Benih Konflik Baru di Asia Tekan Rupiah, IHSG Masih Bertahan MenguatBenih Konflik Baru di Asia Tekan Rupiah, IHSG Masih Bertahan Menguat

MEDAN (Waspada.id): Meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Asia kembali membayangi pergerakan pasar keuangan pada akhir pekan. Peluncuran rudal jarak pendek oleh Korea Utara ke arah wilayah Jepang memicu kekhawatiran investor dan mendorong pelemahan sejumlah bursa saham di Asia.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu dibuka menguat ke level 6.352 pada perdagangan pagi. Namun, penguatan itu diperkirakan belum cukup kuat untuk menghilangkan tekanan yang membayangi sektor keuangan.
Pengamat Ekonomi dan Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, pelaku pasar kini dihadapkan pada dua sentimen geopolitik sekaligus. Selain masih menunggu kelanjutan negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat, munculnya ketegangan baru di Semenanjung Korea turut meningkatkan sikap waspada investor.
"Alih-alih memperoleh kepastian dari proses negosiasi Iran dan Amerika Serikat, pasar justru kembali dibayangi meningkatnya risiko geopolitik di Asia. Kondisi ini mendorong investor memilih aset yang lebih aman dan menekan pergerakan pasar keuangan," ujar Gunawan, Jumat (7/8).
Menurutnya, ketegangan tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Minyak Brent yang sebelumnya berada di kisaran 80 dolar AS per barel kini naik menjadi sekitar 83 dolar AS per barel.
Di pasar valuta asing, tekanan terhadap rupiah kembali terlihat. Mata uang Garuda pada perdagangan pagi melemah ke kisaran Rp17.935 per dolar AS seiring menguatnya mata uang Amerika.
"Penguatan USD Index yang bergerak mendekati level 100, tepatnya sekitar 99,93, kembali memberikan tekanan terhadap rupiah. Selama dolar AS tetap menguat, ruang penguatan rupiah masih cukup terbatas," jelas Gunawan.
Ia memproyeksikan IHSG pada perdagangan hari ini bergerak dalam rentang 6.275 hingga 6.380. Sementara nilai tukar rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Sementara itu, harga emas dunia tercatat bergerak melemah tipis di kisaran 4.258 dolar AS per troy ons. Meski demikian, jika dikonversikan ke rupiah, harga emas masih berada di sekitar Rp2,46 juta per gram akibat pelemahan nilai tukar rupiah.
Gunawan menambahkan, arah pasar selanjutnya masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global. Selama belum ada kepastian terkait negosiasi Iran-Amerika Serikat maupun meredanya ketegangan di Asia Timur, volatilitas di pasar keuangan diperkirakan masih akan tetap tinggi. (id09)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda