Breaking News
Memuat breaking news...

BI: Ekonomi Global 2026 Masih Lemah, Hanya Tumbuh 3 Persen

Redaksi
Redaksi
Kamis, 20 Agustus 2026 - 6.44 AM WIB
BI: Ekonomi Global 2026 Masih Lemah, Hanya Tumbuh 3 Persen
Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayant
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Bank Indonesia (BI) melihat prospek perekonomian global masih lemah dan dibayangi ketidakpastian pasar keuangan yang tinggi. Konflik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak, serta lonjakan harga komoditas global menjadi sejumlah faktor yang menekan pertumbuhan ekonomi dunia.

Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti mengatakan, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan masih berada di level rendah, yakni sekitar 3 persen.

"Prospek perekonomian global masih lemah disertai dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi. Kondisi ini dipengaruhi oleh berlanjutnya intensitas perang di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dan komoditas dunia lainnya kembali naik," ujar Destry dalam Konferensi Pers Hasil RDG Agustus, Rabu (19/8).

Menurut Destry, ketidakpastian global diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat dan masih berlanjut hingga akhir tahun. Situasi ini bahkan berpotensi membawa perekonomian dunia memasuki era higher for longer, ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi bertahan tinggi dalam periode yang lebih panjang.

"Paling tidak sampai akhir tahun ini kita melihat bagaimana prospek dari global dan juga prospek dari ekonomi domestik kita. Untuk global ini memang kita akan menghadapi situasi yang mungkin akan cukup lama dengan ketidakpastian," jelasnya.

Suku Bunga Global Masih Tinggi

Destry menjelaskan tekanan terhadap ekonomi global juga tercermin dari arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Suku bunga Federal Funds Rate (FFR) berpotensi bertahan pada level tinggi seiring tekanan inflasi dan kenaikan harga minyak yang masih berlangsung.

Selain itu, pemerintah AS masih menghadapi kebutuhan pembiayaan untuk menutup defisit anggaran. Kebutuhan tersebut berpotensi meningkatkan pasokan obligasi di pasar dan pada akhirnya memberikan tekanan terhadap imbal hasil atau bond yield serta suku bunga global.

"Sehingga itu semua akan menciptakan situasi hampir semua apakah itu bond yield, apakah itu interest rate, mereka akan berada dalam posisi yang tinggi," katanya.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi perekonomian berbagai negara, termasuk Indonesia. Tingginya suku bunga global dapat memengaruhi arus modal, nilai tukar, serta biaya pembiayaan di pasar keuangan.

Ekonomi Indonesia Masih Tumbuh 5,29 Persen

Di tengah tekanan ekonomi global, Deputi Gubernur BI Aida S Budiman mengatakan kondisi perekonomian domestik Indonesia sejauh ini masih terjaga.

Aida menyebut ekonomi global masih menghadapi sejumlah gangguan, termasuk persoalan distribusi barang dan kenaikan harga komoditas. Namun, perekonomian Indonesia masih mampu mencatat pertumbuhan positif.

Salah satu indikatornya terlihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 yang mencapai 5,29 persen.

"Ini terutama didorong dan tampaknya sudah mulai terjadi dari hasil dari investasi proyek-proyek strategisnya pemerintah," ujar Aida di tempat yang sama.

Menurut Aida, terdapat perkembangan positif dalam struktur pertumbuhan ekonomi pada periode April-Juni 2026, khususnya dari sisi investasi.

Investasi tercatat mengalami perbaikan baik pada sektor bangunan maupun nonbangunan. Perkembangan tersebut menjadi salah satu penopang ekonomi domestik di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.

Dengan prospek ekonomi dunia yang diperkirakan hanya tumbuh sekitar 3 persen, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk menjaga momentum pertumbuhan domestik sekaligus mengantisipasi dampak dari tingginya suku bunga dan harga komoditas global. (cnni)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement