Banyak Sentimen Negatif, IHSG dan Rupiah Kembali Tertekan

MEDAN (Waspada.id): Pasar keuangan domestik kembali dibayangi tekanan dari berbagai sentimen negatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah sama-sama bergerak melemah di tengah memburuknya sentimen pasar regional, kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta ketidakpastian geopolitik di kawasan Asia.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, setelah reshuffle kabinet, perhatian pelaku pasar akan kembali tertuju pada perkembangan ekonomi, khususnya arah kebijakan fiskal pemerintah setelah pelantikan Menteri Keuangan yang baru.
“Setelah reshuffle kabinet yang dilakukan sebelumnya, pasar keuangan khususnya pasar saham akan kembali pada isu ekonomi yang berkembang. Pada perdagangan hari ini pasar tidak memiliki banyak agenda ekonomi yang akan dirilis. Minimnya sentimen akan membuat pasar keuangan lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen geopolitik di kawasan Asia,” ujar Gunawan, Selasa (15/9).
IHSG Terpukul Sentimen Regional
Gunawan menjelaskan, harga minyak mentah dunia masih berada di kisaran US$106 per barel. Pergerakannya relatif tidak banyak berubah dalam dua hari perdagangan terakhir. Namun, kondisi tersebut belum mampu menghilangkan kekhawatiran pasar terhadap potensi memburuknya risiko ekonomi dan geopolitik.
“Ketidakpastian dengan potensi resiko yang kian memburuk masih membayangi kinerja sektor keuangan pada perdagangan hari ini,” katanya.
Pada sesi pembukaan, IHSG sempat bergerak menguat di zona hijau. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Indeks berbalik melemah dan kembali diperdagangkan di bawah level psikologis 6.500.
Tekanan terhadap IHSG juga sejalan dengan memburuknya sentimen bursa regional. Mayoritas pasar saham di Asia turut bergerak melemah pada perdagangan pagi.
“Tekanan pada IHSG kembali memburuk ditengah sikap pelaku pasar yang menanti arah kebijakan fiskal pemerintah, khususnya setelah pelantikan Menteri Keuangan yang baru,” jelas Gunawan.
Rupiah Melemah, Dolar AS Makin Perkasa
Tidak hanya pasar saham, nilai tukar rupiah juga ikut tertekan. Rupiah tercatat melemah ke level Rp17.675 per dolar AS.
Gunawan menyebutkan, tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari penguatan dolar AS yang didorong kenaikan imbal hasil US Treasury 10 tahun dan indeks dolar.
“Imbal hasil US treasury 10 tahun kembali naik ke level 5%. Ditambah dengan USD Index yang naik ke level 99.6. Kenaikan dua indikator tersebut picu penguatan US Dolar,” ungkapnya.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS membuat aset berbasis dolar kembali menarik bagi investor. Kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, terutama ketika pasar juga menghadapi ketidakpastian geopolitik.
Emas Ikut Terkoreksi
Di sisi lain, penguatan dolar AS turut menekan harga emas dunia. Gunawan mencatat, harga emas saat ini diperdagangkan di kisaran US$4.308 per troy ounce, atau sekitar Rp2,47 juta per gram.
“Secara keseluruhan pasar keuangan domestik dipengaruhi oleh banyak sentimen negatif dari pasar obligasi AS serta tekanan geopolitik,” pungkas Gunawan.
Dengan kondisi tersebut, arah pasar keuangan domestik masih akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, pergerakan imbal hasil obligasi AS, serta kejelasan kebijakan fiskal pemerintah ke depan. (id09)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda