Breaking News
Memuat breaking news...

Bahlil Cari Minyak Mentah Harga Termurah Dari Berbagai Negara

Redaksi
Redaksi
Jumat, 18 September 2026 - 8.21 AM WIB
Bahlil Cari Minyak Mentah Harga Termurah Dari Berbagai Negara
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Pemerintah Indonesia membuka peluang mendatangkan minyak mentah dari berbagai negara dengan mempertimbangkan harga yang paling ekonomis. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, ketersediaan pasokan menjadi prioritas, tetapi harga murah juga penting agar impor tidak menambah beban APBN dan masyarakat.

Bahlil mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada satu negara penghasil minyak bumi. Selain memastikan pasokan tersedia, aspek keekonomian menjadi pertimbangan utama dalam menentukan sumber impor.

"Pemerintah Indonesia akan selalu berpikir, bertindak hati-hati dengan mempertimbangkan dan memprioritaskan asas-asas keekonomian. Di samping kepastian juga asas keekonomian, artinya barang ada itu penting, tapi juga harus ekonomis," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Jumat (18/9/2026).

Impor Minyak Capai 1 Juta Barel per Hari

Indonesia saat ini masih membutuhkan impor minyak mentah sekitar 1 juta barel per hari untuk memenuhi konsumsi nasional yang mencapai 1,6 juta barel per hari.

Dengan kebutuhan impor yang besar tersebut, Bahlil menegaskan pemerintah akan mencari sumber minyak dengan harga terbaik agar tidak membebani anggaran negara maupun rakyat.

"Sehingga tidak membebankan APBN kita atau tidak membebankan rakyat kita terhadap nilai daripada apa yang kita akan beli. Kita cari yang terbaik, kita cari yang lebih murah, mana, itu yang kita akan beli," jelas dia.

Bahlil juga memastikan ketersediaan minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri tetap terjaga, termasuk pasokan yang berasal dari Rusia.

"Saya menyampaikan bahwa ketersediaan untuk crude kita insyaallah aman, termasuk bagian daripada Rusia, nanti yang teknis lainnya dari Rusia saya akan menjelaskan pada waktu yang tepat," urainya.

Minyak Rusia Dinilai Lebih Kompetitif

Sebelumnya, Bahlil mengungkapkan alasan pemerintah mempertimbangkan minyak mentah asal Rusia. Menurutnya, keputusan tersebut tidak terlepas dari upaya mencari harga yang lebih kompetitif di tengah gejolak geopolitik global.

Bahlil menjelaskan, pemerintah sempat mempertimbangkan pengalihan sumber impor dari kawasan Timur Tengah ke sejumlah negara lain, termasuk negara-negara di Afrika seperti Angola. Namun, harga minyak dari sejumlah alternatif tersebut dinilai masih lebih tinggi.

"Nah, kita mencari formulasi, kemudian kita mengalihkan (impor) crude kita, dari Middle East ke beberapa negara lain, di Afrika, di Angola, di mana-mana kita cari. Itu sudah clear, nah, yang menjadi masalah adalah harga," ujar Bahlil dalam InTechSEA 2026, di Jakarta, Senin, 14 September 2026.

Menurut Bahlil, pemerintah juga perlu menjamin kepastian harga energi di tengah ketidakpastian global. Hal itu kemudian disampaikannya kepada Presiden Prabowo Subianto.

"Saya katakan kepada Bapak Presiden, Pak, ini urusan energi ini urusan hajat hidup orang banyak. Kita harus mampu membuat rumusan kebijakan, yang sekalipun kondisi global itu terjadi yang luar biasa, tapi kepastian terhadap harga harus kita jamin," ucap dia, mengulang percakapannya.

Dari proses pencarian tersebut, pemerintah menemukan sejumlah sumber minyak mentah dengan harga yang dinilai lebih baik, termasuk dari Rusia.

"Yang ujung kesimpulannya adalah, yang ujungnya adalah Bapak Ibu semua, kita sekarang mendapat crude dari beberapa negara termasuk Rusia," katanya.

Bahlil: Indonesia Bebas Berdagang dengan Negara Mana Pun

Bahlil juga menceritakan proses negosiasi pengadaan minyak mentah asal Rusia. Dia menegaskan, Indonesia memiliki kebebasan untuk menjalin perdagangan dengan negara mana pun selama kepentingan nasional tetap menjadi pertimbangan.

"Waktu saya melakukan negosiasi dengan Menteri Energi Rusia, orang mengatakan bagaimana dengan negara lain, adidaya dan segala macam, saya katakan negara Indonesia ini negara merdeka, kita menganut mazhab politik bebas aktif, kita juga menganut mazhab ekonomi bebas aktif," tuturnya.

"Karena itu tidak boleh ada satu negara yang bisa mengintervensi atau mengatur negara kesatuan Republik Indonesia. Yang penting barang ada, dan murah. Itu yang paling penting, urusan ini mau dari laut sana, laut sini, langit sana, yang penting ada barang, harga murah," sambung Bahlil Lahadalia. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement