Breaking News
Memuat breaking news...

Barantin Lepas Ekspor Komoditas Unggulan Sumut Rp258,97 Miliar ke 14 Negara

Redaksi
Redaksi
Kamis, 29 Oktober 2026 - 8.03 PM WIB
Barantin Lepas Ekspor Komoditas Unggulan Sumut Rp258,97 Miliar ke 14 Negara
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

DELI SERDANG (Waspada.id): Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melepas ekspor 22 komoditas unggulan senilai Rp258,97 miliar ke 14 negara tujuan. Komoditas dengan volume sekitar 9.557 ton tersebut berasal dari kelompok tumbuhan, hewan, dan ikan serta melibatkan sekitar 20 perusahaan eksportir.

Pelepasan ekspor dilakukan di PT Ori Ginalnest Indonesia, Kabupaten Deli Serdang.

Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding mengatakan, karantina tidak hanya bertugas melakukan pemeriksaan, tetapi juga harus menjadi mitra pelaku usaha dalam memenuhi persyaratan negara tujuan.

“Karantina adalah mitra strategis pelaku usaha, bukan sekadar regulator. Barantin harus aktif mendampingi eksportir agar memahami dan memenuhi persyaratan negara tujuan sehingga komoditas unggulan Indonesia dapat bersaing di pasar internasional,” ujar Karding.

Menurut dia, kepastian pelayanan menjadi penting agar eksportir dapat merencanakan kegiatan perdagangan dengan lebih baik.

“Kami ingin memastikan bahwa pelayanan karantina tidak hanya menjamin kesehatan dan keamanan komoditas, tetapi juga memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan ekspor,” katanya.

Dari total nilai ekspor tersebut, komoditas tumbuhan menjadi penyumbang terbesar dengan nilai sekitar Rp247 miliar dan volume 9.552 ton.

Produk yang diekspor antara lain turunan kelapa sawit, minyak kelapa, kopi biji, pinang, kelapa parut, santan kelapa, teh, bunga potong, karet, kayu olahan, gambir, jernang, damar batu, sapu lidi, dan kubis.

Komoditas tersebut dikirim ke sejumlah negara, antara lain China, Amerika Serikat, India, Kanada, Rusia, Jerman, Jepang, Australia, dan Thailand.

Sementara itu, komoditas hewan mencatat nilai ekspor Rp11,22 miliar melalui pengiriman sarang burung walet sebanyak 625,94 kilogram atau 56 koli dengan tujuan China.

Adapun komoditas ikan menyumbang nilai ekspor Rp745 juta melalui pengiriman kepiting bakau sebanyak 4.600 kilogram atau sekitar 18.400 ekor yang juga ditujukan ke China.

Karding mengatakan, pemenuhan persyaratan karantina menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberterimaan komoditas di negara tujuan.

Karena itu, pelayanan karantina harus terus dipercepat tanpa mengurangi ketelitian pemeriksaan, terutama terhadap komoditas hidup maupun produk yang mudah rusak.

Menurut dia, sistem karantina dan biosekuriti yang kuat diperlukan untuk menjaga kepercayaan negara mitra sekaligus memastikan ekspor dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Barantin juga terus memperluas pendampingan bagi eksportir melalui sejumlah program, antara lain Web Series Go Ekspor dan Klinik Ekspor.

Program tersebut diarahkan untuk membantu pelaku usaha memahami prosedur karantina, persyaratan negara tujuan, serta peluang pasar internasional.

Karding mengatakan, dukungan terhadap ekspor tidak hanya ditujukan kepada perusahaan yang telah memiliki pasar luar negeri.

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah juga didorong untuk mulai menjajaki pasar ekspor tanpa harus menunggu kapasitas produksi dalam jumlah besar.

Menurut dia, yang terpenting adalah produk mampu memenuhi persyaratan karantina dan ketentuan negara tujuan.

Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara Timur Tumanggor mengatakan, penguatan ekspor membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, instansi terkait, dan pelaku usaha.

Pengembangan komoditas unggulan daerah, menurut dia, perlu diikuti peningkatan kualitas produk, pemenuhan persyaratan negara tujuan, serta perluasan akses pasar.

Dengan kolaborasi tersebut, produk asal Sumatera Utara diharapkan semakin mampu menjangkau pasar internasional sekaligus memberi nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.

Pelepasan ekspor tersebut juga dihadiri Plh Deputi Karantina Ikan sekaligus Direktur Manajemen Risiko Karantina Ikan Sugeng Sudiarto, Inspektur Barantin Riswan, jajaran Barantin, kepala balai karantina regional Sumatera, pimpinan PT Ori Ginalnest Indonesia, eksportir, serta instansi terkait.

Barantin berharap sinergi antara pemerintah dan dunia usaha dapat memperkuat layanan karantina, biosekuriti, serta pendampingan eksportir untuk memperluas pasar komoditas unggulan Sumatera Utara. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement