Breaking News
Memuat breaking news...

Airlangga Andalkan Ekonomi Digital untuk Kejar Pertumbuhan 6 Persen pada 2027

Redaksi
Redaksi
Minggu, 18 Oktober 2026 - 7.53 AM WIB
Airlangga Andalkan Ekonomi Digital untuk Kejar Pertumbuhan 6 Persen pada 2027
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Pemerintah menjadikan ekonomi digital sebagai salah satu mesin utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 6 persen pada 2027. Strategi ini ditopang penguatan investasi, peningkatan produktivitas tenaga kerja, perluasan ekspor bernilai tambah, serta pembangunan infrastruktur digital yang semakin terintegrasi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis target tersebut dapat dicapai, seiring kinerja ekonomi Indonesia pada Semester I 2026 yang tumbuh 5,45 persen secara kumulatif atau cumulative-to-cumulative (c-to-c).

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 6 persen dengan inflasi terjaga di level 2,5 persen pada 2027, Airlangga menyebut tiga prasyarat utama. Ketiganya adalah peningkatan investasi yang melampaui pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), penguatan produktivitas tenaga kerja, serta peningkatan ekspor produk bernilai tambah.

Pemerintah menargetkan investasi mencapai Rp2.258 triliun, atau tumbuh sekitar 8–9 persen. Dalam upaya tersebut, ekonomi digital diposisikan sebagai penggerak pertumbuhan baru yang memiliki potensi besar untuk memperluas aktivitas usaha dan meningkatkan daya saing Indonesia.

Potensi itu tercermin dari nilai Gross Merchandise Value (GMV) ekonomi digital Indonesia yang mendekati USD100 miliar pada 2025, dengan pertumbuhan 14 persen.

Untuk memperkuat ekosistem digital, pemerintah juga terus memperluas penggunaan sistem pembayaran digital. Layanan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kini telah menjangkau 65,77 juta pengguna dan 44,86 juta merchant.

"Pengembangan ekosistem digital diarahkan sebagai rantai nilai terpadu yang didukung oleh talenta digital berkualitas, pengembangan semikonduktor, kecerdasan artifisial, serta infrastruktur pendukung," ujar Airlangga, Sabtu (17/10/2026).

ASEAN DEFA Bidik Ekonomi Digital USD2 Triliun

Selain memperkuat pasar domestik, Indonesia mendorong integrasi ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara melalui ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA).

Pemerintah Indonesia telah menyelesaikan negosiasi perjanjian tersebut. Penandatanganannya dijadwalkan berlangsung dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN pada November 2026 di Filipina, dengan target ratifikasi rampung dalam waktu 180 hari.

Kajian Boston Consulting Group memproyeksikan implementasi ASEAN DEFA dapat meningkatkan nilai ekonomi digital Asia Tenggara dari USD1 triliun menjadi USD2 triliun pada 2030.

Perjanjian ini diharapkan memperkuat integrasi pasar digital regional, memperluas peluang perdagangan lintas negara, serta membuka ruang pertumbuhan baru bagi pelaku usaha di kawasan ASEAN.

Keamanan Transaksi Digital Diperkuat

Seiring meningkatnya aktivitas ekonomi digital, pemerintah juga menaruh perhatian pada keamanan siber dan perlindungan data. Volume transaksi pembayaran digital yang mencapai 12,99 miliar transaksi pada Triwulan III 2025 menjadi salah satu indikator besarnya kebutuhan terhadap sistem keamanan yang andal.

Melalui Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), pemerintah menyiapkan penerapan Post-Quantum Cryptography (PQC) serta pembentukan Gugus Tugas Nasional.

Teknologi kriptografi tahan kuantum tersebut disiapkan untuk mengantisipasi ancaman Harvest Now, Decrypt Later (HNDL), yakni praktik pencurian atau pengumpulan data terenkripsi saat ini untuk didekripsi di kemudian hari ketika teknologi yang lebih canggih tersedia.

Penguatan sistem keamanan ini dinilai penting untuk menjaga kerahasiaan dan integritas data, terutama pada transaksi keuangan digital yang terus berkembang.

Investasi Data Center Berpotensi Capai USD20 Miliar

Di sektor infrastruktur, pemerintah mempercepat pengembangan pusat data atau data center dengan mendorong ketersediaan lahan, pasokan listrik, dan sumber air yang memadai.

Saat ini, kapasitas pusat data yang telah beroperasi mencapai sekitar 600–700 megawatt. Sementara itu, potensi proyek dalam pipeline mencapai 1,3 gigawatt, dengan estimasi nilai investasi USD15–20 miliar.

Pengembangan pusat data menjadi salah satu fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi digital, termasuk untuk mendukung komputasi awan, kecerdasan artifisial (AI), dan peningkatan kebutuhan penyimpanan serta pemrosesan data.

Di sisi lain, rencana investasi perusahaan teknologi NVIDIA senilai USD4,5 miliar atau sekitar Rp80,1 triliun di Batam masih dalam tahap pembahasan.

Apabila terealisasi, investasi tersebut berpotensi memperkuat infrastruktur teknologi Indonesia sekaligus mendukung pengembangan ekosistem digital yang lebih luas.

E-Commerce Diproyeksikan Tembus USD71 Miliar

Peluang pertumbuhan juga datang dari sektor perdagangan elektronik atau e-commerce. Pasar e-commerce Indonesia diproyeksikan tumbuh lebih dari 14 persen hingga mencapai USD71 miliar.

Pemerintah turut membidik nilai transaksi Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) pada akhir 2026 menembus Rp40 triliun.

Target tersebut mencerminkan besarnya peluang perdagangan digital dalam mendorong konsumsi masyarakat, memperluas pasar bagi pelaku usaha, serta mempercepat adopsi teknologi oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Selain perdagangan elektronik, investasi pada teknologi kecerdasan artifisial juga menjadi perhatian. Melalui World AI Collaboration Organization (WAICO), potensi investasi AI diperkirakan mencapai USD8–12 miliar hingga 2030.

Kolaborasi Jadi Kunci Pertumbuhan Digital

Airlangga menegaskan, pengembangan ekonomi digital tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur dan peningkatan transaksi. Pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan talenta digital berkualitas, memperkuat inovasi teknologi, serta mendorong keterlibatan dunia usaha dan akademisi.

Kolaborasi antara pemerintah, pelaku bisnis, dan perguruan tinggi menjadi faktor penting agar manfaat transformasi digital dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat.

Dengan penguatan investasi, infrastruktur, keamanan siber, dan integrasi pasar regional, ekonomi digital diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus mendukung pencapaian target pertumbuhan 6 persen pada 2027. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement