Bentengi Generasi Muda Dari Perilaku Negatif, IKA BKPRMI Aceh Dorong Revitalisasi Remaja MasjidBentengi Generasi Muda Dari Perilaku Negatif, IKA BKPRMI Aceh Dorong Revitalisasi Remaja Masjid

ACEH BESAR (Waspada.id): Ikatan Keluarga Alumni Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (IKA BKPRMI) Aceh mendorong revitalisasi organisasi remaja masjid di seluruh Aceh sebagai langkah strategis untuk membentengi generasi muda dari berbagai perilaku negatif, seperti penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, dan pelanggaran syariat Islam lainnya.
Hal tersebut disampaikan Ketua Pengurus IKA BKPRMI Aceh, Dr. Bustami Usman, SH., SAP., M.Si., di sela-sela pertemuan silaturrahim IKA BKPRMI Aceh di Desa Wisata Nusa, Lhoknga, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Bustami, remaja masjid memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam pembinaan generasi muda berbasis nilai-nilai keislaman. Karena itu, penguatan organisasi remaja masjid perlu dilakukan secara menyeluruh, baik dari aspek kelembagaan, program kegiatan, maupun peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Remaja masjid harus menjadi ruang pembinaan yang aktif, kreatif, dan menarik bagi generasi muda, sehingga mereka memiliki aktivitas positif dan tidak terjerumus dalam perilaku menyimpang,” ujarnya.
Ia menegaskan, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini semakin kompleks. Fenomena perilaku menyimpang di kalangan remaja, pelajar, dan mahasiswa, terutama di wilayah perkotaan, menjadi keprihatinan bersama, termasuk meningkatnya risiko penyakit akibat pergaulan bebas.

Ketua Pengurus IKA BKPRMI Aceh Dr Bustami Usman, SH, SAP, MSi.(Waspada.id/Ist)
Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan pembinaan yang adaptif, inovatif, dan berkemajuan.
Bustami menyebutkan, remaja masjid dapat mengambil peran melalui berbagai kegiatan edukatif, sosial, dan keagamaan. Di antaranya pembinaan keislaman, syiar Islam, kegiatan olahraga, serta aktivitas sosial budaya yang melibatkan masyarakat secara luas.
Ia juga menekankan pentingnya peran aktif remaja masjid di tingkat desa dan kecamatan untuk melakukan pendekatan jemput bola, dengan mengajak remaja, pelajar, dan mahasiswa, baik yang tinggal bersama orang tua maupun di kos, untuk terlibat dalam kegiatan keislaman di masjid.
“Melalui kegiatan seperti belajar mengaji, menghafal Al-Qur’an, dan memperbaiki praktik ibadah, generasi muda akan semakin dekat dengan masjid,” katanya.
Menurutnya, metode pembinaan yang variatif dan kreatif akan menjadikan masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan karakter dan penguatan akhlak generasi muda.
Lebih lanjut, Bustami mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, tokoh masyarakat, pengurus masjid, serta BKPRMI, untuk bersama-sama memperkuat peran remaja masjid di Aceh.
Ia menilai, upaya pembinaan generasi muda tidak dapat berjalan optimal tanpa dukungan pemerintah, terutama dalam hal kebijakan dan penganggaran.
“Pembinaan remaja, pelajar, dan mahasiswa tidak akan maksimal tanpa keterlibatan pemerintah. Karena itu, perlu dukungan nyata, termasuk alokasi anggaran di tingkat desa, kecamatan, hingga provinsi,” tegasnya.
Bustami menambahkan, kolaborasi lintas sektor menjadi penentu agar gerakan revitalisasi remaja masjid dapat berjalan secara masif dan memberikan dampak di tengah masyarakat.
“Jika remaja masjid hidup dan aktif, maka kita optimistis generasi muda Aceh akan lebih kuat secara moral dan ketakwaan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman,” pungkasnya. (Id66)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda