Breaking News
Memuat breaking news...

Belum Habis Rasa Lelah Menghadapi Banjir, Kini Warga Desa Sekoci Kembali Dilanda Banjir

Redaksi
Redaksi
Kamis, 29 Oktober 2026 - 2.51 PM WIB
Belum Habis Rasa Lelah Menghadapi Banjir, Kini Warga Desa Sekoci Kembali Dilanda Banjir
LUAPAN banjir yang merendam ruas jalan dan wilayah permukiman di Besitang sudah berangsur surut. Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

BESITANG (Waspada.id): Belum hilang rasa lelah akibat dilanda banjir, kini Desa Sekoci, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Kamis (29/10), kembali terendam banjir dengan ketinggian air kurang lebih 1 meter.

Ada tiga dusun yang terendam banjir akibat meluapnya Sungai Besitang, yakni Dusun Pantai Pulo, Dusun Sidodadi dan Dusun Bengkel. Akibat fenomena alam ini, ratusan warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Warga di desa yang dulunya terkenal sebagai sentra penghasil jeruk manis ini sangat rentan menghadapi banjir. Dalam satu bulan terakhir ini saja tercatat sudah enam kali wilayah ini dikepung banjir.

Setiap turun hujan lebat, masyarakat di desa ini, termasuk warga Kelurahan Kampung Lama, selalu dihantui rasa was- was meluapnya Sungai Besitang. Kondisi sungai yang sudah cukup dangkal ini memaksa warga harus

meningkatkan kewaspadaan yang tinggi.

Potensi bencana banjir di wilayah Desa Sekoci, Desa Bukitmas, Kelurahan Kampung Lama, dan Kelurahan Bukit Kubu diperkirakan akan terus mengancam mengingat curah hujan masih relatif tinggi sampai memasuki akhir tahun.

Kades Sekoci, Gunawan, dihubungi waspada.id mengatakan, stok bahan pangan untuk warga yang mengungsi untuk saat ini masih tercover, namun untuk beberapa hari ke depan jika banjir masih terjadi ia belum dapat memastikan.

Dalam video yang beredar di group WhatsApp Update Sungai Besitang, Kades melaporkan kepada Plt Bupati Langkat bahwa Desa Sekoci dilanda banjir. "Yang kami butuhkan saat ini dibukanya dapur unum, bantuan logistik dan obat-obatan," ujarnya.

Supiran, salah seorang warga mengatakan, air mulai meluap sekira pukul 03:00. Khusus di Dusun Sejambu, kondisi air sudah surut. " Kami dari tadi malam standby di Kampung Rescue untuk memantau situasi air," ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan salah seorang warga Kelurahan Kampung Lama, Syaril Sinlamba. Ia mengatakan, kondisi air pada sore hari ini sudah surut. Ia berharap malam ini hujan lebat tidak turun di kawasan hulu.

Banjir yang setiap tahunnya kerab melanda beberapa desa dan kelurahan di wilayah Besitang diyakini dampak dari kerusakan ekosistem hutan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang sudah sedemikian parah.

Laju kerusakan DAS, khususnya di kawasan hulu Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) diperkirakan mencapai puluhan ribu hektar. Karenanya, bencana banjir sangat berpotensi melanda daerah ini, terutama dimusim hujan.

Sungai Besitang saat ini kondisinya jugq sudah sangat dangkal pasca terjadinya peristiwa bencana banjir bandang pada tahun 2006 dan tahun 2025. Kondisi sungai dari hulu hingga hilir mengalami pendangkalan cukup parah.

Warga Besitang sudah sejak lama mendesak pemerintah agar segera melakukan langkah normalisasi sungai. Tapi, teriakan masyarakat yang sudah lelah menghadapi bencana banjir ini sepertinya tak mendapat respon dari pemerintah pusat. (id24)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement