Banjir Kepung Jalan Nasional Abdya, Arus Lalu Lintas Lumpuh Lima Jam

BLANGPIDIE (Waspada.id): Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Rabu (16/9/2026) sore hingga malam, membuat sejumlah titik jalan nasional dikepung banjir. Arus lalu lintas sempat lumpuh sekitar lima jam, mulai pukul 18.00 WIB hingga sekitar pukul 23.00 WIB.
Banjir dengan ketinggian rata-rata selutut orang dewasa itu, terjadi setelah debit air meningkat akibat hujan berintensitas tinggi. Kondisi tersebut membuat kendaraan dari arah Blangpidie maupun Tapaktuan harus memperlambat laju, bahkan sebagian pengendara memilih berhenti karena khawatir kendaraan mengalami gangguan saat menerobos genangan.
Sejumlah titik yang terdampak cukup parah antara lain tikungan S Alue Mangota, Kecamatan Blangpidie; kawasan PLTD Desa Lhang dan Tangan-Tangan Cut, Kecamatan Tangan-Tangan; serta kawasan Suak Labu dan Suak Nibong.

Di beberapa lokasi, luapan air juga menggenangi badan jalan dan menyulitkan pengguna jalan yang hendak melintas. Situasi semakin berat karena hujan masih mengguyur sejumlah kawasan sehingga debit air berpotensi kembali meningkat.
Kapolres Abdya AKBP Ade Gita Rachmadi B SH SIK MH melalui Kapolsek Tangan-Tangan Supriadi Husaini turun langsung memantau sekaligus menata arus lalu lintas di sejumlah titik yang terdampak.
Supriadi bersama personel Satlantas Polres Abdya, melakukan pengaturan lalu lintas untuk mencegah terjadinya kemacetan panjang maupun risiko kecelakaan. Pengamanan dan pemantauan juga mendapat dukungan jajaran TNI Kodim 0110 Abdya serta personel Batalyon TP RM.

Langkah tersebut dinilai penting, karena genangan tidak hanya mengganggu mobilitas masyarakat, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor yang melintasi badan jalan dalam kondisi tergenang.
“Dalam kondisi seperti ini, keselamatan pengguna jalan menjadi prioritas. Personel kita tempatkan di titik-titik rawan untuk membantu pengendara dan memastikan arus tetap bergerak ketika kondisi memungkinkan. Pengendara juga kami imbau tidak memaksakan diri menerobos genangan apabila debit air kembali meningkat,” ujar Supriadi menyampaikan arahan Kapolres Abdya.
Menurutnya, penanganan banjir di jalur nasional tidak cukup hanya ketika air telah menggenangi badan jalan. Pemantauan harus dilakukan secara berkelanjutan, terutama terhadap perkembangan debit air dari kawasan hulu dan kondisi drainase di sepanjang jalur yang rawan tergenang.

Sementara itu, Khairunnas, salah seorang pengguna jalan, mengaku terjebak banjir saat hendak pulang dari Blangpidie menuju Lembah Sabil. Ia bersama sejumlah pengendara lainnya harus menunggu hingga kondisi jalan memungkinkan untuk dilalui. “Kami berangkat dari Blangpidie, tetapi perjalanan terhambat di beberapa titik karena jalan digenangi air. Kami akhirnya harus berhenti dan menunggu sampai kondisi lebih aman. Sampai tengah malam baru perjalanan benar-benar kembali lancar,” katanya.
Hal senada disampaikan Rijal. Menurutnya, banjir membuat perjalanan yang biasanya dapat ditempuh dalam waktu relatif singkat menjadi jauh lebih lama. “Yang paling kami khawatirkan bukan hanya macet, tetapi kondisi air yang terus naik. Kalau dipaksakan menerobos, kendaraan bisa mogok atau pengendara bisa terjatuh. Kami memilih menunggu sampai air mulai surut,” ujarnya.
Selain mengganggu transportasi, luapan Sungai Krueng Tangan-Tangan juga merendam sejumlah permukiman dan areal persawahan warga.

Hasan, warga Pante Geulumpang, Kecamatan Tangan-Tangan, mengatakan air sempat masuk ke rumah warga dengan ketinggian mencapai sekitar 70 sentimeter di sejumlah titik.
Warga terpaksa memindahkan barang elektronik dan dokumen penting ke tempat yang lebih tinggi. Setelah air surut, warga kembali dihadapkan pada persoalan endapan lumpur yang masuk ke rumah.
Sementara Keuchik Gampong Mesjid, Kasman menyebutkan, luapan air turut merendam persawahan yang sebagian tanaman padinya belum dipanen. “Kami khawatir rendaman air dan lumpur memengaruhi kualitas padi yang belum dipanen. Jika terlalu lama terendam, petani tentu berpotensi mengalami kerugian,” katanya.

Camat Tangan-Tangan Jasmadi mengatakan, sejumlah gampong terdampak, di antaranya Gampong Mesjid, Pante Geulumpang, Padang Kawa, Bineh Krueng dan Blang Padang serta sejumlah gampong lainnya.
Pihak kecamatan bersama aparatur gampong, terus melakukan pemantauan dan pendataan, sekaligus mengingatkan masyarakat, agar tetap waspada terhadap kemungkinan banjir susulan, karena hujan masih terjadi di kawasan hulu.
Menjelang pukul 23.00 WIB, genangan di sejumlah badan jalan mulai surut dan arus lalu lintas berangsur kembali normal. Namun, masyarakat tetap diminta berhati-hati, mengingat kondisi cuaca dan debit air masih berpotensi berubah.(id82)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda