Alif, Air dan Jejak Panjang Pengabdian Bupati Pidie


Ada pemimpin yang dikenang karena bangunan yang ditinggalkannya. Ada pula yang dikenang karena gagasan yang terus hidup setelah masa jabatannya berlalu.
Namun ada pula pemimpin yang jejaknya terasa melalui sesuatu yang sederhana: manfaat yang hadir dalam kehidupan masyarakat.
Bupati Pidie H. Sarjani Abdullah, S.H., M.H., menarik untuk dilihat dari sisi itu. Kepemimpinan tidak selalu harus dibaca melalui kemegahan pembangunan. Kadang, ia justru terlihat dari perhatian terhadap hal-hal yang dekat dengan kehidupan rakyat.
Sebuah huruf yang diajarkan kepada anak-anak. Sebuah embung yang menampung air bagi sawah. Sebuah jalan usaha tani yang memudahkan petani membawa hasil panen.
Semuanya mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi masyarakat yang merasakannya, kesederhanaan itu bisa memiliki arti yang panjang.
Sebuah Penghargaan
Sabtu malam, 5 September 2026, Anjong Mon Mata Banda Aceh menjadi saksi malam penghargaan SMSI Award 2026.
Pemerintah Kabupaten Pidie menerima penghargaan kategori Pelopor Program Pengentasan Buta Hijaiyah.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap perhatian pemerintah daerah dalam mendorong kemampuan masyarakat mengenal dan membaca huruf hijaiyah.

Jufrizal, S.Sos., M.Si., menerima penghargaan SMSI Award 2026 mewakili Bupati Pidie H. Sarjani Abdullah di Banda Aceh. Waspada.id/Ist
Bagi Sarjani, penghargaan itu bukan sekadar kebanggaan, tetapi juga motivasi untuk terus menghadirkan program yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi memiliki makna penting.Sebab pembangunan sejatinya bukan hanya tentang apa yang tampak di mata, tetapi juga tentang apa yang tumbuh dalam diri manusia.
Alif yang Membuka Jalan
Program pengentasan buta hijaiyah mengingatkan kita pada satu hal kecil yang sering luput dari perhatian: sebuah alif.
Alif adalah huruf pertama. Namun dari sesuatu yang pertama itulah perjalanan panjang dimulai.
Seseorang yang belajar mengenal alif hari ini mungkin kelak mampu membaca Al-Qur'an dengan baik. Seorang anak yang mulai belajar hari ini bisa menjadi generasi yang mengajarkan kembali ilmu itu kepada anak-anak berikutnya.
Begitulah sebuah program pendidikan bekerja.Ia tidak selalu menghasilkan perubahan dalam sehari. Tetapi ketika ditanam dengan ketekunan, manfaatnya dapat tumbuh lintas generasi.
Dan mungkin di situlah nilai penting dari program pengentasan buta hijaiyah yang kini mendapat apresiasi melalui SMSI Award.
Dari Alif ke Embung
Menariknya, perhatian H Sarjani terhadap masyarakat tidak hanya berada di bidang pendidikan keagamaan.
Ketika memimpin Pidie periode 2012–2017, sektor pertanian juga menjadi salah satu perhatian. Sejumlah pemberitaan mencatat pembangunan embung, jaringan irigasi, pembukaan sawah baru dan jalan usaha tani sebagai bagian dari program yang dijalankan. Bagi petani, embung bukan sekadar bangunan. Ia adalah tempat menyimpan harapan.
Ketika hujan turun, air ditampung. Ketika kemarau datang, air itu menjadi bagian penting bagi keberlangsungan sawah.
Begitu pula jalan usaha tani.Bagi sebagian orang mungkin hanya sebuah jalan kecil di tengah persawahan. Tetapi bagi petani, jalan itu dapat berarti kemudahan membawa pupuk, mengangkut hasil panen dan memperlancar aktivitas pertanian.
Di situlah sebuah kebijakan menemukan maknanya. Pembangunan tidak selalu harus megah untuk menjadi berarti.
Kadang yang dibutuhkan masyarakat hanyalah sesuatu yang tepat guna dan benar-benar hadir di tengah kebutuhan mereka.
Pidie dan Tanah Pertanian
Pidie memiliki hubungan yang kuat dengan dunia pertanian.
Karena itu, perhatian terhadap air, irigasi dan akses pertanian menjadi bagian penting dalam menjaga denyut kehidupan masyarakat.
Ibarat tubuh manusia, air adalah nadi bagi pertanian Sawah membutuhkan air. Petani membutuhkan sawah. Dan dari sawah itulah banyak keluarga menggantungkan kehidupan.
Maka setiap embung yang berfungsi, setiap saluran irigasi yang mengalir dan setiap akses usaha tani yang semakin mudah, pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang pembangunan fisik.
Ia berbicara tentang harapan sebuah keluarga.Tentang dapur yang tetap mengepul. Tentang anak-anak yang dapat terus bersekolah. Tentang petani yang dapat menatap musim panen dengan keyakinan.
Persahabatan yang Menjadi Jembatan
Ada sisi humanis lain yang terlihat pada malam penghargaan tersebut.
Sarjani bertemu dengan sejumlah pemilik dan pimpinan media dari Aceh maupun Medan, Sumatera Utara. Sebagian di antaranya merupakan sahabat lama yang telah mengenalnya jauh sebelum dirinya kembali berada di ruang pemerintahan.
Pertemuan itu menjadi gambaran bahwa di balik jabatan dan kekuasaan, seorang pemimpin tetaplah manusia yang memiliki sahabat, kenangan dan perjalanan hidup.
Jabatan boleh berganti.Ruang kerja boleh berpindah.Tetapi hubungan baik yang dibangun sejak lama dapat tetap menjadi jembatan komunikasi.
Bagi pemerintah, hubungan yang baik dengan media penting untuk membuka ruang komunikasi kepada masyarakat. Media menjadi salah satu jalan untuk menyampaikan informasi pembangunan kepada publik.
Dan hubungan yang sehat tentu akan semakin berarti ketika tetap dibangun dengan saling menghormati dan menjunjung profesionalisme.
Pengabdian yang Tidak Selalu Berisik
Pada akhirnya, alif dan air memiliki persamaan yang indah.Alif membuka jalan menuju ilmu.
Air membuka jalan bagi kehidupan.Keduanya sederhana, tetapi memiliki daya hidup yang panjang. Begitu pula pengabdian seorang pemimpin.
Tidak semua pengabdian harus disertai suara yang keras. Tidak semua kerja harus selalu hadir dalam sorotan.Ada pekerjaan yang cukup dirasakan.Ada kebijakan yang cukup dilihat dari manfaatnya.
Dan ada jejak yang baru terasa nilainya ketika waktu telah berjalan jauh. Penghargaan SMSI Award 2026 menjadi salah satu penanda perjalanan tersebut bagi Pemerintah Kabupaten Pidie.
Namun yang lebih penting dari sebuah penghargaan adalah semangat untuk terus melanjutkan pekerjaan yang bermanfaat.Alif harus terus diajarkan.Air harus terus dijaga.Petani harus terus diperhatikan.
Dan pembangunan harus terus diarahkan kepada kebutuhan masyarakat. Sebab pada akhirnya, seorang pemimpin tidak hanya dikenang karena penghargaan yang pernah diterimanya.
Ia dikenang karena apa yang pernah diberikan kepada masyarakat.Karena ilmu yang pernah dibukakan. Karena air yang pernah disimpan untuk sawah.
Karena jalan yang pernah dibangun untuk memudahkan langkah petani.Dan karena persahabatan yang tetap dirawat dengan ketulusan. Mungkin di situlah makna alif, air dan jejak pengabdian.Alif kecil bentuknya, tetapi panjang jalan yang dibukanya.
Air kecil wujudnya, tetapi bila terus mengalir mampu menghidupkan tanah.Dan pengabdian pun demikian.
Ia mungkin tidak selalu gaduh, tetapi manfaatnya dapat tinggal lama dalam ingatan masyarakat. WASPADA.id
Muhammad Riza












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda