Breaking News
Memuat breaking news...

Banjir Kembali Kepung Desa Sekoci, Warga Berteriak Meminta Agar Sungai Dinormalisasi

Redaksi
Redaksi
Rabu, 21 Oktober 2026 - 6.06 PM WIB
Banjir Kembali Kepung Desa Sekoci, Warga Berteriak Meminta Agar Sungai Dinormalisasi
WILAYAH Desa Sekoci, Kecamatan Besitang, kembali dilanda banjir akibat meluapnya sungai Besitang. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

BESITANG (Waspada.id): Banjir kembali melanda wilayah Desa Sekoci, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Rabu (21/10).

Dalam kurun waktu bulan Oktober 2026 ini, masyarakat Desa Sekoci sudah lima kali menghadapi dalam banjir.

Air mulai naik ke wilayah permukiman pada pagi hari. Ketinggian air, khususnya di Dusun Sododadi hampir mencapai dada orang dewasa. Warga yang rumahnya terendam mengungsi ke rumah saudara atau kerabat.

Ketua tim relawan Kampung Rescue, Suryadi, yang selama ini terus aktif sebagai relawan, bersama anggota segera turun ke lapangan membantu upaya evakuasi terhadap warga yang sangat membutuhkan pertolongan.

Kepala Desa Sekoci, Gunawan, dihubungi mengatakan, air pada pagi harinya naik dengan ketinggian mencapai satu meter. " Kondisi air pada sore hari ini sudah surut, namun air yang merendam permukiman belum kering," ujarnya.

Untuk wilayah Kabupaten Langkat, Desa Sekoci termasuk daerah yang paling rentan dilanda banjir. Dalam setahun, bisa enam sampai tujuh kali dilanda banjir. Untuk bulan Oktober tahun ini saja, tercatat sudah lima kali dilanda banjir.

Meminimalisir agar banjir tidak terus berulang, Gunawan, mendesak pemerintah agar segera melakukan normalisasi sungai yang saat ini kondisinya sudah sangat dangkal. Ia berharap, istana respek menanggapi tuntutan rakyat yang meminta agar sungai dinormalisasi.

Suara masyarakat Besitang yang meminta agar sungai segera dilakukan dinormalisasi ini sudah didengungkan sejak tahun 2006 silam, namun teriakan masyarakat ini bak dianggap seperti angin lalu oleh pemerintah pusat.

Sampai saat ini Jakarta sama sekali belum merespon tuntutan masyarakat Besitang yang nyaris setiap tahun dipaksa harus menghadapi fenomena banjir. Fenomena alam ini terjadi akibat kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang disebabkan berbagai aktivitas ilegal.(id24)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement