Breaking News
Memuat breaking news...

BPS Mencatat 7,7 Juta Pekerja Indonesia Jadi Komuter

Redaksi
Redaksi
Selasa, 28 Juli 2026 - 7.54 AM WIB
BPS Mencatat 7,7 Juta Pekerja Indonesia Jadi Komuter
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 7,7 juta pekerja di Indonesia berstatus sebagai pekerja komuter pada 2025. Jumlah tersebut setara dengan 5,2% dari total tenaga kerja nasional yang setiap hari melakukan perjalanan pulang-pergi lintas kabupaten atau kota menuju tempat kerja.

Berdasarkan publikasi BPS bertajuk Analisis Mobilitas Tenaga Kerja Hasil Sakernas 2025, pekerja komuter merupakan mereka yang bekerja di luar kabupaten atau kota tempat tinggal dan kembali ke rumah pada hari yang sama.

Mobilitas pekerja komuter masih terkonsentrasi di Kawasan Barat Indonesia. Sekitar 90% pekerja komuter berada di Sumatera, Jawa, dan Bali, sementara tiga dari empat pekerja komuter secara nasional berada di Pulau Jawa.

Menurut BPS, tingginya konsentrasi tersebut dipengaruhi oleh besarnya aktivitas ekonomi dan jumlah penduduk bekerja di wilayah tersebut. Pusat-pusat lapangan kerja yang berada di kota besar, sementara kawasan permukiman berkembang di daerah sekitarnya, turut mendorong tingginya mobilitas tenaga kerja antardaerah.

Meski jumlahnya mencapai jutaan orang, pekerja komuter masih menjadi kelompok minoritas. Sebanyak 138,8 juta orang atau sekitar 94,8% pekerja di Indonesia masih tergolong sebagai pekerja nonkomuter.

Jawa Barat Terbanyak

Berdasarkan provinsi, Jawa Barat menjadi daerah dengan jumlah pekerja komuter terbesar, yakni sekitar 1,89 juta orang atau 7,7% dari total pekerja di provinsi tersebut.

Posisi berikutnya ditempati Jawa Tengah dengan sekitar 1,15 juta pekerja komuter, disusul Jawa Timur sebanyak 941,5 ribu orang, DKI Jakarta 885,9 ribu orang, dan Banten 565,3 ribu orang.

Namun jika dilihat dari persentasenya terhadap total pekerja di masing-masing provinsi, DKI Jakarta menempati posisi tertinggi dengan 17,3% pekerjanya merupakan komuter. Selanjutnya DI Yogyakarta sebesar 13,1%, Banten 9,8%, Bali 9,1%, dan Jawa Barat 7,7%.

BPS menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingginya intensitas pekerja komuter tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya jumlah pekerja, tetapi juga karakter wilayah, aglomerasi ekonomi, serta keterhubungan antara kawasan permukiman dan pusat kegiatan ekonomi.

Di tingkat kabupaten/kota, daerah asal pekerja komuter umumnya berasal dari kawasan penyangga metropolitan seperti Depok, Bekasi, Bogor, dan Tangerang. Sementara tujuan utama mereka adalah pusat-pusat ekonomi seperti Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Surabaya, Bandung, Medan, dan Semarang.

BPS juga mencatat mayoritas pekerja komuter bekerja di sektor formal. Secara nasional, sebanyak 82,3% pekerja komuter berada di sektor formal, sedangkan hanya 17,7% yang bekerja di sektor informal.

Dominasi pekerja formal mencerminkan bahwa mobilitas komuter erat kaitannya dengan kawasan perkantoran, industri, perdagangan, dan jasa yang memiliki lokasi kerja tetap serta pola kerja yang teratur.

DKI Jakarta menjadi provinsi dengan proporsi pekerja komuter formal tertinggi, yakni 92,9%. Disusul Banten 88%, Kepulauan Riau 86,6%, serta Jawa Barat dan Kalimantan Barat yang masing-masing mencapai 85,4%.

Selain itu, pekerja komuter di Indonesia juga didominasi oleh lulusan SMA hingga perguruan tinggi. Menurut BPS, kondisi ini berkaitan dengan tingginya kebutuhan tenaga kerja berpendidikan di sektor formal, jasa, administrasi, perdagangan modern, dan berbagai aktivitas ekonomi perkotaan.

Dalam satu dekade terakhir, jumlah pekerja komuter menunjukkan tren yang fluktuatif. Dari 7,1 juta orang pada 2016, jumlahnya meningkat menjadi 8,9 juta pada 2019. Angka tersebut sempat turun menjadi 7 juta orang pada 2020 akibat pandemi, sebelum kembali meningkat menjadi 7,6 juta pada 2024 dan mencapai 7,7 juta pekerja pada 2025. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement