50 Kelompok Daftar Pawai Budaya Uroe Lahee Pidie


SIGLI (Waspada.id): Dari leluhur datang warisan, dari generasi sekarang datang tanggung jawab. Di antara pakaian adat, kesenian dan permainan rakyat yang akan menghiasi Pawai Budaya Uroe Lahee Pidie ke-515, tersimpan pesan bahwa budaya tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dirawat dan diwariskan.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pidie mencatat 50 kelompok telah mendaftar untuk ambil bagian dalam pawai tersebut.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pidie, Dr. Ismed, S.Pd., M.Pd., Kamis (10/9), mengatakan pawai budaya menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Pidie ke-515 Tahun 2026.
Peserta pawai berasal dari lima kategori, yakni SKPK, umum, kecamatan, pelajar dan guru. “Untuk pawai budaya saat ini sudah ada 50 kelompok yang mendaftar, jumlah ini kita pastikan akan bertambah. Peserta berasal dari lima kategori, yaitu SKPK, umum, kecamatan, pelajar dan guru,” kata Ismed.
Ia menjelaskan, setiap kelompok terdiri dari minimal 10 orang dan maksimal 20 orang. Ketentuan tersebut diterapkan agar barisan peserta tetap tertib dan mudah diatur selama kegiatan berlangsung.
Menurut Ismed, pawai tersebut akan menampilkan busana adat dan budaya, sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan kearifan lokal serta kekayaan budaya Pidie.
Peserta dapat menampilkan pakaian adat Aceh, visualisasi tokoh sejarah, miniatur budaya dan kesenian lokal. Setiap kelompok juga diwajibkan membawa papan identitas barisan berukuran 80 x 50 sentimeter.
Rangkaian Uroe Lahee
Pawai budaya menjadi salah satu agenda dalam rangkaian Uroe Lahee Pidie (Pedir Darul Amni) ke-515 Tahun 2026.
Berdasarkan rundown kegiatan, rangkaian acara berlangsung 16–20 September 2026, meliputi kegiatan budaya, sejarah, keagamaan, pameran dan hiburan.
Agenda tersebut antara lain pentas seni dan budaya, Pameran Pembangunan dan Expo UMKM, sidang paripurna DPRK, ziarah ke makam Raja Pedir, kegiatan keagamaan, Haba Rakyat, Kanduri Raya, Peumulia Jamee, malam puncak serta sepeda santai.
Pawai Budaya dijadwalkan Sabtu (19/9), dengan peserta dari unsur pelajar, SKPK dan kecamatan. Rute dimulai dari Masjid Agung Al-Falah Sigli dan berakhir di panggung kehormatan kawasan Simpang Mess Golkar.
Dalam pawai, peserta juga diberi kesempatan menampilkan kesenian lokal atau atraksi singkat di depan panggung kehormatan dengan durasi maksimal dua menit.
Olahraga Rakyat
Selain pawai, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pidie juga mendorong pelestarian olahraga tradisional melalui kegiatan yang melibatkan siswa.
Cabang yang dipersiapkan meliputi Hadang, Egrang dan Tarek Situek (Tarik Pelepah Pinang -red). Hadang diperuntukkan bagi siswa SD dan SMP, Egrang untuk tingkat SMP, sedangkan Tarek Situek bagi siswa SD.
Proposal Festival Olahraga Tradisional IGORDA Kabupaten Pidie mencatat 119 siswa akan mengikuti perlombaan, terdiri atas 63 siswa SD dan 56 siswa SMP.
Panitia menyediakan hadiah, uang pembinaan dan plakat bagi peserta terbaik.
Kegiatan olahraga tradisional tersebut diharapkan menjadi sarana mengenalkan kembali permainan rakyat kepada generasi muda sekaligus menanamkan nilai sportivitas, kerja sama dan disiplin.
Jejak Sejarah
Dr Ismed mengungkapka, Upaya pelestarian budaya Pidie juga diperkuat dengan penetapan sejumlah situs cagar budaya. Melalui Keputusan Bupati Pidie Nomor 432.2/572/KEP.12/2026 tertanggal 24 Juli 2026, Pemerintah Kabupaten Pidie menetapkan enam situs cagar budaya.
Keenamnya yakni Makam Tuanku Hasyim Banta Muda di Kecamatan Padang Tiji, Makam Syaikh Abdussalam (Tgk. Syik di Pasi) Ibn Syaikh Burhanuddin di Kecamatan Kembang Tanjong, Kompleks Makam Tu Hanaffiah/Tu Ule Gle di Kecamatan Glumpang Baro, Kompleks Makam Tgk Chik Glee Meulinteung di Kecamatan Keumala, Makam Abdurrahim bin Hassan Assegaf (Habib Teupin Wan) di Kecamatan Tangse dan Kompleks Makam Raja Bihari di Kecamatan Muara Tiga.
Situs-situs tersebut wajib dijaga dan dipelihara. Perubahan bentuk, arsitektur maupun struktur situs yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya tidak diperbolehkan.
Dr Ismed berharap rangkaian Hari Jadi Pidie ke-515 tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum memperkenalkan sejarah dan budaya daerah kepada generasi muda.
Sebab, kata Dr Ismed warisan yang tidak dirawat akan menjadi cerita, sementara budaya yang diwariskan akan tetap menjadi jati diri. Dari sanalah sebuah generasi belajar bahwa kemajuan tidak harus membuatnya lupa kepada akar. (id69)












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda