BKM Nurul Hidayah Luncurkan Kurikulum Khutbah 53 Tema Tahun 2027: Wujudkan Kebangkitan Peradaban dari Masjid


MEDAN (Waspada.id): Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Nurul Hidayah Komplek Pasaraya MMTC Desa Medan Estate Kecamatan Percut Seituan resmi meluncurkan Kurikulum Khutbah Jumat Masjid Nurul Hidayah Tahun 2027, Minggu (18/10/2026).
Kurikulum yang memuat 53 tema khutbah ini dirancang sebagai upaya membangun kualitas pembinaan umat melalui masjid, dengan visi besar mewujudkan kebangkitan peradaban Islam.
Peluncuran tersebut dilaksanakan di sela-sela kegiatan Pelatihan Mengajar Al-Qur'an Metode Tsaqifa dan Pelantikan Pengurus Lembaga Ad-Dakwah Sumatera Utara Periode bertempat di Masjid Nurul Hidayah, Jl. Pancing, Komplek Pasaraya MMTC.
Peluncuran secara simbolik dilakukan melalui penyerahan dokumen kurikulum kepada Ketua BKM Nurul Hidayah, Muhammad Ibrahimsyah Sinambela. Prosesi tersebut disaksikan Pembina Ad-Dakwah, Ustaz Dr. Khairul Mufti Rambe; Pembina Rumah Dakwah Marhamah, Bunda Hj. Ronny Rezkitta Siregar; serta para pengurus BKM dan Lembaga Ad-Dakwah yang dilantik.
Ketua BKM Nurul Hidayah, Muhammad Ibrahimsyah Sinambela, menyambut baik peluncuran kurikulum khutbah tersebut. Menurutnya, penyusunan materi khutbah secara terencana merupakan langkah positif untuk meningkatkan kualitas dakwah dan pembinaan jamaah di masjid.
"Semoga kurikulum ini dapat menjadi pedoman bagi para khatib dalam menyampaikan pesan-pesan keislaman yang terarah, relevan dengan kebutuhan umat, serta memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat," harap Ibrahimsyah.
Muhammad Ibrahimsyah juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama memakmurkan Masjid Nurul Hidayah Pasaraya MMTC, tidak hanya dengan melaksanakan ibadah salat, tetapi juga melalui partisipasi aktif dalam kegiatan keagamaan, pendidikan Al-Qur'an, kajian Islam, dan berbagai program pembinaan umat.
Menurutnya, masjid harus menjadi pusat ibadah sekaligus ruang untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, membangun akhlak, meningkatkan ilmu pengetahuan, dan mengembangkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
53 Tema Khutbah untuk Pembinaan Umat Selama Setahun
Sementara itu, Ketua Bidang Imarah BKM Nurul Hidayah, Ustaz Rahmad Gustin, menjelaskan bahwa silabus yang disusun mencakup 53 pelaksanaan salat Jumat sepanjang tahun 2027. Jumlah tersebut menyesuaikan kalender karena 1 Januari 2027 dan 31 Desember 2027 sama-sama jatuh pada hari Jumat.
Menurutnya, kurikulum tersebut tidak sekadar berisi kumpulan topik khutbah yang berdiri sendiri, melainkan dirancang secara komprehensif sebagai satu kesatuan program pembinaan jamaah selama setahun.
"Rancangan tema khutbah tahun 2027 ini disusun bukan sekadar sebagai topik-topik khutbah yang berdiri sendiri, melainkan dirancang secara komprehensif sebagai satu kesatuan kurikulum selama setahun. Mengusung tema besar 'Dari Mujahadah Individu Menuju Kebangkitan Peradaban Islam', kami ingin membimbing jamaah dalam perjalanan spiritual dan pemikiran yang terarah," ungkap Ustaz Rahmad Gustin.
Ia menjelaskan, penyusunan kurikulum ini berangkat dari pemikiran bahwa kebangkitan peradaban Islam harus dimulai dengan pembinaan individu, penguatan keluarga, pembangunan masyarakat, hingga terbentuknya kehidupan umat yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Tujuh Fase Kurikulum Khutbah
Ustaz Rahmad menerangkan bahwa 53 materi khutbah tersebut dibagi secara sistematis ke dalam tujuh fase pembangunan jamaah dan masyarakat.
Fase I – Membangunkan Kesadaran Umat (Jumat 1–7)
Fase ini berfokus pada penguatan kesadaran, identitas, dan tanggung jawab seorang Muslim dalam menjalankan ajaran agama serta berkontribusi bagi kehidupan masyarakat.
Fase II – Madrasah Ramadan (Jumat 8–12)
Fase ini menekankan pembentukan pribadi bertakwa melalui pendidikan spiritual Ramadan sebagai landasan untuk membangun kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.
Fase III – Membangun Kembali Peradaban Islam (Jumat 13–19)
Pada fase ini, jamaah diarahkan untuk mentransformasikan kesalehan pribadi menjadi kesalehan sosial melalui kepedulian, pengabdian, dan kontribusi nyata bagi umat.
Fase IV – Pengorbanan dan Hijrah (Jumat 20–25)
Fase ini menanamkan semangat pengorbanan, keikhlasan, dan keberanian untuk melakukan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Fase V – Membangun Pilar Peradaban (Jumat 26–31)
Materi pada fase ini membahas penguatan peran masjid, ekonomi, keadilan, serta tradisi ilmu sebagai fondasi pembangunan peradaban Islam.
Fase VI – Sirah Para Pejuang Islam (Jumat 32–46)
Fase ini mengajak jamaah meneladani perjalanan perjuangan Rasulullah SAW, para sahabat, ulama, dan tokoh-tokoh peradaban Islam dalam membangun umat.
Fase VII – Konsolidasi Kebangkitan Umat (Jumat 47–53)
Fase terakhir diarahkan untuk mengevaluasi perjalanan pembinaan selama setahun sekaligus memperkuat tekad dan komitmen dalam membangun masa depan umat Islam.
Meluruskan Makna Jihad dan Mujahadah
Lebih lanjut, Ustaz Rahmad menegaskan bahwa benang merah dari seluruh materi kurikulum tersebut terletak pada reorientasi makna jihad dan mujahadah dalam kehidupan seorang Muslim.
"Makna jihad dan mujahadah dalam kurikulum ini difokuskan pada kesungguhan menegakkan ketaatan kepada Allah, melawan hawa nafsu dan kemalasan, menuntut ilmu, berdakwah secara hikmah, membangun keluarga dan masyarakat, menegakkan keadilan, serta membawa kemaslahatan nyata bagi lingkungan sekitar," terangnya.
Dengan pendekatan tersebut, khutbah Jumat diharapkan tidak berhenti pada penyampaian pesan keagamaan, tetapi mampu mendorong perubahan perilaku, peningkatan kualitas ibadah, penguatan kepedulian sosial, dan pembangunan kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Diselaraskan dengan Kalender Hijriah dan Momentum Nasional
Penyusunan jadwal khutbah juga telah diselaraskan dengan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2027 dari Kementerian Agama Republik Indonesia serta Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Hari Libur Nasional.
Sejumlah momentum penting menjadi bagian dari pertimbangan penyusunan materi, antara lain peringatan Isra Mikraj, Ramadan, Idulfitri, Iduladha, Tahun Baru Hijriah, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, hingga Hari Santri.
Penyelarasan tersebut diharapkan membuat materi khutbah lebih kontekstual dan relevan dengan perjalanan waktu, dinamika kehidupan umat, serta momentum keagamaan dan kebangsaan.
Masjid sebagai Pusat Kebangkitan Peradaban
Peluncuran Kurikulum Khutbah Jumat Masjid Nurul Hidayah Tahun 2027 menjadi salah satu langkah penguatan fungsi masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dakwah, dan pembangunan peradaban Islam.
Melalui 53 tema khutbah yang tersusun dalam tujuh fase pembinaan, BKM Nurul Hidayah berupaya menghadirkan dakwah yang terencana, berkesinambungan, dan berorientasi pada perubahan nyata dalam kehidupan jamaah.
Kurikulum ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi para khatib untuk menyampaikan khutbah yang lebih berbobot, terstruktur, dan menyentuh kebutuhan umat.
Sebagaimana visi yang diusung, “Dari Mujahadah Individu Menuju Kebangkitan Peradaban Islam,” pembangunan peradaban dimulai dari kesungguhan memperbaiki diri, dilanjutkan dengan membangun keluarga dan masyarakat, serta diperkuat melalui masjid sebagai pusat pembinaan umat.
Dengan dukungan pengurus BKM, para khatib, lembaga dakwah, dan partisipasi masyarakat, Masjid Nurul Hidayah Pasaraya MMTC diharapkan semakin berkembang menjadi pusat kegiatan keislaman yang mampu memperkuat iman, ilmu, akhlak, ukhuwah, dan keadilan sosial.(id88)
Berita Terkait

































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda