Breaking News
Memuat breaking news...
Advertisement

Andy Isnanda dan Peringatan dari Mimbar: Ketika Dunia Terlalu Memikat Hati

Redaksi
Redaksi
Jumat, 6 November 2026 - 1.45 PM WIB
Andy Isnanda dan Peringatan dari Mimbar: Ketika Dunia Terlalu Memikat Hati
Khatib Jumat di Masjid Al Ikhlas Teupin Punti, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara Tengku Andy Isnanda.Waspada.id/Maimun Asnawi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

"Dunia adalah tempat singgah yang sebentar. Yang kekal bukan apa yang kita miliki, tetapi apa yang kita bawa menghadap Ilahi."

Langit siang itu tampak teduh di atas Masjid Al Ikhlas, Teupin Punti, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara. Semilir angin berembus pelan di sela-sela pepohonan, namun ketenangan yang menyelimuti rumah Allah itu perlahan berubah menjadi perenungan mendalam ketika khatib Jumat, Andy Isnanda, berdiri di atas mimbar.

Suara khatib itu tidak meninggi. Tidak pula dibumbui retorika yang berlebihan. Namun kalimat demi kalimat yang keluar dari lisannya seperti mengetuk pintu hati para jamaah yang selama ini mungkin terlalu lama sibuk mengejar dunia.

"Hati yang terikat dengan dunia akan dipenuhi angan-angan panjang dan ketakutan terhadap kematian," ujar Andy Isnanda dengan nada tegas.

Kalimat itu meluncur sederhana, namun menghunjam dalam. Di hadapan Allah, manusia sesungguhnya bukanlah makhluk yang akan tinggal selamanya di dunia. Ia hanyalah musafir yang sedang menempuh perjalanan panjang menuju kehidupan yang abadi.

Dalam khutbahnya, Andy Isnanda mengingatkan bahwa orang-orang saleh tidak takut pada kematian. Bukan karena mereka menginginkan akhir hidup lebih cepat, melainkan karena hidup mereka dipenuhi persiapan untuk hari pertanggungjawaban.

Sebaliknya, mereka yang terlalu mencintai dunia kerap memandang kematian sebagai sesuatu yang menakutkan. Harta, jabatan, dan berbagai kesenangan dunia membuat hati terikat begitu erat hingga lupa bahwa setiap detik sebenarnya sedang mendekatkan manusia kepada akhir hayatnya.

"Kiamat sudah dekat. Jangan lalai. Hidup ini sangat singkat," ucapnya.

Di dalam masjid, suasana mendadak terasa berbeda. Kepala-kepala tertunduk. Beberapa jamaah tampak memandang lantai dengan tatapan kosong, seakan sedang menghitung kembali perjalanan hidupnya masing-masing.

Sebab nasihat itu bukan sekadar pengingat tentang kematian, melainkan tentang perjalanan panjang yang masih menanti setiap manusia setelah kehidupan dunia berakhir.

Andy Isnanda mengajak jamaah untuk merenungkan bahwa manusia sejatinya telah melewati beberapa alam kehidupan. Dari alam kandungan, memasuki alam dunia, kemudian menuju alam kubur dan berlanjut ke alam barzah sebelum akhirnya dibangkitkan pada hari kiamat.

Perjalanan itu jauh lebih panjang daripada usia puluhan tahun yang saat ini dijalani.

Karena itu, menurutnya, tidak ada alasan untuk menunda ibadah hanya karena merasa masih muda. Kematian tidak pernah bertanya tentang usia, jabatan, maupun kekayaan. Ketika waktu yang ditentukan Allah tiba, tidak ada kekuatan apa pun yang mampu menundanya walau sesaat.

Betapa banyak manusia yang berjanji akan memperbaiki diri esok hari. Betapa banyak pula yang menunda taubat hingga waktu yang tidak pernah datang.

Padahal penyesalan terbesar bukanlah kehilangan harta atau kedudukan, melainkan ketika kesempatan beramal telah berakhir sementara bekal menuju akhirat belum cukup dipersiapkan.

Dalam khutbahnya, Andy Isnanda juga mengingatkan tentang alam kubur, fase kehidupan yang sering terlupakan karena manusia terlalu sibuk dengan hiruk-pikuk dunia. Ia mengajak jamaah membayangkan bagaimana beratnya menghadapi pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir apabila kehidupan selama di dunia dipenuhi kelalaian.

Nasihat itu membuat suasana masjid semakin hening.

Tidak terdengar percakapan. Tidak tampak gerak yang berarti. Yang ada hanya wajah-wajah yang larut dalam perenungan, seakan masing-masing sedang berdialog dengan dirinya sendiri.

Mungkin ada yang sedang mengingat ibadah yang tertunda. Mungkin ada yang sedang mengenang dosa yang belum sempat ditaubati. Mungkin pula ada yang mulai menyadari bahwa perjalanan hidup yang selama ini terasa panjang ternyata sesungguhnya sangat singkat di hadapan keabadian.

Namun Andy Isnanda tidak mengajak jamaah untuk meninggalkan dunia. Ia justru mengingatkan pentingnya keseimbangan.

"Sibuklah dengan urusan dunia, tetapi jangan sampai melupakan urusan akhirat, tempat kita berpulang nantinya," pesannya.

Sebuah kalimat yang sederhana, namun menjadi inti dari seluruh khutbahnya.

Islam tidak melarang manusia bekerja, mencari rezeki, membangun karier, atau meraih kesuksesan. Yang dilarang adalah ketika dunia mengambil alih singgasana hati sehingga manusia lupa kepada tujuan akhir kehidupannya.

Jumat siang itu, di Masjid Al Ikhlas Teupin Punti, mimbar bukan sekadar tempat khatib menyampaikan khutbah. Ia menjelma menjadi ruang muhasabah. Tempat setiap hati diajak menoleh ke dalam dirinya sendiri.

Dan melalui nasihat yang lugas dan menyentuh dari Andy Isnanda, para jamaah diingatkan kembali pada satu kenyataan yang sering terlupa: Bahwa dunia hanyalah persinggahan, sedangkan akhirat adalah kampung halaman yang sesungguhnya.

"Jangan takut pada kematian, takutlah jika kematian datang saat bekal menuju akhirat belum sempat dipersiapkan. Sebab yang dibawa ke alam keabadian bukanlah kemewahan dunia, melainkan amal yang lahir dari hati yang taat kepada Allah."

Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement