Breaking News
Memuat breaking news...

Beban Generasi Sandwich Bukan Cuma Soal Uang, Tekanan Mental dan Rasa Bersalah Ikut Menghantui

Redaksi
Redaksi
Jumat, 16 Oktober 2026 - 8.30 AM WIB
Beban Generasi Sandwich Bukan Cuma Soal Uang, Tekanan Mental dan Rasa Bersalah Ikut Menghantui
Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah, Vivin Arbianti Gautama
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Menjadi generasi sandwich bukan sekadar persoalan membagi penghasilan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, anak, dan orangtua. Di balik tanggung jawab finansial tersebut, ada tekanan mental, rasa bersalah, hingga kekhawatiran tidak mampu memenuhi harapan keluarga.

Kondisi ini membuat perencanaan keuangan dan kesiapan mental menjadi dua hal penting bagi mereka yang harus menopang kebutuhan lintas generasi. Tanpa persiapan yang memadai, tanggung jawab tersebut berisiko memengaruhi kesejahteraan keluarga, bahkan berlanjut menjadi beban bagi anak di masa depan.

Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah, Vivin Arbianti Gautama, menilai tanggung jawab kepada orangtua seharusnya tidak selalu dipandang sebagai beban yang menguras mental. Dalam perspektif syariah, berbakti kepada orangtua merupakan kewajiban yang perlu dijalani dengan ikhlas.

"Pada saat kita berbakti, kita akan merasa memang itu kewajiban kita, dan harus dilakukan dengan ikhlas," ujarnya kepada Liputan6.com, Kamis (15/10/2026).

Menurut Vivin, nilai keikhlasan dalam membantu keluarga dapat menjadi salah satu cara memaknai tanggung jawab tersebut secara lebih positif. Ia juga mengingatkan bahwa bantuan kepada orangtua merupakan bagian dari sedekah kepada orang-orang terdekat.

"Sedekah yang paling mulia itu adalah sedekah kepada orang terdekat. Yang paling terdekat adalah siapa? Keluargamu," kata dia.

Ia menambahkan, "Selama kita melakukannya, secara mental pun kita akan safe." Meski demikian, keikhlasan dalam berbakti perlu berjalan beriringan dengan kesiapan finansial agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi tanpa mengorbankan kestabilan ekonomi pribadi.

"Proteksi finansial itu sangat penting. Selama finansialnya ada dan aman, ini safety net sebenarnya, karena banyak masalah mental itu disebabkan oleh finansial," ujarnya.

Vivin menilai ketidakpastian keuangan kerap membuat seseorang kehilangan ketenangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kekhawatiran mengenai biaya hidup, kebutuhan orangtua, pendidikan anak, hingga risiko kesehatan dapat menambah tekanan bagi keluarga yang berada dalam posisi generasi sandwich.

Karena itu, ia menekankan pentingnya memahami fungsi perlindungan finansial, termasuk asuransi, sebagai bagian dari perencanaan menghadapi risiko.

"Kehadiran asuransi itu sebenarnya untuk proteksi finansial, bukan menggantikan orang yang hilang. Yang kehilangan hal-hal produktif, terkait finansial, financial loss, itulah yang di-cover oleh asuransi," kata Vivin.

Lebih dari 80% Pendapatan Lansia Berasal dari Keluarga

Persoalan generasi sandwich semakin relevan ketika dukungan finansial dari anggota keluarga masih menjadi sumber utama penghidupan banyak orang lanjut usia di Indonesia.

Data yang dihimpun Prudential Syariah menunjukkan lebih dari 80% sumber pendapatan lansia di Indonesia berasal dari anggota keluarga yang masih bekerja. Kondisi ini menggambarkan besarnya peran keluarga dalam menopang kebutuhan hidup orangtua ketika memasuki usia lanjut.

Di sisi lain, keinginan generasi muda untuk memiliki kemandirian finansial juga semakin terlihat. Prudential Syariah mencatat 88% anak muda Indonesia ingin memiliki perlindungan finansial agar tidak membebani keluarga di kemudian hari.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa kesadaran untuk mempersiapkan masa depan menjadi bagian penting dalam menghadapi risiko finansial lintas generasi.

Tanpa perencanaan sejak dini, kebutuhan hidup saat memasuki usia lanjut berpotensi bergantung pada penghasilan anak. Akibatnya, generasi berikutnya harus membagi pendapatan untuk memenuhi kebutuhan pribadi sekaligus membantu orangtua.

Perencanaan keuangan, pembentukan dana darurat, persiapan masa pensiun, serta pemahaman mengenai perlindungan terhadap risiko kesehatan dan finansial dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi potensi tekanan tersebut.

Gen Z Dinilai Lebih Sadar Pentingnya Asuransi

Vivin menilai generasi Z atau Gen Z memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap pentingnya asuransi dibandingkan generasi sebelumnya. Menurut dia, anak muda mulai memahami perlunya persiapan agar persoalan finansial yang pernah dialami orangtua tidak terulang dalam kehidupan mereka.

"Mereka tidak mau hal-hal yang dulu mungkin belum disiapkan orangtuanya terjadi pada mereka," ujarnya.

Kesadaran tersebut menjadi modal bagi generasi muda untuk mulai menyusun perencanaan keuangan sesuai kemampuan dan kebutuhan masing-masing. Dengan persiapan yang lebih awal, mereka diharapkan dapat membangun kemandirian finansial tanpa mengabaikan tanggung jawab kepada keluarga.

Namun, perlindungan finansial bukan hanya soal memiliki produk asuransi. Pemahaman mengenai kebutuhan hidup, kemampuan membayar premi, ketersediaan dana darurat, dan tujuan keuangan jangka panjang juga perlu diperhitungkan agar perencanaan berjalan sesuai kondisi masing-masing.

Orangtua Ingin Berbakti Tanpa Membebani Anak

Kekhawatiran menjadi beban bagi anak ketika memasuki usia lanjut juga dirasakan pasangan kreator konten home living, Lukman dan istrinya, Ida.

Dalam sesi talkshow peluncuran PRUCare 360 Syariah, Lukman mengungkapkan keinginannya agar upaya membesarkan anak dengan baik tidak berakhir dengan memindahkan beban finansial kepada mereka di masa depan.

"Kita sudah berusaha mengoptimalkan pengasuhan anak, tapi saat kita tua ternyata kita sendiri yang menambah bebannya," ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan dilema yang dihadapi banyak orangtua. Di satu sisi, mereka ingin memberikan kehidupan terbaik bagi anak. Di sisi lain, mereka juga berharap dapat menjalani masa tua dengan mandiri tanpa harus bergantung sepenuhnya pada penghasilan anak.

Ida sepakat bahwa membantu orangtua merupakan bentuk bakti. Namun, menurut dia, anak juga perlu memiliki keleluasaan finansial untuk membangun kehidupannya sendiri.

"Supaya anak bisa membiayai hidupnya sendiri. Biar lebih bebas, lebih luas," kata dia.

Keinginan tersebut menegaskan pentingnya keseimbangan antara tanggung jawab keluarga dan kesiapan finansial. Berbakti kepada orangtua tetap menjadi nilai penting, tetapi persiapan masa depan juga diperlukan agar kebutuhan antargenerasi tidak saling membebani.

Pada akhirnya, menghadapi tantangan generasi sandwich membutuhkan lebih dari sekadar peningkatan penghasilan. Kesiapan mental, komunikasi terbuka antaranggota keluarga, perencanaan keuangan, dan perlindungan terhadap risiko dapat membantu menciptakan hubungan keluarga yang lebih sehat sekaligus menjaga kemandirian finansial setiap generasi. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement