Beudaya Meusare Sare: UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya SaingBeudaya Meusare Sare: UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing

Di Jakarta, pada pertengahan Agustus 2026, riuh langkah para pelaku usaha kecil memenuhi Hall A dan B JIExpo Convention Center. Di sana, Bank Indonesia menggelar Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026, sebuah panggung besar yang bukan sekadar pameran, melainkan perayaan ketangguhan UMKM Indonesia.
Tema yang diusung kali ini datang dari Aceh: “Beudaya Meusare Sare” — berdaya bersama-sama. Sebuah filosofi yang lahir dari tanah yang pernah diuji bencana, namun selalu bangkit dengan semangat kolektif. Dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Timur, UMKM yang sempat porak-poranda kini menata diri, membawa harapan baru lewat karya, inovasi, dan keberanian.
Di balik panggung megah, hadir wajah-wajah yang mewakili harapan bangsa. Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, membuka acara dengan tiga kata kunci yang menjadi mantra: Bangkit, Tangguh, Berdaya Saing. Bangkit dari keterpurukan, tangguh menghadapi badai ekonomi, dan berdaya saing menembus pasar global.
Namun, KKI bukan hanya tentang pidato dan angka. Ia adalah tentang denyut kehidupan yang nyata. 47 UMKM Aceh datang membawa tenun Kutaradja, mutiara songket, dan bordir Surita — bukan sekadar produk, melainkan cerita panjang tentang tangan-tangan yang bekerja, budaya yang dijaga, dan mimpi yang ingin diperkenalkan ke dunia. Pada hari pertama saja, transaksi mereka menembus lebih dari satu miliar rupiah. Angka itu bukan sekadar capaian, melainkan bukti bahwa budaya bisa menjadi kekuatan ekonomi.

Selama empat hari, lebih dari 550 UMKM luring dan 1.300 daring ikut serta. Dari kopi hingga kriya, dari wastra hingga kuliner, semua berpadu dalam satu ruang yang menghidupkan semangat kebersamaan. Ada talkshow tentang keuangan inklusif, ada business matching yang mempertemukan pelaku usaha dengan pembiayaan, ada ruang hijau yang mengingatkan bahwa keberlanjutan adalah bagian dari masa depan UMKM.
Di balik gemerlap pameran, ada cerita kecil yang sering luput dari sorotan. Seorang pengrajin tenun dari Aceh berkata lirih, “Kami datang bukan hanya untuk menjual, tapi untuk menunjukkan bahwa budaya kami masih hidup.” Kalimat sederhana itu merangkum makna KKI: sebuah panggung di mana UMKM bukan sekadar roda ekonomi, melainkan penjaga identitas bangsa.
KKI 2026 adalah undangan bagi kita semua. Undangan untuk melihat bahwa di balik produk lokal ada kisah perjuangan, ada tangan-tangan yang menolak menyerah, ada budaya yang terus berdenyut. Beudaya Meusare Sare bukan sekadar tema, ia adalah pesan: bahwa kebangkitan hanya mungkin jika dilakukan bersama-sama. (Maimun Asnawi, S.HI.,M.Kom.I/WASPADA.id)


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda