Amran Sebut Petani Padi Bisa Raup Rp16 Juta per Hektare per Bulan, Ini Rahasianya


JAKARTA (Waspada.id): Menanam padi kini disebut berpeluang memberikan pendapatan hingga Rp16 juta per hektare per bulan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, potensi tersebut dapat dicapai melalui penerapan teknologi pertanian modern, penggunaan benih unggul, serta metode tanam yang lebih efisien.
Potensi pendapatan itu sekaligus menjadi salah satu faktor yang dinilai membuat petani semakin tertarik menanam padi dibandingkan kelapa sawit. Selain waktu menghasilkan yang relatif lebih cepat, kebijakan harga gabah dan penurunan biaya pupuk turut menjadi pertimbangan ekonomi bagi petani.
"Memang dengan metode sekarang, itu pendapatan petani, kita hitung ya, pendapatan petani yang metode baru dengan bibit baru, dengan teknologi tinggi itu hitungannya Rp 15-16 juta per bulan per hektare," kata Amran, ditemui di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Amran menjelaskan, potensi pendapatan tersebut dapat meningkat seiring bertambahnya luas lahan yang dikelola petani. Dengan asumsi perhitungan yang sama, lahan seluas setengah hektare berpotensi menghasilkan pendapatan sekitar Rp8 juta per bulan.
"Kalau ada yang punya 2 hektar? Ah, jadi memang, kalau katakanlah setengah hektare berarti bisa Rp 8 juta dengan ini ya metode baru, tapi ini kita gerakkan seluruh Indonesia," jelas dia.
Meski demikian, angka tersebut merupakan potensi pendapatan berdasarkan metode pertanian yang dikembangkan pemerintah. Hasil aktual petani dapat berbeda bergantung pada produktivitas lahan, biaya produksi, harga jual gabah, serta frekuensi panen.
Benih Unggul dan Teknologi Modern Jadi Andalan
Salah satu metode yang didorong Amran adalah menanam benih langsung ke lahan sawah tanpa melalui proses pembibitan terlebih dahulu. Metode ini dipadukan dengan penggunaan benih unggul dan teknologi pertanian modern melalui program Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS).
Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi. Dengan proses tanam yang lebih efisien, petani diharapkan mampu memperoleh hasil panen lebih optimal dari lahan yang dikelola.
Pemerintah juga mendorong penerapan metode tersebut secara lebih luas di berbagai daerah untuk memperkuat produksi pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Petani Mulai Melirik Padi Dibandingkan Sawit
Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa semakin banyak petani yang memilih menanam padi dibandingkan kelapa sawit.
Menurut Hashim, keputusan tersebut tidak terlepas dari pertimbangan ekonomi, terutama waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh hasil dan perputaran uang dari usaha pertanian.
"Saya dengar dari beberapa gubernur, petani mereka lebih senang tanam padi, gabah, daripada sawit karena lebih cepat menghasilkan dan cash economy," kata Hashim di Hotel Raffles, Jakarta, dikutip Kamis pekan ini.
Hashim mengatakan, informasi tersebut diperolehnya dari sejumlah gubernur. Namun, dia tidak merinci daerah mana saja yang mengalami kecenderungan perubahan pilihan komoditas tersebut.
Salah satu faktor yang dinilai mendukung daya tarik usaha tani padi adalah kebijakan pemerintah dalam menetapkan harga pembelian gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram. Harga tersebut menjadi acuan minimal pemerintah dalam menyerap hasil panen petani.
"Harga yang kita bayar ke petani, petani beras, petani sawah, dinaikkan 50%. Ini sebetulnya market measures. Kita berikan insentif, rangsangan kepada petani, tambah 50% harganya," urai dia.
Harga Pupuk Turun, Biaya Produksi Ditekan
Selain harga gabah, penurunan biaya produksi juga menjadi faktor yang dapat memperbaiki keuntungan usaha tani padi. Hashim menyebut pemerintah telah menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20%.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi beban biaya yang harus ditanggung petani selama masa tanam hingga panen. Dengan harga jual gabah yang lebih terjamin dan biaya pupuk yang lebih rendah, margin usaha tani berpotensi membaik.
"Harga pupuk, urea, dipotong, dipangkas 20%. The cost of production turun, antara lain karena pupuk urea turun 20%, dan harga pengadaan dari pemerintah naik. Maka sukses, petani-petani sekarang lebih tertarik," beber dia.
Kombinasi penggunaan teknologi modern, benih unggul, dukungan harga gabah, dan penurunan biaya pupuk menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan daya tarik sektor pertanian.
Namun, potensi pendapatan hingga Rp16 juta per hektare per bulan yang disampaikan Amran tetap perlu dilihat berdasarkan perhitungan usaha tani secara menyeluruh, termasuk biaya benih, pupuk, tenaga kerja, pengolahan lahan, serta jumlah panen dalam setahun. Dengan demikian, pendapatan bersih yang diterima petani dapat dibedakan dari omzet atau nilai hasil produksi. (Lip6)






















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda