Breaking News
Memuat breaking news...

Bawang Diserang Ulat, Petani Pidie Resah

Redaksi
Redaksi
Selasa, 28 Juli 2026 - 12.30 PM WIB
Bawang Diserang Ulat, Petani Pidie Resah
Tanaman bawang merah di salah satu lahan di Kabupaten Pidie terserang hama ulat dan terancam gagal panen. Foto diambil beberapa waktu lalu. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

PIDIE (Waspada.id): Harapan petani bawang merah di Kabupaten Pidie untuk menikmati panen yang melimpah mulai dibayangi kecemasan.

Serangan hama ulat yang menyerang tanaman di kawasan persawan Pidie, Batee, Simpang Tiga, dan sejumlah wilayah lainnya membuat mereka khawatir hasil panen akan menyusut, bahkan terancam gagal panen.

Serangan hama dilaporkan menyerang tanaman bawang merah yang masih berusia sekitar satu hingga dua bulan. Daun tanaman rusak akibat dimakan ulat sehingga menghambat pertumbuhan dan pembentukan umbi. Jika tidak segera dikendalikan, petani khawatir produktivitas bawang merah akan menurun saat memasuki masa panen.

Muhammad, 40, salah seorang pengumpul bawang merah di Kabupaten Pidie, Selasa (28/7) mengatakan saat ini kondisi tanaman di lapangan masih bervariasi.

Sebagian lahan di Kecamatan Tijue, Simpang Tiga, dan Batee telah memasuki masa panen, namun sebagian besar tanaman lainnya masih berada pada fase pertumbuhan.

"Tanaman sekarang ada yang baru berumur satu bulan, ada juga yang sudah dua bulan. Panen baru berlangsung di beberapa lokasi, sedangkan panen raya diperkirakan sekitar satu setengah bulan lagi," ujarnya.

Menurut dia, serangan hama ulat menjadi persoalan yang paling dikhawatirkan petani menjelang panen raya. Apabila tidak segera ditangani, kerusakan tanaman diperkirakan akan semakin meluas dan berdampak pada hasil produksi.

Belum Panen Raya, Harga Masih Normal

Muhammad menjelaskan, harga bawang merah di tingkat petani saat ini masih relatif stabil karena panen raya belum berlangsung. Untuk bawang merah kualitas kecil hingga sedang, harga berkisar Rp18.000 per kilogram, sedangkan kualitas super mencapai Rp24.000 per kilogram.

"Kalau yang dibeli dengan harga Rp18.000 per kilogram, biasanya masih harus disortir lagi sesuai ukuran dan kualitas sebelum dijual," katanya.

Sementara itu, harga bawang merah di tingkat pengecer berada di kisaran Rp23.000 per kilogram. Menurut Muhammad, pasokan bawang merah diperkirakan akan meningkat setelah panen raya yang diprediksi berlangsung sekitar 1,5 bulan mendatang.

Pengamat: Jangan Lepas Tangan Saat Petani Diserang Hama

Pengamat pertanian, Yusri, 35, menilai serangan ulat grayak (Spodoptera exigua) merupakan salah satu ancaman paling serius terhadap budidaya bawang merah.

Ledakan populasi hama, menurutnya, dipengaruhi oleh cuaca ekstrem dan penggunaan pestisida kimia secara berlebihan yang dapat mengurangi populasi musuh alami hama.

"Pemerintah jangan hanya hadir saat memberikan bantuan bibit bawang merah. Ketika petani menghadapi serangan hama seperti sekarang, mereka juga membutuhkan pendampingan, edukasi, dan bantuan pengendalian agar tidak menanggung kerugian sendirian," kata Yusri.

Ia menyarankan pemerintah bersama petani menerapkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan mengombinasikan berbagai metode pengendalian yang ramah lingkungan. Selain itu, pergiliran tanaman perlu dilakukan untuk memutus siklus hidup ulat grayak sehingga populasinya tidak terus berkembang di lahan yang sama.

Yusri juga mendorong petani memanfaatkan musuh alami, seperti semut rangrang dan serangga parasitoid, untuk menekan populasi ulat. Menurutnya, penggunaan pestisida kimia sebaiknya dilakukan secara bijak agar tidak mematikan organisme yang berperan sebagai pengendali alami hama.

Selain itu, petani diminta melakukan pemantauan secara rutin, terutama pada malam hari saat ulat aktif bertelur dan merusak daun. Pada serangan ringan, telur maupun ulat dapat dipungut secara manual untuk mencegah penyebaran.

Penggunaan perangkap cahaya juga dinilai dapat membantu mengurangi populasi ngengat dewasa penyebab berkembangnya hama.

Petani berharap Pemerintah Kabupaten Pidie melalui Dinas Pertanian segera turun ke lapangan untuk melakukan pendampingan serta membantu pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).

Langkah cepat dinilai penting agar serangan hama tidak semakin meluas dan produksi bawang merah tetap terjaga menjelang panen raya. (Id69)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement