8 Exavator Harapan, Anggota Komisi IV DPR RI, TA Khalid: Dari Lumpur Bencana ke Mimpi Aceh Bangkit8 Exavator Harapan, Anggota Komisi IV DPR RI, TA Khalid: Dari Lumpur Bencana ke Mimpi Aceh Bangkit

"Air bah itu datang tanpa ampun. Dari hulu hingga hilir, banjir bandang meluluhlantakkan tanah Aceh. Sawah yang hijau berubah menjadi lumpur pekat, tambak ikan hancur diterjang arus, rumah-rumah roboh, dan harapan seakan ikut hanyut. Tidak ada batas antara desa dan kota, semua sama-sama merasakan derita. Luka itu masih membekas, delapan bulan setelah bencana. Namun di tengah puing dan lumpur, secercah harapan mulai tumbuh: delapan exavator yang kini hadir sebagai tanda ikhtiar pemulihan".
Delapan exavator itu diberikan kepada delapan kabupaten di Provinsi Aceh yaitu Kabupaten Aceh—Tamiang, Kota Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Bireuen, Pidie Jaya, Aceh Barat, dan Aceh Selatan. Bantuan itu dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kata TA Khalid, bantuan ini bukan sekadar mesin, melainkan simbol ikhtiar untuk membersihkan luka bencana di sektor perikanan. Harapannya sederhana: tambak kembali berdenyut, nelayan kembali menebar jaring, kehidupan kembali berputar.
Pertanyaan tentang Waktu
Saat ditanya Waspada.id, apakah bantuan ini terlambat, mengingat bencana sudah berlalu delapan bulan? TA Khalid menjawab tegas: “Tidak terlambat. Bencana terjadi di akhir tahun, sementara anggaran sudah berjalan. Mekanisme penganggaran tidak bisa serta-merta diubah. Selama ini kementerian bergerak dengan dana refocusing internal. Yang penting bukan jumlah, melainkan rasa peduli.”
“Peduli, itulah kata kunci. Di tengah keterbatasan, rasa peduli membuat masyarakat Aceh bertahan dalam duka dan problem yang berat,” sebut Anggota Komisi IV DPR RI Dapil II Aceh, TA. Khalid,kepada Waspada.id, usai kegiatan penyerahan 8 exavator di halaman Kantor Bupati Aceh Utara, Kamis (5/8/26) pagi.

Anggota Komisi IV DPR RI Dapil II Aceh, TA. Khalid, saat diwawancarai Waspada.id usai penyerahan bantuan delapan exavator untuk delapan kabupaten di Aceh secara simbolis di halaman Kantor Buapti Aceh Utara, di Landing, Lhoksukon, Kamis (5/8/26) pagi. Waspada.id/ Maimun Asnawi
Anggaran dan Mekanisme
Sebagai anggota DPR RI Komisi IV, TA Khalid menegaskan bahwa anggaran untuk pertanian Rp2,5 triliun dan untuk DKP Rp1,5 triliun sudah tersedia. Namun, mekanisme penyaluran tidak bisa langsung ke kabupaten atau provinsi. Ada jalur, ada prosedur, ada koordinasi. “Legalitas anggaran itu penting. Setelah ada, yang paling menentukan adalah kemampuan kita berkomunikasi dan berkoordinasi agar cepat sampai ke masyarakat,” ujarnya.
Ia memberi perumpamaan dalam bahasa Aceh: “Beek pike meuno, alah kon dijak jok sit. Beek meunan.” Jangan diam, jemputlah bantuan itu.
Exavator dan KNMP
TA Khalid menekankan bahwa dampak banjir bandang lebih parah dari tsunami. Jika tsunami hanya melanda 5 km dari bibir pantai, banjir bandang merusak dari hulu hingga hilir. Maka ke depan, ia berharap setiap kabupaten bisa mendapat 10 exavator.
Selain itu, kata TA Khalid, saat ini pemerintah sedang menjalankan program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Sebut dia, program ini harus dipastikan dapat berjalan optimal. Sebut dia, Aceh akan mendapat titik pembangunan yang lumayan banyak, rata-rata dua titik per kabupaten. Namun ia berpesan: “Jangan hanya melihat ini uang APBN. Lihatlah manfaatnya. Karena itu, pihak kementerian jangan membangun KNMP asal jadi. Masyarakat dan pemerintah daerah saya minta pantau, laporkan jika ada kendala. Pasti saya tegur orang di kementerian. Satu titik anggarannya hampir Rp20 miliar. Kalau 50 titik, hampir Rp1 triliun. Pastikan setiap rupiah bermanfaat.”
Mimpi yang Sama
Di akhir wawancara dengan Waspada.id, TA Khalid menutup dengan refleksi yang menyentuh: “Gaya tidur kita berbeda, kamar kita berbeda, rumah kita berbeda. Tapi mimpi kita sama: Aceh harus segera bangun, harus segera bangkit.”
Kalimat itu menggema, seakan mengikat seluruh hadirin dalam satu ikrar. Bahwa di balik angka-angka anggaran, di balik prosedur birokrasi, ada mimpi kolektif: Aceh yang pulih, Aceh yang bangkit, Aceh yang kembali menebar jaring di laut biru.
Terakhir, sebut TA Khalid, delapan exavator ini mungkin hanya satu langkah kecil. Namun dalam perjalanan panjang pemulihan, setiap langkah berarti. Dari lumpur bencana, Aceh menatap masa depan. Dengan peduli, dengan ikhtiar, dengan mimpi yang sama, Aceh akan bangkit.
Sebagai informasi tambahan, penyerahan bantuan exavator dilakukan secara simbolis di Kabupaten Aceh Utara. Untuk kabupaten/kota lainnya, bantuan tersebut diantar langsung ke tempat maisng-masing. Turut hadir delapan bupati dan wali kota yang menerima bantuan tersebut. Hadir juga perwakilan dari Kementerian DKP, dan sejumlah pihak terkait lainnya di lokasi penyerahan bantuan tersebut. (Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I/WASPADA.id).































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda