Breaking News
Memuat breaking news...

Bencana Tidak Boleh Hentikan Produksi: Satgas PRR Pusat Percepat Kebangkitan Budidaya Perikanan di Aceh

Redaksi
Redaksi
Kamis, 24 September 2026 - 11.45 AM WIB
Bencana Tidak Boleh Hentikan Produksi: Satgas PRR Pusat Percepat Kebangkitan Budidaya Perikanan di Aceh
Kepala Dinas Pangan, Kelautan dan Perikanan Aceh Tamiang, drh. Asma'i, saat melepaskan benur udang di tambak masyarakat Desa Alur Nunang, Kecamatan Banda Mulia. (Waspada.id/Ist)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

ACEH TAMIANG (Waspada.id): Bencana alam yang melanda tidak boleh menghentikan produksi dan tidak boleh menghentikan harapan masyarakat. Semangat tersebut dibawa Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Satgas PRR) Pusat, yang dipimpin Katim Korwil Aceh-2, Brigjen TNI (Mar) Dr. Guslin, S.H., M.H., dalam mempercepat pemulihan sektor perikanan budidaya di Aceh. Rabu, (23/9) /2026).

Bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, pembudidaya, penyuluh, dan para pemangku kepentingan, Satgas PRR Pusat mendorong tambak masyarakat yang terdampak bencana untuk kembali berproduksi.

"Hari ini, sebanyak 100 hektare tambak masyarakat di empat kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang mulai dioperasikan kembali, ditandai secara simbolis dengan penebaran benih udang di tambak masyarakat Desa Alur Nunang, Kecamatan Banda Mulia," kata drh. Asma'i, Kepala Dinas Pangan, Kelautan dan Perikanan Aceh Tamiang.

Disampaikannya,langkah tersebut bukan sekadar menghidupkan kembali lahan tambak. Lebih dari itu, ini adalah upaya menghidupkan kembali mata pencaharian, aktivitas ekonomi, dan optimisme masyarakat pesisir.

“Tambak yang kembali berproduksi berarti ekonomi masyarakat mulai bergerak kembali. Karena itu,pihaknya harus memastikan masyarakat kembali mampu berproduksi.” sebut Asma'i.

Dijelaskannya, bahwa operasionalisasi 100 hektare tambak di Aceh Tamiang menjadi bagian dari target pemulihan kawasan terdampak bencana yang mencapai 584,89 hektare pada tahun ini.

"Untuk mendorong produksi kembali berjalan, KKP memberikan dukungan input produksi berupa 3,5 juta ekor benih udang vaname dan 32,5 ton pakan kepada masyarakat pembudidaya, " ujarnya seraya mengatakan, bantuan tersebut dirancang sebagai stimulus awal agar pembudidaya tidak harus menunggu terlalu lama untuk kembali masuk ke siklus produksi.

Dengan demikian, pendekatan pemulihan yang dilakukan tidak berhenti pada “tambak sudah diperbaiki,tetapi bergerak lebih jauh menuju “tambak sudah kembali menghasilkan.

Percepatan pemulihan juga terus dilakukan di berbagai wilayah terdampak di Provinsi Aceh. Hingga saat ini, KKP telah memulihkan 1.372 hektare tambak terdampak bencana di Provinsi Aceh.

Capaian tersebut menjadi bagian dari kerja bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, pembudidaya, penyuluh, serta pemangku kepentingan lainnya dalam mengembalikan produktivitas kawasan perikanan budidaya.

Bagi Satgas PRR Pusat, angka tersebut bukan sekadar capaian luasan. Di balik setiap hektar tambak yang kembali beroperasi terdapat keluarga pembudidaya yang kembali bekerja, rantai pasok yang kembali bergerak, kebutuhan sarana produksi yang kembali tumbuh, dan aktivitas ekonomi lokal yang kembali hidup.

Masih kata Asma'i, pendekatan pemulihan pascabencana di sektor perikanan diarahkan untuk memastikan bahwa rehabilitasi memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.

Karena itu, dukungan pemerintah tidak berhenti pada rehabilitasi kawasan. Input produksi berupa benih dan pakan diberikan untuk mempercepat masyarakat memasuki kembali proses produksi.

“Kita ingin masyarakat tidak hanya melihat tambaknya pulih, tetapi merasakan bahwa kehidupan ekonominya juga mulai pulih. Tambak harus kembali menjadi sumber penghidupan masyarakat.”harapnya dan menyampaikan, snergi pusat dan daerah menjadi kunci agar proses tersebut berlangsung cepat, tepat, dan berkelanjutan.

Penyaluran dukungan selanjutnya akan dilakukan secara bertahap ke kawasan terdampak lainnya berdasarkan hasil verifikasi lapangan dan tingkat kerusakan, sehingga proses rehabilitasi dapat dilakukan secara menyeluruh.

Asma'i mengemukakan, pascabencana bukan akhir dari aktivitas ekonomi masyarakat. Pascabencana adalah momentum untuk membangun kembali kawasan perikanan agar lebih produktif, lebih tangguh, dan lebih siap menghadapi risiko di masa depan.

Melalui percepatan rehabilitasi, dukungan produksi, dan sinergi lintas pihak, pemerintah mendorong kawasan budidaya terdampak untuk kembali menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat.

"Inilah semangat pemulihan perikanan budidaya Aceh menuju kawasan yang kembali produktif dan tangguh, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional dan visi Ekonomi Biru menuju Indonesia Emas," pungkas Asma'i.(Id76)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement