Breaking News
Memuat breaking news...

BI Pastikan Rupiah Bertanda Tangan Perry-Purbaya Masih Dicetak

Redaksi
Redaksi
Jumat, 25 September 2026 - 8.43 AM WIB
BI Pastikan Rupiah Bertanda Tangan Perry-Purbaya Masih Dicetak
Gubernur BI Destry Damayanti
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Bank Indonesia (BI) memastikan uang rupiah yang memuat tanda tangan Gubernur BI periode 2018-2026 Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan periode 2025-2026 Purbaya Yudhi Sadewa masih akan dicetak kembali.

Kepastian tersebut disampaikan Gubernur BI Destry Damayanti. Menurutnya, penerbitan uang dengan tanda tangan pejabat lama maupun pejabat baru merupakan bagian dari proses pencetakan uang kartal yang dilakukan secara rutin sesuai kebutuhan masyarakat.

"Hari ini, kalau enggak salah, hari ini terbit yang seri baru, tanda tangan dari Pak Menteri Keuangan yang lama dan Bapak Gubernur juga yang sebelumnya. Jadi hari ini keluar, hari ini atau beberapa hari yang lalu, tapi itu sudah ada. Ada yang minta kolektor?" ujar Destry dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Kamis (24/9).

Cetak Uang Bukan Karena Pergantian Pejabat

Destry menegaskan, pencetakan rupiah bukan semata-mata berkaitan dengan pergantian pejabat. Kegiatan tersebut merupakan agenda rutin BI untuk memastikan kebutuhan uang kartal masyarakat tetap terpenuhi.

"Cetak uang itu kan hal yang normal. Setiap tahun kita cetak uang," kata Destry.

Ia menjelaskan, pencetakan uang tidak dilakukan sekaligus pada awal maupun akhir tahun. BI memiliki tahapan serta perhitungan tersendiri untuk menentukan kebutuhan uang kartal dalam satu periode.

"Harus selalu yang tiap tahun itu ada masanya. Jadi mencetak itu nggak langsung jebret di awal tahun atau di akhir tahun, tapi ada tahapan-tahapannya. Karena biar gimana kan kebutuhan uang kartal itu masih ada," ujarnya.

Daerah Masih Butuh Uang Tunai

Menurut Destry, kebutuhan uang tunai masih cukup penting, terutama bagi masyarakat di daerah yang belum sepenuhnya terjangkau layanan digital dan jaringan komunikasi.

"Khususnya untuk teman-teman kita yang masih ada di daerah, di luar jangkauan yang sinyalnya juga byar pet (bahasa Jawa; ngejepret/nyala-hidup) gitu ya. Jadi itu hal yang biasa," katanya.

Karena itu, pencetakan uang tetap dilakukan untuk menjaga ketersediaan uang kartal di berbagai wilayah.

BI dan Pemerintah Hitung Kebutuhan Uang Beredar

Destry mengatakan, rencana pencetakan rupiah dibahas BI bersama pemerintah dengan memperhitungkan target uang beredar serta kebutuhan penerbitan uang kartal dalam periode tertentu.

"Sepanjang di awal itu selalu kita ada bicarakan dengan pemerintah, kira-kira berapa target dari uang beredar yang nanti akan di dalam satu periode," tuturnya.

Pembahasan tersebut biasanya dilakukan menjelang akhir tahun. Dari pembahasan itu, BI menentukan kebutuhan pencetakan uang kertas maupun uang logam untuk periode berikutnya.

"BI punya target money supply seperti ini, pemerintah punya target issuance seperti apa, nah itu kemudian kita diskusikan termasuk di situ adalah berapa banyak BI berencana untuk mengeluarkan uang kartal atau mencetak uang kertas dan uang logam," pungkas Destry.

Uang Bertanda Tangan Perry-Purbaya Jadi Buruan

Adapun uang yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial dan menjadi incaran kolektor merupakan uang rupiah kertas Tahun Emisi (TE) 2022 pecahan Rp100 ribu.

Menariknya, uang tersebut memiliki tahun cetak 2026 dan memuat tanda tangan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan serta Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI.

Dengan demikian, keberadaan tanda tangan kedua pejabat tersebut pada uang yang dicetak pada 2026 bukan berarti uang tersebut merupakan seri baru. BI tetap mencetak uang secara bertahap sesuai kebutuhan uang kartal dan mekanisme penerbitan yang berlaku. (cnni)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement