Breaking News
Memuat breaking news...
Advertisement

Abu Sekam Padi Diolah Jadi Eco-Brick, Tim Kosabangsa Dorong Ekonomi Warga Langkat

Redaksi
Redaksi
Senin, 2 November 2026 - 9.36 AM WIB
Abu Sekam Padi Diolah Jadi Eco-Brick, Tim Kosabangsa Dorong Ekonomi Warga Langkat
Tim Pelaksana Program Kosabangsa Universitas Harapan Medan. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id): Limbah sekam padi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui pengolahan dan pengujian yang tepat, abu sekam padi dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan Eco-Brick nanokomposit. Potensi inilah yang dikembangkan melalui Program Kosabangsa Tahun Pendanaan 2026 di kawasan Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat.

Program tersebut mengusung tema “Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Rawan Bencana melalui Inovasi Eco-Brick Nanokomposit Berbasis Abu Sekam Padi, Digital Branding, dan Penguatan UMKM di Kabupaten Langkat.”

Tidak hanya berfokus pada pengembangan produk berbasis bahan sisa pertanian, program ini juga diarahkan untuk memperkuat pengelolaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mengembangkan promosi wisata edukasi. Melalui pendekatan tersebut, potensi lokal diharapkan dapat memberikan nilai tambah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Program Kosabangsa ini memperoleh pendanaan Tahun 2026 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Tim pelaksana berasal dari Universitas Harapan Medan yang diketuai Mayasari, bersama anggota Muhammad Arifin dan Azwansyah Habibie. Pelaksanaan program didampingi tim Universitas Negeri Medan (Unimed) yang diketuai Makmur Sirait dengan anggota Janter Pangaduan Simanjuntak.

Ketua pelaksana Mayasari mengatakan, Minggu (1/11), kolaborasi kedua perguruan tinggi tersebut memadukan keahlian di bidang komunikasi, teknik, dan pengelolaan usaha untuk mendukung pengembangan potensi masyarakat serta meningkatkan kapasitas kelompok mitra. Program ini melibatkan dua mitra utama, yakni Sumatra Trash Bank dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Langkat.

Sumatra Trash Bank yang dipimpin Hanzalah Rangkuti memiliki pengalaman dalam pengelolaan sampah. Pengalaman tersebut menjadi modal untuk mengembangkan pemanfaatan bahan sisa pertanian, khususnya abu sekam padi, menjadi produk Eco-Brick nanokomposit.

Katanya, dalam pengembangan produk, tim memberikan perhatian pada berbagai tahapan, mulai dari penyiapan bahan baku, penentuan komposisi campuran, penggunaan peralatan, proses pencampuran dan pembentukan, hingga perawatan produk.Pengujian mutu juga menjadi bagian penting untuk memastikan karakteristik dan kualitas produk yang dihasilkan. Hasil pengujian nantinya menjadi dasar dalam memberikan informasi produk secara tepat kepada calon konsumen.

Selain aspek produksi, pendampingan juga mencakup penguatan manajemen usaha. Para mitra diarahkan untuk menerapkan pencatatan bahan baku dan persediaan, menghitung harga pokok produksi, serta membukukan setiap transaksi usaha.

Melalui pencatatan yang tertib dan berkelanjutan, kelompok mitra diharapkan mampu memahami biaya produksi, mengelola persediaan, menentukan harga jual, dan merencanakan pengembangan usaha secara lebih terukur.

Wisata Edukasi Jadi Sarana Promosi Produk Lokal

Selain mengembangkan produk, program ini juga menghubungkan potensi UMKM dengan sektor pariwisata melalui keterlibatan HPI Kabupaten Langkat yang dipimpin Amrin.

HPI berperan dalam mengembangkan konsep wisata edukasi yang memungkinkan wisatawan mengenal lebih dekat proses pemanfaatan abu sekam padi menjadi produk Eco-Brick.

Pengunjung tidak hanya menikmati destinasi wisata Bukit Lawang, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar mengenai pengolahan bahan sisa pertanian dan pengembangan usaha masyarakat. Untuk mendukung kegiatan tersebut, tim bersama mitra menyiapkan konsep kunjungan dengan memperhatikan kesiapan lokasi, peralatan, serta sumber daya manusia yang terlibat.

Materi interpretasi wisata, papan informasi, dan display produk juga direncanakan sebagai sarana pendukung agar pengunjung memperoleh informasi yang mudah dipahami mengenai proses produksi dan potensi produk lokal.Wisata edukasi ini sekaligus menjadi ruang promosi bagi produk UMKM. Wisatawan dapat mengenal usaha masyarakat, melihat produk yang dihasilkan, serta memperoleh informasi mengenai cara pemesanan.

Perkuat Pemasaran Melalui Digital Branding

Untuk memperluas jangkauan promosi, program Kosabangsa ini juga menyiapkan pengembangan website Jelajah Langkat sebagai media informasi terpadu. Website tersebut dirancang untuk menghubungkan informasi destinasi wisata, paket wisata edukasi, kontak pemandu, hingga katalog produk UMKM.

Pengembangan ini diharapkan memudahkan calon pengunjung dalam memperoleh informasi sekaligus menghubungi pengelola untuk melakukan pemesanan. Selain website, pemanfaatan media sosial, katalog digital, dan QR edukasi juga menjadi bagian dari strategi digital branding.

Melalui media tersebut, informasi mengenai kegiatan wisata edukasi dan produk UMKM dapat disebarluaskan secara lebih mudah dan menjangkau calon konsumen yang lebih luas.QR edukasi, misalnya, dapat ditempatkan di lokasi kegiatan agar pengunjung dapat mengakses informasi mengenai bahan baku, proses pengolahan, serta produk yang dihasilkan hanya melalui telepon genggam.Pengelolaan media digital juga diarahkan agar dapat dilakukan secara mandiri oleh mitra.

Melalui Program Kosabangsa 2026, kolaborasi Universitas Harapan Medan dan Universitas Negeri Medan diharapkan tidak hanya menghasilkan inovasi pengolahan abu sekam padi, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal. (Wsp.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement