BI Akan Tentukan Suku Bunga, IHSG Tertekan GeopolitikBI Akan Tentukan Suku Bunga, IHSG Tertekan Geopolitik

MEDAN (Waspada.id): Bank Indonesia (BI) akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) untuk menentukan arah kebijakan suku bunga acuan. Di tengah ekspektasi BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen, pasar keuangan domestik justru menghadapi tekanan dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen sudah cukup sesuai dengan kondisi pasar saat ini. Kebijakan tersebut diperkirakan belum memberikan katalis besar terhadap pergerakan pasar keuangan domestik.
“Kalau BI mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen, keputusan tersebut sebenarnya sudah cukup banyak diantisipasi pasar. Jadi, ruang bagi kebijakan suku bunga untuk menjadi katalis positif bagi IHSG maupun rupiah relatif terbatas,” ujar Gunawan, Rabu (19/8).
Di sisi lain, perhatian pelaku pasar kini lebih banyak tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) yang tidak akan melanjutkan pembicaraan dengan Iran serta adanya ancaman tindakan lanjutan terkait Selat Hormuz kembali meningkatkan kekhawatiran pasar.
Tekanan tersebut tercermin dari pergerakan bursa saham Asia yang mayoritas berada di zona merah pada perdagangan pagi. IHSG juga ikut terkoreksi tajam dan sempat berada di level 6.408 pada pembukaan perdagangan.
Menurut Gunawan, eskalasi konflik Iran-AS berpotensi menjadi faktor utama yang membayangi pasar keuangan dalam jangka pendek.
“Pasar saat ini lebih sensitif terhadap perkembangan geopolitik dibandingkan keputusan suku bunga BI. Kalau ketegangan Iran dan AS terus meningkat, investor akan cenderung mengurangi aset berisiko dan mencari instrumen yang dianggap lebih aman,” jelasnya.
Kekhawatiran pasar semakin besar karena harga minyak mentah dunia kembali mendekati level psikologis US$92 per barel. Harga minyak Brent tercatat berada di sekitar US$91,9 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut menjadi perhatian karena konflik yang melibatkan Iran berpotensi mengganggu distribusi energi global, terutama jika eskalasi berdampak terhadap jalur perdagangan di kawasan Selat Hormuz.
“Kalau konflik berkembang menjadi perang darat, dampaknya bisa jauh lebih besar. Bukan hanya terhadap harga minyak, tetapi juga terhadap inflasi global, biaya logistik dan prospek pertumbuhan ekonomi,” kata Gunawan.
Meski IHSG tertekan, rupiah justru masih mampu bertahan di zona hijau. Mata uang Garuda pada perdagangan pagi tercatat menguat tipis ke level Rp17.830 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) ke level 99,6. Gunawan menilai penguatan rupiah saat ini belum bisa diartikan sebagai sinyal pembalikan tren yang kuat.
“Rupiah masih mendapatkan ruang penguatan karena dolar AS sendiri mengalami tekanan. Tetapi selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi, ruang penguatan rupiah tetap terbatas,” ujarnya.
Sementara itu, harga emas dunia juga mengalami koreksi ke sekitar US$4.353 per troy ounce atau setara sekitar Rp2,5 juta per gram. Pelemahan emas terjadi di tengah meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Kenaikan yield US Treasury membuat instrumen berbasis dolar AS tersebut menjadi lebih menarik bagi investor dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Gunawan menilai pelaku pasar masih akan mencermati tiga faktor utama dalam beberapa waktu ke depan, yakni keputusan BI terkait BI-Rate, perkembangan konflik Iran-AS, serta pergerakan harga minyak dan imbal hasil US Treasury.
“Untuk IHSG, tekanan masih berpotensi berlanjut selama sentimen geopolitik belum mereda. Sementara rupiah masih memiliki peluang bertahan relatif stabil, tetapi tetap sangat bergantung pada arah dolar AS dan perkembangan konflik di Timur Tengah,” pungkasnya. (id09)


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda