Boom AI Dongkrak Ekonomi AS Tumbuh 3,4%, Tercepat dalam Setahun


JAKARTA (Waspada.id): Ledakan investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai menunjukkan pengaruh besar terhadap perekonomian Amerika Serikat (AS). Bersama kuatnya belanja konsumen, investasi perusahaan di sektor teknologi tersebut mendorong ekonomi AS tumbuh 3,4% pada kuartal III 2026, menjadi pertumbuhan tercepat dalam setahun terakhir.
Biro Analisis Ekonomi AS (Bureau of Economic Analysis/BEA) melaporkan, Produk Domestik Bruto (PDB) AS meningkat pada tingkat tahunan sebesar 3,4% setelah disesuaikan dengan inflasi. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2,2% pada kuartal sebelumnya.
Konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama. Belanja konsumen yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS tumbuh 3,8%. Angka tersebut menunjukkan masyarakat masih mempertahankan pengeluaran meskipun dibayangi kenaikan harga kebutuhan.
Namun, kuatnya pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya mencerminkan kondisi keuangan yang dirasakan masyarakat. Di tengah angka pertumbuhan yang positif, tekanan biaya hidup dan inflasi masih menjadi persoalan.
Ekonomi Tumbuh, Masyarakat Masih Tertekan Biaya Hidup
Menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections), banyak warga AS masih mengeluhkan tingginya biaya hidup. Sebagian masyarakat menilai pemerintahan Presiden Donald Trump belum berhasil memenuhi janji untuk membuat kebutuhan hidup lebih terjangkau.
Ketidakpuasan tersebut antara lain dipengaruhi kenaikan harga konsumen pada kuartal III yang mencapai 3,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Salah satu faktor pendorongnya adalah tingginya harga bahan bakar setelah keputusan Trump membawa AS berkonflik dengan Iran.
Tekanan biaya hidup juga membuat masyarakat mulai menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tingkat tabungan rumah tangga tercatat hanya 4,1% dari pendapatan setelah pajak pada kuartal III, menjadi yang terendah dalam hampir empat tahun terakhir.
Kepala Ekonom KPMG, Diane Swonk, mengatakan pertumbuhan ekonomi yang positif belum sepenuhnya menggambarkan kondisi riil masyarakat AS.
"Data ekonomi merupakan sesuatu yang patut dirayakan, tetapi terlihat lebih baik di atas kertas dibandingkan dengan yang dirasakan sebagian besar masyarakat Amerika," kata Swonk, dikutip dari The New York Times, Jumat (30/10/2026).
Menurutnya, manfaat pertumbuhan ekonomi belum dirasakan secara merata. Rumah tangga berpenghasilan tinggi memperoleh keuntungan dari kenaikan nilai saham, sementara upah riil justru mengalami penurunan selama setahun terakhir.
Inflasi Masih Membayangi Pertumbuhan Ekonomi
Masyarakat AS sejauh ini belum mengurangi pengeluaran meskipun menghadapi tekanan inflasi. Kondisi tersebut membantu menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi sekaligus berpotensi membuat inflasi bertahan karena perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen.
Kepala Ekonom AS Bank of America, Aditya Bhave, menilai perekonomian AS memang sedang tumbuh kuat, tetapi inflasi tetap menjadi tantangan utama.
"Ini adalah perekonomian yang sedang tumbuh pesat. Itu kabar baiknya. Kabar buruknya, inflasi merupakan harga yang harus kita bayar untuk pertumbuhan ekonomi yang kuat tersebut," ujarnya.
Investasi AI Jadi Motor Utama Ekonomi AS
Di luar konsumsi rumah tangga, investasi AI menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi AS. Perusahaan-perusahaan menggelontorkan ratusan miliar dolar AS untuk membangun pusat data (data center) dan berbagai infrastruktur pendukung sepanjang tahun ini. Bahkan, investasi senilai triliunan dolar AS telah direncanakan hingga 2030.
Dampaknya tidak hanya dirasakan produsen cip dan peralatan komputer, tetapi juga perusahaan lain yang terlibat dalam rantai pasok pembangunan pusat data.
Investasi perusahaan pada peralatan meningkat 20,9% secara tahunan pada kuartal III. Sementara itu, total investasi bisnis tumbuh 12,7% dan menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan PDB.
Meski demikian, tidak seluruh sektor menikmati dampak positif dari ekspansi investasi tersebut. Pasar perumahan masih mengalami pelemahan akibat tingginya suku bunga. Investasi residensial, termasuk pembangunan rumah, bahkan mengalami kontraksi untuk keenam kalinya dalam tujuh kuartal terakhir.
Kepala Ekonom Associated Builders and Contractors, Anirban Basu, menilai lonjakan pembangunan pusat data telah memberikan pengaruh besar terhadap aktivitas ekonomi.
"Jika bukan karena AI, kita mungkin akan membicarakan kondisi ekonomi, pasar saham, dan industri konstruksi yang sangat berbeda," kata Basu.
Ketergantungan pada Investasi AI Menyimpan Risiko
Di balik besarnya investasi AI, terdapat sejumlah tantangan yang mulai muncul. Perusahaan konstruksi berskala kecil, misalnya, menghadapi kesulitan mendapatkan kontrak pembangunan pusat data. Mereka juga harus bersaing mendapatkan tenaga kerja terampil karena proyek AI menawarkan upah yang tinggi.
Lonjakan investasi AI turut mendorong kenaikan harga saham perusahaan teknologi. Peningkatan nilai saham tersebut kemudian menopang belanja konsumen, terutama dari kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi.
Kepala Ekonom AS di Morgan Stanley, Michael Gapen, mengatakan ketahanan ekonomi AS saat ini berkaitan erat dengan investasi AI, pasar saham, dan daya beli kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi.
Namun, ketergantungan terhadap investasi AI juga menyimpan risiko apabila lonjakan belanja perusahaan mulai melemah. Dalam beberapa pekan terakhir, investor mulai mempertanyakan apakah besarnya pengeluaran untuk membangun infrastruktur AI mampu menghasilkan keuntungan sesuai harapan.
Selain itu, penolakan masyarakat di sejumlah wilayah AS menyebabkan beberapa proyek pembangunan pusat data mengalami penundaan hingga pembatalan.
Kepala Staf Stanford Institute for Economic Policy Research, Ryan Cummings, menilai kondisi ekonomi AS masih rentan karena sebagian kekuatan belanja konsumen bergantung pada kenaikan pasar saham.
Meski demikian, sejumlah ekonom tetap optimistis terhadap prospek ekonomi AS. Permintaan terhadap infrastruktur AI dinilai masih berpotensi meningkat. Di sisi lain, tingkat pengangguran yang rendah memungkinkan masyarakat mempertahankan pengeluaran.
"Kemampuan masyarakat AS untuk terus berbelanja tidak boleh diremehkan selama mereka masih memiliki pekerjaan," pungkas Aditya Bhave. (Lip6)
Berita Terkait











































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda