Breaking News
Memuat breaking news...
Advertisement

Ahmad Darwis: Moderasi Beragama Kunci Perkokoh Integrasi Nasional dan Tangkal Polarisasi

Redaksi
Redaksi
Rabu, 4 November 2026 - 4.53 PM WIB
Ahmad Darwis: Moderasi Beragama Kunci Perkokoh Integrasi Nasional dan Tangkal Polarisasi
Anggota DPRD Sumut Fraksi PKS, Dr. H. Ahmad Darwis, S.Ag., M.A.,menjadi narasumber dalam Seminar Nasional yang berlangsung di Medan, pekan lalu.Waspada.id/ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id) – Anggota DPRD Sumatera Utara dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Dr. H. Ahmad Darwis, S.Ag., M.A., menegaskan pentingnya penguatan moderasi beragama dalam menjaga persatuan dan memperkokoh integrasi nasional di tengah keberagaman masyarakat.

Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber utama dalam Seminar Nasional bertajuk “Dialog Harmoni dalam Keberagaman: Implikasi Moderasi Beragama terhadap Integrasi Nasional” yang berlangsung di Medan, pekan lalu.

Ahmad Darwis mengatakan, moderasi beragama bukan berarti mengurangi atau melemahkan keyakinan seseorang terhadap agamanya. Sebaliknya, moderasi merupakan cara pandang dan sikap beragama yang adil, seimbang, serta menghargai perbedaan.

Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis dalam menangkal polarisasi ideologi, intoleransi, dan berbagai paham yang berpotensi mengancam persatuan bangsa.

"Mahasiswa harus menjadi garda terdepan yang cerdas dalam menolak segala bentuk polarisasi. Moderasi beragama menjadi salah satu benteng untuk menjaga keutuhan integrasi nasional di tengah keberagaman," ujarnya.

Ahmad Darwis lebih lanjut menekankan bahwa keberagaman agama, suku, budaya, dan pandangan merupakan kenyataan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, perbedaan tidak boleh dijadikan alasan untuk membangun sekat permusuhan, melainkan harus menjadi kekuatan dalam mempererat persaudaraan dan solidaritas sosial. Sikap saling menghormati dan mengedepankan dialog menjadi kunci dalam menyelesaikan perbedaan secara damai.

Ia juga mengingatkan bahwa generasi muda, khususnya mahasiswa, harus memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi informasi dan berbagai narasi provokatif yang beredar di ruang publik maupun media sosial. Jangan sampai perbedaan pilihan politik, pandangan keagamaan, dan kepentingan kelompok dimanfaatkan untuk memecah belah masyarakat.

Menurutnya, semangat moderasi beragama harus diwujudkan melalui sikap toleran, saling menghargai, serta komitmen menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Seminar nasional tersebut dibuka Dekan Fakultas Agama Islam (FAI), Dr. Rahmadi Ali, S.Pd.I., M.Pd.I. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya membangun sikap inklusif dan toleransi di lingkungan perguruan tinggi.

Kegiatan ini juga menghadirkan H. Muhammad Lukman Hakim Hasibuan dari Kementerian Agama yang memaparkan implementasi moderasi beragama di tengah masyarakat, khususnya dalam membangun kerukunan umat dan menjaga stabilitas sosial.

Sementara itu, Dr. Haidar, M.Pd., dosen Fakultas Agama Islam, membahas peran lembaga pendidikan tinggi dalam menanamkan nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama melalui proses pembelajaran.

Melalui seminar tersebut, para peserta diharapkan semakin memahami pentingnya menghargai perbedaan, menjaga kerukunan, serta berperan aktif merawat kemajemukan sebagai modal utama pembangunan dan persatuan bangsa.

Ringkas berita agar lebih padatPerkuat lead dengan inti pernyataanHilangkan pengulangan gagasan moderasi

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement