Abutment Jembatan Patah, Bahu Jalan Medan–Banda Aceh Longsor, Keselamatan Pengguna Jalan TerancamAbutment Jembatan Patah, Bahu Jalan Medan–Banda Aceh Longsor, Keselamatan Pengguna Jalan Terancam

MANYAK PAYED (Waspada.id): Laju kendaraan di Jalan Nasional Medan–Banda Aceh, tepatnya di Kampung Lubuk Puntih, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang, ramai seperti biasa.
Di balik mulusnya aspal jalan itu, ada sebuah ancaman yang setiap saat bisa membahayakan para pengguna jalan.
Yakni di sisi jembatan pada bahu jalan tersebut terlihat amblas dan longsor.
Sehingga harus dipasang pita pengaman sebagai garis pembatas penanda bahaya, karena di bawahnya ada abutment atau penyangga jembatan sudah patah meninggalkan tebing tanah yang terus tergerus dan mengancam badan jalan tersebut.
Hasil pantauan Waspada.id, Senin (3/8/2026), menunjukkan kerusakan terjadi pada bagian abutment yang berada di kedua ujung jembatan.
Struktur vital berfungsi menopang beban jembatan sekaligus menahan tekanan tanah itu mengalami kerusakan serius, sehingga menyebabkan bahu jalan longsor dan menyisakan jurang tepat di sisi badan jalan.
Meski telah dipasangi pita pembatas, kondisi itu dinilai belum efektif untuk menghindari risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara roda dua maupun kendaraan bertonase besar yang setiap hari melintasi jalur utama penghubung Provinsi Aceh ke Sumatera Utara tersebut.
Yusuf, 51, warga setempat, kepada Waspada.id, Senin (3/8/2026), menuturkan kerusakan tersebut sudah terjadi sejak banjir bandang melanda Aceh Tamiang pada 2025 lalu. Menurutnya, derasnya arus banjir merusak konstruksi penyangga jembatan hingga memicu longsornya bahu jalan.
"Saat banjir bandang tahun lalu, abutment jembatan itu patah. Akibatnya bahu jalan ikut longsor. Kalau tidak segera diperbaiki, kami khawatir longsornya semakin melebar dan membahayakan pengguna jalan," ujar Yusuf.
Tak hanya mengancam keselamatan pengendara, tambah Yusuf, kerusakan tersebut juga berdampak pada sektor pertanian masyarakat. Abutment yang patah berada di atas saluran irigasi yang mengairi puluhan hektare lahan persawahan di kawasan itu.
Material longsoran menutup sebagian saluran irigasi sehingga aliran air menjadi terganggu. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan berdampak terhadap kebutuhan air bagi lahan pertanian apabila tidak segera ditangani.
"Tanah yang longsor menutupi saluran irigasi, sehingga aliran air tersumbat. Padahal saluran itu sangat dibutuhkan petani," jelasnya.
Warga berharap pemerintah tidak menunggu kerusakan bertambah parah. Mereka meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang bersama Pemerintah Provinsi (Pempriv) Aceh segera melakukan perbaikan permanen terhadap abutment jembatan agar fungsi jalan nasional tetap aman dan sistem irigasi kembali berjalan normal.
"Harapan saya, agar Pemkab Aceh Tamiang maupun Pemprov Aceh segera memperbaiki kerusakan ini. Selain untuk kelancaran irigasi dan keselamatan masyarakat yang setiap hari melintas di jalan nasional ini," ujar Yusuf.
Kerusakan tersebut bukan sekedar mengenai infrastruktur. Namun jalan Medan–Banda Aceh merupakan jalur utama mobilitas masyarakat dan distribusi barang masuk dan keluar dari wilayah Aceh hingga ke Sumatera Utara.
Setiap hari, ribuan kendaraan melintasi jalan tersebut. Apabila kondisi longsor itu terus dibiarkan, tentu bisa menjadi melebar bila tidak segera dilakukan penanganan.
Dampaknya bukan hanya menghambat aktivitas arus lalulintas, tetapi juga berpotensi memicu kecelakaan yang dapat merenggut korban jiwa.(Tris)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda