Breaking News
Memuat breaking news...

Banyak Sentimen Mengkhawatirkan, Rupiah Lanjutkan Pelemahan

Redaksi
Redaksi
Rabu, 12 Agustus 2026 - 10.38 AM WIB
Banyak Sentimen Mengkhawatirkan, Rupiah Lanjutkan Pelemahan
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Pasar keuangan domestik menghadapi sejumlah sentimen yang berpotensi menekan pergerakan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pelaku pasar kini cenderung mengambil posisi wait and see menjelang sejumlah agenda penting global dan domestik.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, salah satu perhatian utama pelaku pasar pada perdagangan hari ini adalah hasil evaluasi indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang dijadwalkan dipublikasikan dini hari nanti.

Pasar akan mencermati apakah MSCI akan mencabut kebijakan pembekuan (freeze) penyesuaian Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) bagi saham-saham Indonesia.

“Pelaku pasar akan mencermati keputusan MSCI, karena hasil evaluasi tersebut berpotensi memberikan pengaruh terhadap pasar saham domestik,” ujar Gunawan, Rabu (12/8).

Sebelumnya, IHSG sempat melemah pada perdagangan kemarin. Namun, pada pembukaan perdagangan hari ini, IHSG berbalik menguat ke level 6.277.

Meski demikian, penguatan tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan optimisme pasar. Pelaku pasar masih cenderung menahan diri dan menunggu hasil keputusan MSCI.

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah kembali menjadi perhatian. Mata uang Garuda ditransaksikan melemah ke level Rp17.860 per dolar AS pada perdagangan pagi.

Menurut Gunawan, pelemahan rupiah berpotensi menjadi sentimen negatif tambahan bagi IHSG, terutama ketika pasar tengah minim katalis positif.

“Di tengah minimnya sentimen pasar keuangan, pelaku pasar juga masih mencermati dinamika geopolitik di Timur Tengah,” jelasnya.

Ketegangan di kawasan Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan pasar. Hal ini tercermin dari kembali meningkatnya harga minyak mentah dunia.

Harga minyak jenis Brent pada perdagangan pagi berada di kisaran US$89,4 per barel, atau mendekati level psikologis US$90 per barel.

Kenaikan harga minyak tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan secara keseluruhan, terutama apabila berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.

Tekanan pasar juga datang dari Amerika Serikat yang akan merilis data inflasi dalam waktu dekat. Inflasi AS diproyeksikan kembali mengalami kenaikan sehingga berpotensi memicu spekulasi mengenai arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS atau Federal Reserve.

“Pasar keuangan saat ini menghadapi ancaman tekanan dari sejumlah faktor. Mulai dari potensi kenaikan tekanan inflasi AS, spekulasi kebijakan suku bunga yang lebih hawkish, hingga kemungkinan laporan MSCI yang kurang menguntungkan bagi pasar keuangan domestik,” kata Gunawan.

Dengan kombinasi sentimen tersebut, ruang pergerakan pasar keuangan dinilai masih cukup rentan. Investor berpotensi lebih berhati-hati dalam mengambil posisi sambil menunggu kepastian dari sejumlah agenda penting tersebut.

Sementara itu, berbeda dengan rupiah dan IHSG, harga emas dunia justru kembali menguat. Harga emas berada di level US$4.401 per troy ounce.

Gunawan memperkirakan harga emas masih akan berkonsolidasi di sekitar level psikologis tersebut. Jika dikonversikan ke rupiah, harga emas saat ini berada di kisaran Rp2,54 juta per gram.

Kondisi tersebut menunjukkan investor masih mencari aset lindung nilai di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global.

Dengan demikian, pergerakan rupiah, IHSG, minyak mentah, serta harga emas akan menjadi perhatian utama pelaku pasar dalam beberapa waktu ke depan, terutama sembari menunggu hasil evaluasi MSCI dan data inflasi Amerika Serikat. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement