9 Penulis Baru Luncurkan Antologi Cerpen "Tak Ada Na Niarsik Sempurna Hari Ini" di Balige Writers Festival 20269 Penulis Baru Luncurkan Antologi Cerpen "Tak Ada Na Niarsik Sempurna Hari Ini" di Balige Writers Festival 2026

TOBA (Waspada.id): Balige Writers Festival (BWF) 2026 kembali melahirkan penulis-penulis baru melalui peluncuran antologi cerpen "Tak Ada Na Niarsik Sempurna Hari Ini", Jumat (31/7/2026), di Toba Art Space, Balige. Acara ini dipandu langsung Manager BWF 2026, Ita Siregar.
Antologi cerpen "Tak Ada Na Niarsik Sempurna Hari Ini" memuat karya sembilan Emerging Writer BWF 2026 yang sebelumnya mengikuti kelas menulis kreatif bersama sastrawan Benny Arnas
yang berasal dari berbagai daerah di Sumatera, yakni Fitriya Ningrum dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau; Gisti Kartika dari Pesisir Selatan, Sumatera Barat; Haryadi Yansyah dari Palembang, Sumatera Selatan; Nanda Winar Sagita dari Takengon, Aceh Tengah; Pringadi Abdi Surya dari Banda Aceh; Sri Yuni Dame Hutajulu dari Laguboti, Kabupaten Toba; Wendy Permana Putra dari Lubuk Linggau, Sumatera Selatan; Hotpangidoan Panjaitan, staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toba; serta Valentina Sanarima Gulo dari Kabupaten Toba.
Peluncuran buku diawali dengan presentasi karya dari para penulis yang menceritakan proses kreatif mereka hingga berhasil menerbitkan karya dalam bentuk buku. Kegiatan itu mendapat sambutan hangat dari peserta Balige Writers Festival yang memenuhi lokasi acara.
Salah seorang penulis baru, Valentina Sanarima Gulo, mengaku tidak pernah membayangkan dirinya dapat menerbitkan sebuah karya sastra. Guru di salah satu sekolah negeri di Desa Lumban Gorat itu mengatakan, kelas menulis yang diikutinya telah mengubah cara pandangnya terhadap dunia kepenulisan.
"Ilmu yang saya dapat sangat banyak. Menulis itu ternyata sangat sulit, apalagi bagi kami yang terbiasa menyampaikan gagasan secara lisan. Dari kelas bersama Bang Benny Arnas saya belajar bahwa menulis harus terukur dan terstruktur. Itu yang akhirnya membantu saya menyelesaikan cerpen dengan baik," ujarnya.
Valentina mengungkapkan dirinya merupakan penulis pemula yang sebelumnya belum pernah menerbitkan buku secara mandiri. Bahkan, ia mengaku belum pernah serius menekuni dunia kepenulisan sebelum mengikuti program BWF.
Meski demikian, pengalaman mengikuti program penulis baru di Balige Writers Festival membuatnya semakin percaya diri untuk terus berkarya. Ia menyebut sebelumnya juga pernah mengikuti program penulisan cerita anak dan hasilnya dijadwalkan terbit pada penyelenggaraan BWF tahun ini.
Menurut Valentina, salah satu pelajaran paling penting yang diperolehnya dari Benny Arnas adalah pentingnya memperbanyak membaca serta menyusun premis cerita sebelum mulai menulis.
"Yang paling mendasar adalah membaca. Kita harus punya jam terbang membaca yang tinggi. Kemudian, sebelum menulis kita harus sudah memiliki premis sehingga alur cerita dari awal sampai akhir jelas," katanya.
Ke depan, ia berharap pengalaman yang diperolehnya dapat diterapkan dalam dunia pendidikan, terutama untuk membangkitkan kembali minat baca anak-anak.
"Saya ingin mengembangkan ini karena anak-anak sekarang lebih suka scrolling dan menonton video pendek daripada membaca. Saya berharap melalui BWF semakin banyak anak yang diajarkan untuk membaca dan memahami isi bacaan," tuturnya.
Sementara itu, mentor kelas menulis kreatif BWF 2026, Benny Arnas, mengaku bangga melihat sembilan peserta berhasil menyelesaikan karya mereka dalam waktu singkat.
"Yang paling bahagia tentu saja saya. Saya sempat ditantang apakah para peserta bisa menyelesaikan karya dalam waktu yang ditentukan. Ternyata mereka berhasil. Hari ini mereka layak mendapatkan tepuk tangan atas kerja keras mereka," ujar Benny.
Ia berharap pengalaman mengikuti kelas menulis tidak berhenti pada penerbitan satu buku saja, melainkan menjadi awal perjalanan para penulis baru untuk terus berkarya dan membagikan ilmu yang telah diperoleh kepada masyarakat di daerah masing-masing.
Menurut Benny, Balige Writers Festival telah berkembang menjadi ruang belajar yang penting bagi lahirnya karya-karya sastra baru dari Sumatera, khususnya yang mengangkat isu-isu Danau Toba dan Balige.
"BWF menjadi laboratorium lahirnya karya-karya terbaik para penulis Sumatera. Tema boleh berganti setiap tahun, mentornya juga bisa berganti, tetapi semangat melahirkan penulis baru harus terus dijaga," katanya.
Benny yang telah beberapa kali terlibat dalam Balige Writers Festival menilai penyelenggaraan BWF kini semakin diperhitungkan sebagai salah satu festival sastra di Pulau Sumatera.
"Saya bangga melihat perkembangannya. Festival ini awalnya dibangun secara mandiri, sekarang mendapat dukungan berbagai pihak hingga pemerintah daerah. Saya berharap BWF terus berjalan dan menjadi salah satu festival budaya yang bergengsi di Sumatera," pungkasnya. (Id52)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda