Breaking News
Memuat breaking news...

Ancaman Terbesar Bukan AI, Tetapi Wartawan yang Tidak Beradaptasi

Redaksi
Redaksi
Kamis, 18 Juni 2026 - 5.55 PM WIB
Ancaman Terbesar Bukan AI, Tetapi Wartawan yang Tidak Beradaptasi
Praktisi media nasional, Merdi Sofansyah (kiri atas) saat menyampaikan materi “Pemanfaatan Artificial Inteligence” dalam kegiatan Journalism Fellowship on CSR (JFC) Batch III 2026 secara daring, Rabu (17/6/2026). tangkapan layar zoom meeting
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

BANDA ACEH (Waspada.id): Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kerap memunculkan kekhawatiran di kalangan jurnalis. Muncul pertanyaan, apakah teknologi ini akan menggantikan peran wartawan dalam mencari, mengolah, dan menyajikan informasi kepada publik?

Bagi praktisi media nasional Merdi Sofansyah, kekhawatiran tersebut tidak sepenuhnya tepat. Menurutnya, ancaman terbesar bagi profesi wartawan bukanlah AI itu sendiri, melainkan ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan perubahan yang sedang berlangsung.

Pandangan itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam pelatihan daring Journalism Fellowship on CSR (JFC) Batch III Tahun 2026 yang digelar pada Rabu (17/6/2026).

Dengan pengalaman hampir tiga dekade di dunia penyiaran dan pengembangan media digital, Merdi melihat AI sebagai bagian dari proses transformasi yang tidak bisa dihindari. Sama seperti media yang terus berubah mengikuti perkembangan teknologi, para jurnalis juga dituntut untuk ikut bertransformasi.

"AI tidak akan menggantikan penulis atau mengambil alih pekerjaan Anda. Tetapi orang yang menggunakan AI mungkin saja melakukan itu," ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan realitas baru yang kini dihadapi industri media. Jika dahulu keunggulan sebuah media ditentukan oleh kecepatan memperoleh informasi dan kedekatan dengan narasumber, kini persaingan bergeser ke kemampuan membaca data, melakukan verifikasi, serta menghasilkan analisis yang lebih mendalam.

Merdi mengenang bagaimana ruang redaksi televisi pada belasan tahun lalu membutuhkan banyak tenaga kerja untuk menghasilkan sebuah program berita. Mulai dari produser, editor, grafis, audioman, hingga berbagai tenaga teknis lainnya harus bekerja bersama dalam satu sistem produksi.

Namun situasinya kini berubah. Kehadiran AI memungkinkan sebagian pekerjaan dilakukan secara lebih cepat dan efisien. Tugas yang sebelumnya melibatkan banyak orang dapat diselesaikan oleh lebih sedikit personel dengan dukungan teknologi.

"AI itu akselerasi dan efisiensi. Dua hal itu yang membuat AI menjadi sangat berguna," katanya.

Meski demikian, Merdi menegaskan bahwa teknologi tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan akan wartawan. Justru di tengah banjir informasi yang beredar setiap detik, peran jurnalis dalam melakukan verifikasi menjadi semakin penting.

Menurutnya, era jurnalistik saat ini bukan lagi sekadar perlombaan menjadi yang tercepat menyampaikan informasi. Dunia media telah memasuki era "real-time intelligence", yakni kemampuan mengolah data dalam jumlah besar, memeriksa dokumen, melakukan verifikasi secara disiplin, serta menemukan sudut pandang yang relevan bagi publik.

Dalam konteks tersebut, AI dapat berfungsi sebagai asisten yang membantu proses kerja jurnalistik. Teknologi ini mampu membantu wartawan merangkum dokumen panjang, menyusun daftar pertanyaan wawancara, memetakan narasumber, hingga membantu mencari kemungkinan angle pemberitaan.

Merdi mencontohkan kasus dugaan keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebelum turun ke lapangan, wartawan dapat memanfaatkan AI untuk menyusun daftar pihak yang perlu dikonfirmasi, membuat timeline kejadian, hingga menyusun pertanyaan kritis yang perlu diajukan kepada sekolah, pengelola dapur, puskesmas, maupun orang tua siswa.

Dengan cara tersebut, wartawan memiliki bekal yang lebih kuat saat melakukan peliputan dan verifikasi langsung di lapangan.

Namun di balik berbagai kemudahan itu, Merdi mengingatkan adanya risiko yang tidak boleh diabaikan, yaitu halusinasi AI. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika AI menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan tetapi sebenarnya tidak memiliki dasar fakta yang jelas.

Karena itu, seluruh hasil yang diberikan AI harus diperlakukan sebagai bahan mentah yang wajib diverifikasi kembali.

"Fakta tetap harus datang dari dokumen, wawancara, observasi, dan verifikasi manusia," tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga etika jurnalistik dalam penggunaan AI. Wartawan tidak boleh meminta AI membuat kutipan narasumber yang tidak pernah diucapkan, menciptakan data yang tidak ada sumbernya, atau memanipulasi foto jurnalistik sehingga mengubah fakta.

Menurut Merdi, teknologi boleh membantu mempercepat proses kerja, tetapi tanggung jawab hukum dan etik tetap berada di tangan manusia.

Karena itu, ia memperkenalkan konsep "Human in Command", yaitu manusia sebagai pengambil keputusan akhir dalam setiap proses jurnalistik. AI boleh membantu membaca data, menyusun kerangka tulisan, atau merangkum informasi, tetapi keputusan mengenai kebenaran informasi dan kelayakan publikasi tetap harus ditentukan oleh wartawan dan editor.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi, Merdi percaya jurnalisme yang berpegang pada integritas akan tetap dibutuhkan masyarakat. Publik mungkin dibanjiri konten yang dibuat dengan bantuan AI, tetapi pada akhirnya mereka tetap membutuhkan media yang mampu menjaga akurasi, keberimbangan, dan kredibilitas.

"AI memberi kita lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan mesin, yaitu turun ke lapangan, bertemu narasumber, melakukan verifikasi, dan menjaga akal sehat publik," ujarnya.

Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa masa depan jurnalisme bukan ditentukan oleh seberapa keras seseorang menolak AI. Masa depan justru akan dimenangkan oleh mereka yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar jurnalistik.

Di era ketika mesin semakin pintar, integritas tetap menjadi kecerdasan yang tidak tergantikan. (Hulwa)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement