebelumnya ditambah temuan kasus baru.
"531 ditambah 35. Kurang lebih 566 ya," kata Lakhsmie di Sidoarjo.
Lakhsmie mengatakan, mayoritas korban memang merupakan santri dan santriwati Pesantren Manbaul Hikam. Namun ada pula siswa 19 lembaga pendidikan di sekitar Tanggulangin yang terdampak.
Mereka mengalami gejala mual, muntah dan pusing usai mengonsumsi makanan dari SPPG Kalitengah Tanggulangin tersebut, pada Selasa (1/9).
"Sementara nampaknya mual, muntah, pusing itu aja yang paling banyak," ujarnya.
Dari total korban tersebut, sebanyak 88 orang masih menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit yang telah disiagakan Pemkab Sidoarjo. Lakhsmie menyebut kondisi para pasien saat ini dalam keadaan stabil.
"Secara umum yang opname stabil. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sampai ke perawatan khusus, enggak ada. Dirawat inap biasa," katanya.
Ia menambahkan, korban yang baru dievakuasi turut disebar ke beberapa fasilitas kesehatan kapasitas yang tersedia. Yakni RSUD RT Notopuro, RS Delta Surya, RS Siti Hajar, RS Pusura, RS Aisyiyah, RS Bhayangkara, RS Arafah Anwar, dan RS Assakinah Medika.
"Rumah sakit umum dan ya nanti tergantung dari kapasitas di rumah sakit umum. Kemungkinan tadi kalau enggak salah di RS Delta Surya juga ada. Nanti kita lihat lagi, kita petakan lagi," ujarnya.
Sementara itu, sejumlah 470 korban yang kondisinya sudah membaik telah diperbolehkan pulang. Menurut Lakhsmie, keputusan pemulangan pasien mempertimbangkan kondisi klinis masing-masing.
"Ya tentunya kalau misalnya memang dirasa perlu masih ada keluhan ya kontrol. Kalau tidak, dengan obat yang sudah diberikan cukup, ya cukup selesai," katanya.
Terkait penanganan, Dinas Kesehatan Sidoarjo menyatakan telah mengaktifkan status krisis kesehatan sejak kasus ini pertama kali mencuat. Penanganan dibagi menjadi dua jalur, yakni lapangan dan rumah sakit.
"Langkah dari Dinkes yang pasti kita, karena ini kasusnya cukup massal, yang pertama kita aktifkan krisis kesehatan. Kemudian kita bagi dua, karena di sini perlu ada penanganan di lapangan, kita buka lapangan dengan korlapnya dari puskesmas. Kemudian untuk yang di rumah sakit-rumah sakit kita siagakan dengan tenaga kesehatan yang cukup," ujar dia.
"Termasuk juga dari obat-obatan dan sarananya. Dan alhamdulillah tadi malam sudah teratasi, baik dari si pasiennya sudah kondisinya membaik, hanya tinggal sekarang 88 orang yang di beberapa rumah sakit, kurang lebih 9 rumah sakit yang kita siagakan untuk mengatasi kondisi seperti ini," tambahnya.
Di sisi lain, penyebab pasti keracunan massal ini masih dalam proses investigasi. Dinas Kesehatan telah mengambil sampel muntahan pasien serta bahan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk diuji laboratorium.
Lakhsmie menjelaskan, hasil uji laboratorium tersebut membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Namun ia menegaskan yang lebih penting adalah evaluasi terhadap prosedur operasional standar (SOP) dapur SPPG penyediaan makanan.
"Ya biasanya sih kurang lebih satu minggu. Sebetulnya yang paling penting adalah bukan hasilnya itu, yang paling penting adalah sikap kita bagaimana terkait kalau misalnya memang ini terbukti dari permasalahan produk olahannya atau bahannya, itu yang paling penting. SOP-nya dijalankan atau tidak. Kemudian kan ini dari makanan datang sampai dengan dikonsumsi itu kan ada batas waktunya, nah ini sudah betul atau tidak. Itu yang perlu kita investigasi dan tentunya bukan dari Dinkes saja. Dari berbagai unsur termasuk dari BPOM nanti diturunkan," paparnya.
Sebelumnya Wakil Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, menyatakan pihaknya langsung bergerak ke lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) usai menerima laporan kejadian keracunan ini.
"Kami juga tadi sudah mendapatkan informasi langsung dan kami bergerak ke SPPG. Untuk saat ini, SPPG kita berhenti operasional," kata Teguh, Rabu dini hari.
Ia merinci SPPG Kalitengah Tanggulangin ini memasok sekitar 2.800 porsi makanan per hari untuk sekolah dan pesantren, dengan sekitar 1.000 porsi di antaranya untuk santri Ponpes Manbaul Hikam.
"Untuk hari ini 2.800. Sekolah dan pesantren. Di pesantren itu ada sekitar 1.000-an, sisanya di luar pesantren, di sekolah," ucap dia.
Teguh menyebut sampel makanan telah diambil oleh Dinas Kesehatan Sidoarjo dan kepolisian untuk diuji laboratorium.
"Selanjutnya, hasil lab dan lain-lain kita tunggu untuk satu minggu ke depan ya, untuk uji hasil lab," katanya.
Secara paralel, Teguh juga sudah memastikan dapur SPPG Kalitengah Tanggulangin yang menyuplai MBG ke pesantren itu telah di-suspen sementara oleh BGN pusat pascakejadian.
"Sementara ini karena memang sementara disuspen, dari BGN sudah surat turun disuspen sementara," ujarnya.
Mengenai jangka waktu pengehentian sementara operasional SPPG Kalitengah Tanggulangin ini, Teguh mengatakan keputusan akhir menunggu hasil evaluasi dan uji sampel laboratorium.
"Sampai hasil evaluasi ya, evaluasi dan hasil lab keluar. Jadi sementara kami sedang laporan ke pusat, pusat akan menimbang apakah disuspennya suspen sementara atau suspen permanen," pungkasnya.(id03/cnni)












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda