Breaking News
Memuat breaking news...

Bangkit dari Puing Bencana, Usaha Mikro Mayasari Tuai Pujian Ketua Satgas PRR

Redaksi
Redaksi
Kamis, 6 Agustus 2026 - 10.37 PM WIB
Bangkit dari Puing Bencana, Usaha Mikro Mayasari Tuai Pujian Ketua Satgas PRR
Mayasari lagi berjualan di kiosnya  depan SMP Negeri 1 Karang Baru, Aceh Tamiang, Rabu (05/08/2026). (Waspada.id/Ist)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

KARANG BARU (Waspada.id): Pecah periuk tinggal kerak. Demikianlah kata pepatah yang tepat untuk menggambarkan perjuangan Mayasari, 36, warga Perumahan BTN Satelit Graha, Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.

Ketika banjir besar yang menggulung Aceh Tamiang dan belasan kabupaten lainnya di Aceh pada akhir November 2025, Mayasari masih berada di Negeri Sembilan, Malaysia. Meski telah mendapatkan pekerjaan tetap sebagai juru masak di sebuah pabrik (kilang), naluri seorang ibu memaksanya pulang ke tanah air.

Satu minggu setelah banjir bandang dan tanah longsor memporak-porandakan Aceh Tamiang, ia kembali ke Bumi Muda Sedia. Di tengah lautan lumpur dan puing, ia melangkahkan kaki. Sepanjang jalan, ia tak kuasa menutupi lara batinnya. Air mata menganak sungai, gundah gulana merajai hatinya. Mahaduka bersemayam di dada.

Ketika dirinya melihat Perumnas Banjir—julukan tak tak resmi untuk Perumahan BTN Satelit Graha—seluruh jiwanya berduka dalam rasa yang sangat dalam. Tapi ia tak tersungkur. Dirinya harus kuat.

Perihal disebut Perumnas Banjir bukan julukan tanpa makna. Sejak dibangun pada 1990-an, perumahan tersebut secara rutin disambangi banjir yang bermuasal dari luapan Sungai Tamiang yang membelah Negeri Melayu tersebut.

Hampir setiap tahun banjir mengenangi, bahkan pernah menyapu kawasan itu pada bencana banjir 2006. Warga di sana telah akrab dengan bencana hidrometelorologi basah. Tapi bencana hidrometeorologi Sumatera yang memuncak pada Rabu, 26 November 2025, merupakan bencana alam yang super dahsyat. Lain dari pada yang lain. Desa itu digulung habis. Seluruh Aceh Tamiang porak-poranda.

Tidak lama bagi Mayasari menemukan empat anaknya dan ibunya di pengungsian. Dia pun tak memiliki pilihan, selain harus ikut bertahan bersama-sama di tenda pengungsian kala itu. Tak ada lagi rumah tempat untuk pulang. Dia dan seluruh sanak familinya di Tamiang, semuanya terdampak langsung.

Tak lama setelah berada di pengungsian, Mayasari memutar otak. Sebagai perempuan yang telah mengecap banyak asam garam kehidupan, dia pun berinisiatif membuka usaha mikro, bisnis teh hijau.

“Dengan sisa uang yang ada di kantong, saya pun berinisiatif berjualan teh hijau di pengungsian,” kata Mayasari, ketika ditemui di sebuah kios di depan SMP Negeri 1 Karang Baru, Aceh Tamiang, Rabu (05/08/2026).

Ramadan pun tiba, pada dua Ramadan 1447 H, Mayasari dan 86 KK lainnya dipindahkan oleh pemerintah ke Huntara Tamiang 2 di depan SMP Negeri 1 Karang Baru. Tidak jauh dari Huntara Tamiang 1 yang berada di belakang Kantor Bupati Aceh Tamiang.

Di Huntara Tamiang 2, Mayasari melanjutkan bisnis mikronya. Kali ini strategi bisnisnya berubah. Demi meraup recehan rupiah dan pahala, dia membuat konsep beli dua gratis satu. Hitung-hitung sebagai sedekah selama Ramadan. Alhamdulillah, usahanya berjalan lancar.

Setelah memiliki kekuatan ekonomi lebih baik, dia melirik sebuah pos ronda kecil di depan Huntara Tamiang 2. Kondisi pos ronda itu sudah awut-awutan. Setelah mendapatkan izin, Mayasari pun membenahinya. Mengubah pos ronda menjadi kios tempat ia melanjutkan usaha mikro teh hijau.

“Alhamdulillah, berkat ngumpulin recehan, cukuplah untuk menambah uang belanja,” kata Mayasari yang baru 100 hari kehilangan ibunya. Sang bunda meninggal dunia.

Maya—demikian dia disapa, menceritakan bahwa secara umum banyak ibu-ibu di huntara yang berinisiatif berjualan. Artinya dia tidak sendirian. Siapa konsumennya? Mereka memanfaatkan ekosistem Huntara Tamiang 2. Dari kita untuk kita.

Konsumen lainnya tentu saja siswa SMP Negeri 1 Karang Baru, dan warga yang melintas. “Ada saja pelanggannya,” kata Maya.

Kini, Maya bukan lagi semata berjualan teh hijau. Ia telah menambah varian minuman. Kopi sachet, dan sachet-sachet lain, kini tersedia di kios milik Maya, alumnus SMP Negeri 1 Karang Baru. Dia juga menjual BBM eceran. Kopi ada, teh ada, minyak ada, demikian kalau meminjam cara Uncle Muthu mempromosikan dagangannya di serial Upin dan Ipin produksi Les' Copaque Production.

Mendengar kisah perjuangan Mayasari, Ketua Posko Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan rekonstruksi (PRR) Aceh Dr. Safrizal ZA, menyambut baik. Dia memberikan apresiasi kepada ibu empat anak itu.

Safrizal mengatakan para penyintas bencana harus ikut bangkit bersama. Mereka harus mencari peluang-peluang ekonomi baru, sembari menunggu proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascabencana hidrometeorologi Sumatera.

Pemerintah Pusat juga mendukung para penyintas dalam konteks bangkit secara ekonomi. Para penyintas yang rumahnya masuk kategori rusak ringan, rusak sedang, rusak berat/hilang, telah mendapatkan bantuan stimulan ekonomi. Untuk setiap KK mendapatkan Rp5 juta dalam bentuk uang tunai untuk kebutuhan modal usaha mikro.

“Pemerintah memberikan dukungan dengan cara memberikan bantuan modal usaha untuk penyintas yang memenuhi syarat. Modal itu telah ditransfer dalam bentuk stimulan ekonomi,” kata Safrizal.

Safrizal memberikan apresiasi kepada Mayasari yang telah ikut bangkit secara bersama-sama, demi mempercepat pemulihan.

Pun demikian, ia berpesan dalam menjalankan usahanya di lingkungan Huntara serta di depan sekolah, Maya tetap memberikan perlindungan terhadap anak-anak. Minuman yang ia jual harus tetap menjaga kualitas. Serta tidak menjual produk-produk konsumsi orang dewasa untuk anak-anak.

“Jaga keamanan produk minuman yang dijual, jangan jual rokok untuk anak-anak. Jaga itu, supaya usahanya terus mendapatkan berkah dari Ilahi,” pesan Safrizal. (id67)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement