Airlangga Respons Ramalan Rupiah Rp19.000 per Dolar AS, Ini Penjelasannya


JAKARTA (Waspada.id): Nilai tukar rupiah yang terus tertekan hingga mendekati Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS) memunculkan kekhawatiran terhadap prospek mata uang Garuda menjelang akhir tahun. Menanggapi proyeksi rupiah berpotensi menembus Rp19.000 per dolar AS, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah tetap optimistis dengan kondisi makroekonomi Indonesia.
Airlangga mengatakan, pemerintah akan terus memantau pergerakan nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar keuangan global dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi.
"Ya, kita lihat aja, tapi kita lebih optimis. Nanti kita lihat, kita optimis dengan kondisi makroekonomi," ujar Airlangga saat ditemui di Ritz Carlton, Jakarta Selatan, Rabu (28/10).
Optimisme pemerintah tersebut muncul ketika rupiah masih menghadapi tekanan dari berbagai faktor eksternal maupun domestik. Penguatan dolar AS, ketidakpastian konflik Timur Tengah, arus keluar modal asing, hingga kekhawatiran terhadap status pasar saham Indonesia menjadi sejumlah faktor yang membebani pergerakan mata uang domestik.
Pada perdagangan Rabu (28/10), rupiah ditutup melemah ke level Rp18.184 per dolar AS. Mata uang Garuda turun 28 poin atau 0,15 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih berlanjut di tengah sentimen negatif yang melanda pasar keuangan.
Dolar AS Menguat, Investor Asing Keluar
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah tidak terlepas dari meningkatnya sentimen risk-off, yakni kecenderungan investor mengurangi aset berisiko ketika ketidakpastian meningkat. Kondisi ini turut disertai aksi jual bersih investor asing di pasar keuangan Indonesia.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen risk-off dan net sell asing yang berkelanjutan. Indeks dolar AS yang masih terus naik menjelang FOMC juga ikut menekan rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Penguatan indeks dolar AS menjelang rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menjadi perhatian pelaku pasar. Ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS dapat memengaruhi arus modal global, termasuk investasi di negara berkembang.
Ketika investor cenderung memilih aset yang dianggap lebih aman, tekanan terhadap mata uang negara berkembang berpotensi meningkat. Indonesia pun menghadapi risiko aliran modal keluar yang dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah.
BI Ungkap Empat Faktor Penekan Rupiah
Bank Indonesia (BI) mengungkapkan sejumlah faktor yang menekan nilai tukar rupiah hingga mendekati Rp18.200 per dolar AS. Tekanan tersebut berasal dari ketidakpastian konflik Timur Tengah, penguatan dolar AS, arus keluar modal asing, serta kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah masih memengaruhi pergerakan rupiah dan mata uang negara-negara kawasan.
Situasi geopolitik tersebut turut menjaga harga minyak dunia tetap tinggi, sehingga meningkatkan risiko terhadap kondisi fiskal dan memperbesar kekhawatiran pasar terhadap inflasi.
"Pergerakan Rupiah dan mata uang kawasan hari ini masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah. Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat," kata Erwin dalam keterangan tertulis BI terkait perkembangan nilai tukar rupiah, Rabu (28/10).
Selain tekanan geopolitik, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga berpotensi memperkuat daya tarik aset berbasis dolar. Kondisi ini dapat membatasi aliran investasi ke pasar negara berkembang dan menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Erwin menjelaskan, memburuknya sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu arus keluar dana dari pasar negara berkembang. Tekanan tersebut berlangsung bersamaan dengan kenaikan imbal hasil atau yield obligasi.
Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut memengaruhi aliran dana investor. Kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan terhadap rupiah.
"Dari domestik, kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana. Kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan," terang Erwin.
Prospek Rupiah Masih Dibayangi Ketidakpastian
Kombinasi tekanan eksternal dan domestik membuat pergerakan rupiah masih rentan terhadap perubahan sentimen pasar. Konflik Timur Tengah yang belum menunjukkan kepastian penyelesaian, tingginya harga minyak, serta ekspektasi kebijakan moneter AS menjadi faktor yang perlu dicermati.
Di sisi domestik, perkembangan arus modal asing dan persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia turut menentukan arah pergerakan mata uang Garuda.
Pernyataan optimistis Airlangga menunjukkan pemerintah masih melihat fondasi makroekonomi Indonesia sebagai penopang stabilitas rupiah. Namun, perkembangan nilai tukar selanjutnya tetap akan dipengaruhi oleh dinamika pasar global dan kemampuan menjaga kepercayaan investor.
Proyeksi rupiah menembus Rp19.000 per dolar AS pun masih perlu dilihat sebagai skenario yang bergantung pada perkembangan berbagai faktor tersebut, bukan sebagai kepastian bahwa pelemahan akan mencapai level itu. (cnni)
Berita Terkait









































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda