Breaking News
Memuat breaking news...

Akhlaq dan Kemuliaan Derajat: Cermin Spiritualitas Kehidupan Imam Junaid al Baghdadi

Redaksi
Redaksi
Rabu, 17 Juni 2026 - 3.02 PM WIB
Akhlaq dan Kemuliaan Derajat: Cermin Spiritualitas Kehidupan Imam Junaid al Baghdadi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh Prof. Dr. Tgk. H. Zulkarnain, MA (Abu Chik Diglee)

Imam Junaid al Baghdadi tidak hanya masyhur sebagai seorang fukaha atau ahli fikih pada zamannya, namun beliau juga populer sebagai seorang sufistik besar yang kaya dengan khazanah spiritualitas keIslaman yang perenialis (mengabadi). Imam Junaid al Baghdadi yang dilahirkan di Nihawand - Persia dari keluarga Arab yang berasal dari Baghdad pada awal abad ke-3 Hijriah dan wafat di Baghdad pada tahun 298 Hijriah atau tahun 910 Miladiah.

Selain itu, Imam Junaid al Baghdadi sejak remaja telah berprofesi sebagai pedagang cermin (kaca), sehingga diberi julukan al Khazzaz atau al Qawariri. Sejak muda imam Junaid al Baghdadi telah belajar ilmu agama khususnya tasawuf pada paman kandungnya yang bernama Syekh Sari al Saqati dan juga berguru kepada seorang sufistik besar lainnya yang bernama imam al Harits al Muhasibi.

Adapun ilmu fikih beliau pelajari dari Abu Tsur al Kalbi salah seorang murid dari imam Muhammad Bin Idris al Syafi'i. Ada dua buah kitab karya imam Junaid al Baghdadi yang sering dijadikan referensi pada saat menelusuri jejak ilmu yang ditinggalkan oleh imam Junaid al Baghdadi, yaitu:

Pertama, kitab Rasa'il al Junaid (Risalah Sufistik al Junaid) yang berisi surat menyurat antara imam Junaid al Baghdadi dengan murid muridnya tentang persoalan tauhid, hakikat fana (melebur ego), dan tentang baqa (kekalnya sifat sifat ketuhanan).

Kedua, Dawa' al Arwah (Obat Bagi Jiwa), kitab ini membahas tentang penyucian hati dari penyakit yang bisa merusak kondisi ruhaniah seorang hamba Allah.

Di sisi lain, Imam Junaid al Baghdadi yang dikenal dengan sebutan Sulthan al Muhaqqiqin (Sultannya Para Sufistik), memiliki nama lengkap Abu al Qasim Junaid Bin Muhammad al Khazzaz al Baghdadi al Syafi'i yang mengajarkan tentang Taubat dengan tiga penekanan, yaitu Pertama, Menyesali dosa-dosa dan meninggalkan dosa masa lalu. Kedua, Fokus sepenuhnya kepada pengagungan Allah Swt. Ketiga, Senantiasa menyibukkan diri dalam berzikir mengingat Allah Swt.

Selanjutnya, berkaitan dengan akhlaq dan ketinggian derajat sebagai sisi spiritual kehidupan, imam Junaid al Baghdadi mengatakan sebagai berikut : اربع ترفع العبد الى اعلى الدرجات و ان قل عمله و علمه الحلم و التواضع و السخاء و حسن الخلق و هو كمال الايمان.

Artinya, Empat hal yang mengangkat seorang hamba Allah kepada ketinggian derajat, meskipun sedikit amal dan ilmunya. Empat hal tersebut adalah, al Hilmu ( kelembutan atau Kesabaran Hati). Kedua, al Tawadu' ( Kerendahan Hati). Ketiga, al Sakha' (Kedermawanan Hati). Keempat, Husnul Khuluq (Akhlaq Yang Baik). Keempat hal tersebut merupakan kesempurnaan iman (Lihat imam al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, Juz, 3, Halaman, 56).

Dalam hal ini, imam Junaid al Baghdadi menjelaskan tentang arti penting al Hilmu (Kelembutan atau Kesabaran Hati) dalam membangun dan menumbuhkan karakter empati terhadap realitas lingkungan dan kehidupan. Sehingga dengan al Hilmu (Kelembutan atau Kesabaran Hati), manusia akan menjadi lebih peka terhadap realitas kehidupan sosial yang dihadapinya. Dengan demikian, seorang hamba Allah akan lebih bisa memperlakukan manusia sesuai dengan nilai nilai kemanusiaannya, tanpa sifat ananiyah atau egoisme yang tidak pada tempatnya.

Selanjutnya sifat Tawadhu' yang disebutkan oleh imam Junaid al Baghdadi dapat menyadarkan para hamba Allah agar tidak sombong, tidak jumawa, tidak takabur, dan selalu bisa mengedepankan kerendahan hati di dalam menjalani kehidupan. Sedangkan sifat Sakha' atau Kedermawanan merupakan bentuk kepedulian dan uluran tangan terhadap berbagai realitas kefakiran dan kemiskinan.

Kedermawanan tidak hanya membuat seorang hamba Allah menjadi terhormat di bumi namun juga menjadi mulia di langit. Adapun Husnul Khuluq atau Akhlaq Baik yang disebutkan oleh imam Junaid al Baghdadi, merupakan cerminan dari mahkota peradaban. Karena secanggih apapun kemajuan sebuah peradaban, jika tanpa akhlaq yang baik, maka semuanya hanya menjadi anomie atau tanpa nilai.

Islam mengajarkan, bahwa akhlaq dapat membuat seorang Muslim menjadi terhormat dan mendapatkan apresiasi yang tinggi dari Nabi Saw sebagaimana yang termaktub di dalam hadits riwayat imam al Thabrani berikut ini : ان احبكم الى و اقربكم منى محلسا يوم القيامة احاسنكم اخلقا.

Artinya, Sungguh yang paling aku (Nabi Saw) cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik di antara kamu akhlaqnya.

Imam Ahmad Bin Hanbal dalam kitabnya Musnad Ahmad menuliskan hadist tentang akhlaq yang luhur dapat menyamai kedudukan orang yang rajin puasa sunat dan rajin tahajud atau shalat malam, sebagaima hadist berikut ini : ان المسلم المسدد ليدرك درجة الصاءم القاءم بحسن خلقه و كرم مرتبته.

Artinya, Sungguh Muslim Yang lurus akan meraih derajat yang tinggi sebagaimana derajat orang yang rajin berpuasa dan menegakkan shalat malam dengan kebaikan akhlaq dan kemuliaan martabatnya.

Di dalam hadist yang lain, imam al Thabrani meriwayatkan hadits dari Anas Bin Malik bahwa seseorang dengan keluhuran akhlaqnya dapat mencapai keagungan derajat akhirat, meskipun ada kelemahan dalam ibadah sunatnya.

Hadist tersebut sebagai berikut : ان العبد ليبلغ بحسن خلقه عظيم درجات الاخرة و شرف المنازل و انه لضعيف في العبادة.

Artinya, Sungguh seseorang dengan keluhuran akhlaqnya dapat mencapai keagungan derajat akhirat dan kemuliaan lainnya meskipun sesungguhnya dia terlihat lemah dalam ibadah (sunat)nya.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa Islam memandang kemuliaan akhlaq sebagai hal yang sangat subtantif, artinya di saat akhlaq tidak lagi dipraktikkan dalam kehidupan, maka kegersangan fisik maupun psikis terasa begitu memilukan.

Semoga yang merasa dirinya Muslim terus mampu berkomitmen dalam menjaga akhlaqnya, karena Nabi Saw diutus secara subtantif untuk menyempurnakan akhlaq. Wallahu'alam. WASPADA.id

Penulis adalah Dosen Hadist Ahkam dan Hukum Keluarga Islam di Asia Tenggara Pascasarjana IAIN Langsa

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement