Breaking News
Memuat breaking news...

4.359 Mahasiswa UINSU Ikuti PBAK, Rektor: Mahasiswa Harus Unggul Dalam Ilmu Teduh Dalam Keberagaman

Redaksi
Redaksi
Selasa, 1 September 2026 - 3.23 PM WIB
4.359 Mahasiswa UINSU Ikuti PBAK, Rektor: Mahasiswa Harus Unggul Dalam Ilmu Teduh Dalam Keberagaman
4.359 mahasiswa baru UINSU mengikuti PBAK,Selasa (1/9) di Kampus UINSU . Rektor UINSU, Prof Nurhayati membuka acara tersebut. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.Id): Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan, Prof. Dr. Nurhayati, mengajak mahasiswa baru menjadikan masa perkuliahan sebagai ruang untuk membangun keunggulan intelektual, memperkuat karakter, serta menumbuhkan kepedulian sosial.

Pesan tersebut disampaikan Prof. Nurhayati saat memberikan sambutan pada kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UINSU Medan di Kampus UINSU Tuntungan, Selasa (1/9).Kegiatan itu diikuti 4.359 mahasiswa baru .

Mengawali sambutannya, Rektor menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru yang resmi menjadi bagian dari keluarga besar UINSU. Ia mengibaratkan kampus sebagai “rumah ilmu”, tempat mahasiswa belajar, bertumbuh, berproses, sekaligus mempersiapkan masa depan.

“Saudara tidak sekadar memasuki sebuah kampus. Saudara sedang memasuki fase penting dalam perjalanan kehidupan, sebuah fase untuk membentuk cara berpikir, karakter, kepribadian, kepemimpinan, dan masa depan,” ujar Prof. Nurhayati.

Menurutnya, PBAK tidak semestinya dipahami sebatas kegiatan pengenalan lingkungan kampus. Lebih dari itu, PBAK merupakan momentum untuk memperkenalkan budaya akademik, nilai-nilai kemahasiswaan, etika, tanggung jawab, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.Tahun ini, PBAK UINSU mengangkat tema “Membentuk Generasi Unggul dalam Ilmu, Teduh dalam Keberagaman, dan Rahmat bagi Semesta.”

Prof. Nurhayati menegaskan, tema tersebut bukan sekadar slogan, melainkan cita-cita yang hendak ditanamkan kepada mahasiswa sejak awal memasuki dunia perguruan tinggi. Menurutnya, menjadi mahasiswa berarti tidak hanya meningkatkan jenjang pendidikan, tetapi juga meningkatkan tanggung jawab sebagai insan terdidik.

Prof. Nurhayati menempatkan keunggulan intelektual sebagai fondasi pertama yang harus dibangun mahasiswa. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak berhenti belajar dan tidak merasa cukup hanya dengan pengetahuan yang diperoleh selama pendidikan menengah. Justru, menurutnya, perjalanan intelektual yang sesungguhnya baru dimulai ketika seseorang memasuki perguruan tinggi.

“Kampus mengajarkan kepada saudara bahwa ilmu tidak boleh diterima secara pasif. Ilmu harus dicari, dipertanyakan, diuji, dikembangkan, dan diamalkan,” katanya.Ia mendorong mahasiswa untuk gemar membaca, berani bertanya, aktif berdiskusi, serta membiasakan diri berpikir kritis, sistematis, kreatif dan inovatif.

Di tengah derasnya arus informasi, tantangan mahasiswa saat ini, kata dia, bukan lagi sekadar memperoleh informasi. Tantangan yang lebih besar adalah kemampuan membedakan informasi dengan pengetahuan, pengetahuan dengan kebenaran, serta kecerdasan dengan kebijaksanaan.“Kampus yang hebat tidak hanya melahirkan mahasiswa yang pintar, tetapi melahirkan manusia yang mampu menggunakan kepintarannya untuk kebaikan,” tegasnya.

Selain keunggulan akademik, Rektor UINSU mengingatkan mahasiswa untuk mampu merawat keberagaman. Menurutnya, kampus merupakan miniatur kehidupan masyarakat yang mempertemukan individu dengan beragam latar belakang daerah, budaya, pemikiran, pengalaman dan cara pandang. Perbedaan tersebut, katanya, bukan ancaman, melainkan kekayaan yang harus dirawat bersama.

Ia mengajak mahasiswa menjadikan keberagaman sebagai ruang untuk saling mengenal, memahami dan menghormati. Semangat tersebut sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 tentang manusia yang diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.“Jadilah generasi yang teduh dalam perkataan, teduh dalam sikap, teduh dalam pergaulan, teduh dalam menyampaikan pendapat, dan teduh ketika menghadapi perbedaan,” pesannya.

Prof. Nurhayati juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah membenci atau menghakimi orang lain hanya karena perbedaan pandangan. Mahasiswa, katanya, harus menjadi penjaga ruang publik yang sehat, bukan menjadi bagian dari penyebaran kebencian maupun informasi yang belum terverifikasi.Ia berharap mahasiswa mampu berbeda pendapat tanpa bermusuhan, berdialog tanpa merendahkan, berkompetisi tanpa menjatuhkan, serta berbeda pilihan tanpa kehilangan persaudaraan.“Inilah karakter akademik yang sesungguhnya,” ujarnya.

Ilmu Harus Memberi Manfaa

Pesan ketiga yang ditekankan Rektor adalah menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian. Mahasiswa, katanya, tidak hanya menjadi bagian dari kampus, tetapi juga bagian dari masyarakat, bangsa dan dunia.Karena itu, ilmu yang diperoleh di bangku kuliah tidak boleh berhenti di ruang kelas. Ilmu harus mampu hadir sebagai solusi atas berbagai persoalan kehidupan.“Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan individual, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab sosial. Manusia terbaik bukan hanya yang paling banyak mengetahui, tetapi manusia yang paling banyak memberikan manfaat,” tuturnya.Ia kemudian mengajak mahasiswa memegang prinsip “Berilmu untuk mengabdi, berprestasi untuk menginspirasi, dan berkarakter untuk memberi arti.”

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Nurhayati juga memberikan perhatian khusus terhadap ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika yang masih menjadi persoalan serius, termasuk di Sumatera Utara.Ia mengingatkan mahasiswa baru agar tidak pernah memberikan ruang bagi narkoba dalam kehidupan mereka. “Jangan sampai saudara yang hari ini datang ke kampus dengan membawa harapan orang tua, justru kehilangan masa depan karena terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa status sebagai mahasiswa tidak hanya memberikan kebebasan, tetapi juga menuntut tanggung jawab. Mahasiswa harus berani mengatakan tidak terhadap narkoba, menolak lingkungan pergaulan yang merusak, serta ikut menjaga teman yang mulai terjerumus dalam lingkungan yang salah.“Mari kita bersama-sama mewujudkan generasi yang unggul dalam ilmu, teduh dalam keberagaman, kokoh dalam integritas, luhur dalam akhlak, dan rahmat bagi semesta,” pungkasnya.(wsp.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement