Benu Buloe Membaca Luka, Dompet Dhuafa Menjaga AsaBenu Buloe Membaca Luka, Dompet Dhuafa Menjaga Asa

Hidup kadang seperti Kuah Beulangong. Ada pedas yang menguji, ada gurih yang menghibur, ada panas yang harus ditahan, dan ada waktu panjang yang diperlukan agar semua rasa menyatu sempurna.
Di Gampong (Desa-red), Riseh Teungoh, Kabupaten Aceh Utara, filosofi itu seakan menjelma menjadi kenyataan. Desa yang pernah diterjang banjir bandang tersebut masih menyimpan luka, tetapi di saat yang sama tetap merawat harapan untuk bangkit.
Asap tipis mengepul dari sebuah belanga besar yang diletakkan di bawah tenda sederhana. Aroma rempah perlahan menguar, bercampur dengan suara tawa anak-anak yang berlarian di antara deretan hunian sementara.
Dari kejauhan, tidak banyak yang menyangka bahwa tempat ini pernah menjadi saksi salah satu bencana paling berat yang dialami masyarakat Aceh Utara.
Di depan belanga itu, beberapa warga tampak sibuk mengaduk Kuah Beulangong. Sesekali mereka saling bercanda.
Tidak ada kesan bahwa mereka adalah penyintas yang pernah kehilangan rumah, lahan, dan sebagian besar harta benda akibat banjir bandang yang datang tanpa ampun.
Bagi masyarakat Aceh, Kuah Beulangong bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol kebersamaan. Semua bahan dimasukkan ke dalam satu belanga besar, dimasak bersama, lalu dinikmati bersama pula.
Filosofi itu pula yang tampak dalam kehidupan warga Riseh Teungoh pascabanjir.
Setahun lalu, luapan Krueng Inong dan Krueng Lenbayong menyapu hampir seluruh wilayah desa.
Menurut data pemerintah gampong yang disampaikan Keuchik Sukri Puteh, sekitar 86 persen wilayah terdampak bencana. Dari 148 kepala keluarga ( KK) dengan jumlah penduduk sekitar 800 jiwa, sebagian besar kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan.
Sebanyak 142 rumah berada di kawasan zona merah. 84 rumah hilang atau rusak total, sementara lebih dari seratus rumah lainnya mengalami kerusakan berat.
Tidak hanya rumah warga, meunasah, masjid, kantor gampong, pasar, warung masyarakat, jembatan, hingga jalan akses utama juga mengalami kerusakan.
"Bahkan rumah saya sendiri juga ikut terdampak banjir," ujar Sukri Puteh.
Meski demikian, warga memilih untuk tidak larut dalam kesedihan. Sebagian masih tinggal di hunian sementara, sebagian lainnya menumpang di rumah kerabat. Namun kehidupan terus berjalan.
Momentum Iduladha tahun ini membawa sedikit kebahagiaan bagi masyarakat. Melalui program The Kurban Series 1447 Hijriah, Dompet Dhuafa menyalurkan 16 ekor domba kurban kepada warga Riseh Teungoh.
Di lokasi penyembelihan, suasana kebersamaan terasa begitu kuat. Warga bergotong royong menyiapkan lokasi, menyembelih hewan kurban, hingga membagikan daging kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan.

Nasi Kuah Beulangong daging menjadi hidangan istimewa bagi anak-anak di Riseh Teungoh. Waspada.id/Muhammad Riza
Presenter kuliner dan pegiat kemanusiaan, Ibnu Sakhdan atau yang lebih dikenal sebagai Benu Buloe, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Pria asal Aceh yang dikenal luas melalui berbagai program kuliner dan perjalanan di televisi nasional itu selama bertahun-tahun menjadikan makanan sebagai pintu masuk untuk memahami kehidupan masyarakat.
Dari warung sederhana di pelosok desa hingga dapur-dapur tradisional Nusantara, Benu belajar bahwa setiap hidangan menyimpan cerita tentang perjuangan, kebersamaan, dan kemanusiaan.
Pengalaman itulah yang membuatnya melihat Riseh Teungoh bukan sekadar lokasi bencana, melainkan ruang tempat ketabahan dan harapan terus dirawat oleh masyarakatnya.
Menurut Benu Buloe, kurban bukan hanya tentang hewan yang disembelih, melainkan tentang bagaimana kepedulian menemukan jalannya menuju mereka yang sedang membutuhkan.
"Di Aceh, Kuah Beulangong selalu identik dengan kebersamaan. Ketika saya melihat warga Riseh Teungoh berkumpul, memasak, berbagi, dan saling membantu, saya seperti melihat filosofi Kuah Beulangong itu hidup di tengah masyarakat.
Ada yang memberi, ada yang menerima, tetapi semua merasakan manfaatnya bersama-sama," ujarnya.
Benu menilai bantuan kurban yang disalurkan melalui Dompet Dhuafa memiliki makna yang jauh lebih luas daripada nilai ekonominya.
"Kadang yang dibutuhkan penyintas bukan hanya bantuan material. Mereka juga membutuhkan keyakinan bahwa masih ada orang yang peduli. Kurban menjadi pesan bahwa mereka tidak sendiri menghadapi cobaan ini," katanya.
Bagi Benu, The Kurban Series 1447 Hijriah bukan sekadar program distribusi hewan kurban. Program ini merupakan jembatan yang menghubungkan kepedulian para pekurban dengan masyarakat yang membutuhkan uluran tangan.
Dalam pandangannya, kurban menjadi cara paling sederhana untuk menghadirkan kebahagiaan sekaligus menjaga martabat masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan hidup.
Pernyataan tersebut tercermin dari suasana yang terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Seorang warga yang mengangkut daging kurban mengaku sengaja membawakan bagian untuk tetangganya yang belum sempat datang ke lokasi pembagian.
Pemandangan sederhana itu menunjukkan bahwa semangat berbagi tetap hidup meski masyarakat sedang menghadapi keterbatasan.
Bagi Benu Buloe, Riseh Teungoh menyimpan pelajaran penting tentang kemanusiaan.
"Bencana memang bisa merobohkan bangunan dan menghanyutkan harta benda. Tetapi saya melihat sendiri bahwa bencana tidak mampu menghanyutkan gotong royong dan kepedulian masyarakat di sini. Itu yang membuat saya optimistis mereka akan bangkit," ungkapnya.
Menjelang siang, aroma Kuah Beulangong semakin kuat. Belanga besar terus diaduk agar bumbu meresap sempurna. Warga berkumpul, berbincang, dan menikmati hidangan bersama.

Di tengah jejak bencana yang masih tersisa, suasana tersebut menghadirkan gambaran sederhana tentang arti kebersamaan. Seperti Kuah Beulangong yang membutuhkan banyak bahan untuk menghasilkan cita rasa terbaik, kebangkitan sebuah desa juga membutuhkan banyak tangan yang saling membantu.
Riseh Teungoh mungkin masih menyimpan luka. Namun di balik luka itu, harapan terus tumbuh. Dan seperti aroma Kuah Beulangong yang perlahan menyebar dari satu sudut kampung ke sudut lainnya, kepedulian yang hadir melalui The Kurban Series 1447 Hijriah menjadi pengingat bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya untuk sampai kepada mereka yang membutuhkan. Muhammad Riza/Waspada.id































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda