Breaking News
Memuat breaking news...

Balige Writers Festival Sudah Masuk Agenda Sastra Nasional, Kini Butuh Dukungan Berkelanjutan

Redaksi
Redaksi
Minggu, 2 Agustus 2026 - 6.24 AM WIB
Balige Writers Festival Sudah Masuk Agenda Sastra Nasional, Kini Butuh Dukungan Berkelanjutan
Pendiri Balige Writers Festival (BWF), Nestor Rico Tambun.Waspada.id/Ramsiana Gultom
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

TOBA (Waspada.id): Pendiri Balige Writers Festival (BWF), Nestor Rico Tambun, menilai keberlangsungan festival sastra pertama dan satu-satunya di Sumatera Utara itu hingga memasuki tahun kelima tidak terlepas dari dedikasi para relawan yang bekerja tanpa pamrih. Namun, untuk berkembang lebih besar, BWF membutuhkan dukungan yang lebih terencana dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.

"Kalau saya melihatnya karena ada orang-orang yang mau bekerja tanpa pamrih. Mereka bekerja bukan karena uang, tetapi karena ingin festival ini terus berjalan," ujar Nestor saat diwawancarai usai pelaksanaan Balige Writers Festival 2026 di Toba Art Space Balige, Sabtu (1/8/2026).

Menurut wartawan senior asal Toba itu, sejak awal BWF digerakkan oleh sekelompok orang yang memiliki komitmen kuat terhadap pengembangan literasi dan sastra. Di antaranya Grace Saribu, Ita Siregar, serta sejumlah tokoh lain yang terus menjaga keberlangsungan festival.

Memasuki penyelenggaraan tahun kelima, Nestor melihat kualitas BWF mengalami peningkatan yang signifikan, terutama dalam melahirkan penulis-penulis baru melalui program Emerging Writers.

Ia menjelaskan, dalam dua tahun terakhir BWF mendapat dukungan dari Manajemen Talenta Nasional Sastra dan Budaya Kementerian Kebudayaan, sehingga peserta mendapatkan pelatihan intensif bersama para mentor nasional sebelum festival berlangsung.

"Hasilnya sudah mulai terlihat. Dari tahun ke tahun kualitas penulis semakin baik. Bahkan beberapa peserta Emerging Writers sudah berhasil menerbitkan buku di penerbit nasional," katanya.

Selain kualitas penulis yang meningkat, Nestor menyebut nama Balige Writers Festival kini telah masuk dalam agenda sastra dan literasi nasional. Hal itu menjadi pengakuan penting karena BWF dinilai sebagai festival sastra yang konsisten dan layak mendapat perhatian pemerintah pusat.

"Nama Balige Writers Festival sudah ada di agenda sastra nasional. Itu menjadi modal besar agar festival ini terus berkembang," ujarnya.

Meski demikian, Nestor mengakui tantangan terbesar BWF saat ini masih berkaitan dengan pendanaan dan membangun ekosistem literasi di daerah.

Ia mengatakan, selama ini dukungan terbesar justru datang dari PT Inalum, sementara dukungan dari berbagai pihak masih terbatas.

"Festival literasi tidak cukup hanya memiliki konsep yang baik. Harus ada pendukung dana dan masyarakat yang ikut mengapresiasi. Selama ini yang membantu sejak awal paling konsisten adalah Inalum," katanya.

Nestor menilai apresiasi masyarakat terhadap kegiatan sastra di Balige juga masih perlu ditingkatkan. Bahkan, menurutnya, sejumlah sekolah yang pernah diajak berkolaborasi belum sepenuhnya memahami pentingnya kegiatan literasi.

Padahal pada penyelenggaraan sebelumnya, BWF memiliki program Sastrawan Masuk Sekolah yang menghadirkan penyair dan penulis ke sekolah-sekolah untuk memperkenalkan sastra kepada pelajar. Program tersebut tahun ini belum dapat dilaksanakan karena keterbatasan anggaran dan sarana.

"Ekosistem literasi itu harus dibangun. Tidak hanya festivalnya, tetapi juga masyarakatnya, sekolahnya, dan kader-kader yang nanti meneruskan kegiatan ini," ungkapnya.

Nestor juga berharap akan lahir lebih banyak kader lokal yang mampu mengelola festival sehingga BWF tidak bergantung pada orang-orang yang sama setiap tahunnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan pentingnya membangun kerja sama yang lebih sistematis dengan Pemerintah Kabupaten Toba.

Menurutnya, bantuan pemerintah tidak bisa bersifat insidental, melainkan harus direncanakan jauh hari melalui mekanisme penganggaran yang sesuai aturan.

"Kalau ingin mendapat dukungan yang lebih besar, proposal harus diajukan sejak awal agar bisa masuk dalam perencanaan anggaran pemerintah. Selama ini bantuan yang diterima lebih banyak bersifat insidental," jelasnya.

Ia mencontohkan sejumlah festival sastra di daerah lain yang memperoleh dukungan anggaran ratusan juta rupiah karena telah menjadi bagian dari program resmi pemerintah daerah.

Nestor berharap hal serupa dapat diwujudkan di Kabupaten Toba mengingat Balige Writers Festival telah membawa nama Balige dan Kabupaten Toba ke tingkat nasional melalui berbagai karya yang lahir dari festival tersebut.

"Balige Writers Festival sudah melahirkan banyak buku. Ini membawa nama Balige ke tingkat nasional. Karena itu, saya berharap ke depan dukungan terhadap festival ini bisa lebih terencana sehingga BWF dapat terus tumbuh dan memberi manfaat bagi dunia literasi Indonesia," pungkasnya. (Id52)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement